Rss Feed

Celebrating New Year 2011 - Eve's version


Check sound... Ngantor setengah hari... Makan siang... Rokok... Ganti kostum... Ketiduran... Lari ke panggung... Sing I'm Yours for Minesweeper... Sing Long Train Running for Minesweeper... Nongkrong di sporthall with Deformed band... Makan sate dari panitia dengan secuil lontong dan bumbu terlampau encer... Ngobrol ngalor ngidul... Sing Kamu Harus Pulang for Minesweeper... Ganti baju kilat... Put a superblack eyeliner on... Sing Terbang for Deformed... Sing The Path to Decay for Deformed... Evaluasi performance Deformed di sporthall... Jadi kelaperan setelah teriak-teriak... Ngiter-ngiter bersama di stand mencari makanan hangat... Lesehan menikmati coto makasar... Mojok bersama pria-pria sangar dan menikmati alkohol yang digilir dalam takaran naik turun dari bandar yang tidak akurat *ampun nyit*... Get high... Get out and watch the fireworks... Raise hands up high to the sky as the flares exploded... Shout hell yeaaahh welcoming a whole new year... Memejamkan mata sejenak dan berdoa semoga semua kesedihan ikut berlalu seiring bergantinya tahun... Laugh out very loud menyaksikan cakrek dengan rambut gondrong dan dandanan super gaharnya berjoget koplo sendiri bagai tak sadar dunia... Sesekali berjoget kecil bersama dalam lingkaran selagi sang diva dangdut bernyanyi dengan binal di panggung... Nongkrong di honai, then drink more and more and more... Exhausted and fell asleep... Dibangunkan dan digiring pulang... Oleng... Terkapar di kasur right away... Get up and jackpot!!!!!


*thanks guys, you really made my day, definitely one day I am needing to get loose :) 

Malaikat Kecil


Untuk kawan yang tengah berduka, yang terluka tapi tetap menegakkan kepala, yang pasrah tapi tetap merasa tiada berhak untuk menggugat Yang Kuasa, yang kedua malaikat kecilnya telah terbang ke surga dan menjaga para keluarga..

Semoga simpati tak seberapa kami akan mengantar restu jiwa, semoga belasungkawa tak terkata ini bisa memberi sedikit kekuatan untuk menjaga, semoga meski alpa kami disana, meski hanya bisa mengirim kata-kata, tak kurang jua kami mengirim doa, agar terpetik sebuah hikmah, untuk kedua malaikat kecil agar tenang di atas sana...


*untuk mas Putut, istri tercinta, dan kedua malaikat kecilnya.

Balada Gadis Insom














Hai angin yang membelai malam, 
Nyanyikan aku nina bobo dunia, giring diriku pada kantuk mata, padamkan bara, tiupkan mimpi indah, agar terlelap raga..

Hai bulan setengah penuh, 
Temani aku bersyukur akan hari ini. Untuk tiap hembus nafas. Untuk tiap jejak langkah. Untuk tiap tapak yang memberi pelajaran berharga. Untuk tiap gelak tawa. Untuk tiap tetes air mata yang memberi hikmah. Untuk tiap kasih sayang dari dunia. Untuk tiap kebencian yang memberi warna..

Hai bintang angkasa, 
Sampaikan doaku untuk kedua orang tua yang tak henti merestu. Untuk adik-adik kecil agar diberkahi ilmu. Untuk kekasih yang mencinta tak kenal waktu. Untuk kawan yang setia disampingku. Untuk para guru. Untuk semua orang tersayang dalam hidupku..

Hai tembang malam, 
Bantu aku mengenyahkan semua keresahan. Akan beban pekerjaan. Akan segala pertengkaran. Akan problem tak terselesaikan. Akan kata yang menyakitkan. Akan jiwa yang mendendam. Akan batin yang kelelahan..

Hai malam panjang, 
Nyanyikan aku nina bobo dunia, giring diriku pada kantuk mata, padamkan bara, tiupkan mimpi indah, agar terlelap jiwa..




*Dear God, please heal this insomnia...

Tentang Penulis


Akhir-akhir ini, aku rindu menulis lagi. I mean, menulis serius atau menulis karya tulis atau karya ilmiah, yang dulu rutin dilakukan semasa kuliah. Meskipun dulu menulis dengan iming-iming uang (mostly, tapi tidak semua, hohoho), tapi setidaknya masih bisa produktif dan me-maintain hasrat menulis. Waktu tak sengaja beres-beres laptop, kubaca lagi paper-paper tersebut dan ternyata,, damn I was good at it! :). Ini mungkin yang paling membanggakan: http://us.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/26/time/014425/idnews/821653/idkanal/10

Sepertinya sejak aku kerja (yang berarti hampir genap 3 tahun), tak satupun karya tulis yang kuhasilkan alias nihil T__T. Benar-benar mati suri. Kalau boleh beralasan, tentu rutinitas kerjalah yang akan kujadikan tameng. Tapi tentu alasan ini akan dengan mudah dipatahkan oleh pertanyaan: Kalau begitu kenapa Anda masih punya cukup waktu untuk bermain game hampir 2 jam setiap harinya? Hahahaha.. (miris).

Sebenarnya kalau dilihat-lihat lagi, aku tak sepenuhnya gantung pena (Terpikir apakah ungkapan ini masih tepat? Secara menulis jaman sekarang tak lagi pakai pena. Ataukah gantung laptop? Kenapa harus digantung? Crap, gak penting!). Aku masih menulis sesekali, tapi tulisan yang jauh dari ilmiah. Akhir-akhir ini aku lebih sering menulis curahan hati atau lirik lagu. Mellow sekali. Dan aku tak tahu kenapa. Apakah karena faktor umur? Hahaha.

Mungkin karena aku ini penulis faktual. Tipe penulis yang sangat mengagungkan realita. Apa yang kurasakan itulah yang kutulis. Apa yang kuhadapi, itulah yang kutulis. Sebab itu jugalah, aku tak pernah bisa menulis cerita fiksi, cerpen sependek apapun. Tapi ingin rasanya kembali terjun ke dunia tulis menulis yang scientific. Menemukan masalah, mencari akarnya, mengumpulkan data, menganalisa, dan memecahkan masalah. Ohhh, betapa sebagian diriku menemukan kecintaan mendalam pada hal tersebut, meskipun sebagian lainnya sering mencari justifikasi untuk melupakannya...

Masterpiece of Pram


Dari jutaan buku yang telah kubaca seumur hidupku, banyak yang meninggalkan jejak yang membekas dalam. Beberapa meninggalkan mimpi. Beberapa meninggalkan suri tauladan. Beberapa meninggalkan hikmah tiada tara. Beberapa meninggalkan imaji yang bertualang di ranah tak terbayang. Beberapa hanya meninggalkan kesenangan. Tapi tak ada yang meninggalkan semuanya sekaligus, seperti yang kudapat di buku-buku Pramoedya Ananta Toer.

Ia hanya buku tua yang kubaca setengah-setengah dari zaman kuliah, hanya buku untuk menemani saat berjamban. Kini setelah ada cukup waktu untuk mengolah kata dan kalimatnya yang berkosakata jaman baheula dan bersusun begitu rumitnya, pahamlah aku akan betapa indah isi dan tinggi nilai buku ini. Tak lagi heran mengapa begitu tinggi frekuensi ia dibahas di forum humanitas, begitu banyak penghargaan yang didapat dari seantero negeri. Ia menawarkan tak hanya kisah anak manusia, tapi juga idealisme yang tidak biasa. Beberapa kalimat pendeknya bahkan terus terngiang di kepala sampai sekarang.

Dari semuanya yang paling berkesan mungkin adalah kalimatnya bahwa seorang terpelajar haruslah bersikap adil sejak dari pikiran. Kata-kata ini begitu dalamnya hingga membuat aku terhenyak di titik jeda kalimat itu. Terhenyak dan membenarkan, mengiyakan dalam-dalam. Tak pernah aku berpikir sejauh itu, meresapi makna pendidikan sedalam itu. Dan kiranya sudah sepantasnya aku dan mungkin kita semua, malu akan anjuran tersebut. Sudahkah aku, sudahkah kamu, sudahkah kita menghormati ilmu yang kita punya dengan menerapkannya, tidak hanya lewat berbuat, tapi juga berpikir? Kita yang diberi kesempatan menimba ilmu, memperoleh ilmu pengetahuan, dan setelah tahu kita yang baik dan yang salah, masih jua berbuat tak adil?

Pram, oh Pram,, menyesal aku tak mendalami karyamu sedari dulu. Jika saja semua idealisme indah tentang ilmu pengetahuan ini kubaca semenjak duduk di bangku kuliah, mungkin aku akan menghayati setiap detik yang kutempuh untuk belajar. Mungkin aku tak akan sempat bermalas-malasan dan menganggap belajar hanya rutinitas harian yang semestinya dijalankan.

Dan teruntuk pak Pram yang sudah menutup kisah, terima kasih sudah kau dedikasikan hidupmu untuk berkarya, berkarya yang bukan sembarang karya. Ia mahakarya yang berjaya bukan karena keindahan bahasa semata, tapi karena kedalaman isinya yang menampar realita. Semoga ia selalu menggugah..

Aku, Rokok, dan Bau Tanah



Merokok sendiri di teras ini selalu membuatku merasa sendu. Dan bertanya. Bertanya kemana semua gairah dan kerinduan ini harus dilampiaskan. Bertanya mengapa hari ini kulalui dengan cara begini. Dan berpikir. Betapa seorang Eva yang selalu tertawa dan menebar ceria bisa mendadak menjadi segini rupa. 


Dan aku merasa intim. Setiap tarikan napas yang keluar serupa asap membuatku merasa syahdu. Meski sadar sepenuhnya jauh di dalam ia menggerogoti relung paru-paru, aku haturkan terima kasihku yang sedalam-dalamnya padanya. Terima kasih membuatku menyadari ada sebuah sisi di setiap kehidupan anak manusia yang tak perlu disingkap. Ia hanya perlu berdiam dan menetap di sana dan dan kau hanya perlu tahu bahwa ia ada. Tak perlu semua kebingungan yang hanya akan mendorongmu mencarinya. Tak perlu sebentuk penasaran yang hanya akan membuatmu ingin tahu. 


Aku tak pernah menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang kuutarakan. Tapi itu tak mengapa, karena aku hanya perlu tahu bahwa aku sudah bertanya. Aroma tanah yang dikirim oleh hujan akan membuatku bersyukur bahwa aku hanyalah setitik debu di semesta ini, dan sebutir debu tak perlu berpikir terlalu dalam tentang keberadaannya. Seorang debu hanya harus tahu bahwa dialah debu yang melengkapi dunia, dan dunia bukanlah dunia tanpa debu. 


Dan setengah jam berganti rupa di tempat ini selalu membuatku merasa lega. Begitu menakjubkannya kesendirian ini hingga aku tak ingin menikmatinya setiap saat. Cukup segigit, cukup setitik, cukup sebentar. Dan yang segigit, setitik, dan sebentar ini akan membantuku memahami seluruh esensi hidup yang kujalani. Untuk sesaat; aku, rokok, dan bau tanah menjelma menjadi sebuah kekuatan yang membuatku merasa menguasai dunia. Yang sebentar ini membuatku menjadi Tuhan yang berhak menentukan semuanya. Tapi ya, aku hanya perlu sebentar, karena aku harus segera menjejak tanah sebelum jatuh terlampau keras, dan hilanglah semua kenikmatan melayang. 


Dan ya, di teras selama setengah jam ini, aku, rokok, dan bau tanah menguasai dunia.


All Those Missing Stuff


You’ll never know what you got till it’s gone,,, by Anonymous


Yup, bener-bener ga tau karunia apa yang sudah kita dapat sampai semuanya mendadak hilang. Disini dan di tempat ini mungkin memang waktu yang tepat untuk belajar mensukuri semua yang kita dapat, sesepele apa pun itu.

Dulu sering banget ngeluh kalo udara lagi panas-panasnya. Disini, saat matahari seperti enggan menyapa dan satu-satunya teman yang setia adalah kabut dan asap tipis saat bibir terbuka, kau akan merindukan betapa hangatnya mentari menyengat kulit. Miss the sunshine,,,

Dulu sering menganggap tempe makanan murah yang membosankan. Disini, saat semua yang terhidang di depan mata hanya daging, steak, burger, hotdog, dan spaghetti, kau akan merindukan betapa nikmatnya tempe dan segala gorengan murahan berminyak. Miss those food,,,

Dulu sering melihat air putih tak lebih sebagai pelega dahaga biasa. Disini, saat air putih menjadi langka dan menjadi rebutan di hero, kau akan melihat aqua sebagai barang mewah. Miss the aqua,,,

Dulu sering menganggap warung dan pedagang keliling ada karena demikianlah adanya dunia. Disini, saat hero adalah satu-satunya tempat belanja dengan harga selangit, kau akan menghargai mereka yang menjaja dagangan di kaki lima. Miss those people,,,

Really need to appreciate what you got before they’re gone,,, by Eva

Belajar Tersenyum



Apakah senyum itu? Sekedar lekuk bibir yang tercipta saat hati gembira. Tapi disini senyum juga memberimu teman, senyum menenangkan hati, memberimu bantuan saat kau butuhkan, dan membuat segalanya lebih indah.

Disini akan kau temukan banyak penduduk asli Papua yang berkeliaran dengan menenteng golok dan sabit. Mereka menyeringai sedih pada para pendatang karena tanahnya yang kaya dibabat habis dan engkaulah yang menikmatinya. Cobalah untuk tersenyum pada mereka dan mereka akan melihatmu sebagai teman yang berjuang hidup di negeri orang…

Disini akan kau temukan banyak pekerja yang lebih berumur bekerja sebagai bawahanmu. Mereka bekerja keras memastikan kau makan enak dan menyeberang jalan dengan aman. Mereka memungut sampahmu dan membuang tisu kotor dari toiletmu. Mereka mengepel lantai yang nantinya kau injak lagi dan mencuci piringmu yang nantinya kau kotori lagi. Cobalah untuk tersenyum pada mereka dan mereka akan memandangmu sebagai orang yang menghargai kerja keras mereka…

Disini akan kau temukan pria-pria dengan tatapan liar yang siap menelanmu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mereka haus akan pemandangan indah dan telah muak akan bau oli dan bising mesin. Cobalah untuk tersenyum pada mereka dan mereka akan menghormatimu sebagai wanita bermartabat dan bukannya sedang jual mahal…

Disini akan kau temukan banyak pekerja lain yang juga tertatih mengejar target perusahaan. Mereka lelah dengan beban kerja yang menumpuk dan depresi terhadap muslihat di tempat kerja. Cobalah untuk tersenyum pada mereka dan mereka akan memandangmu sebagai partner kerja yang simpatik dan senasib…

Disini akan kau temukan segala kegalauan, kekecewaan, dan kesepian. Mereka mencoba menggeliat keluar dan menghantam saat kau merasa lemah. Cobalah untuk tersenyum kepada mereka dan mereka akan membuatmu sadar bahwa kau tidaklah sendiri. Cobalah untuk tetap tersenyum dan mereka akan membuatmu sadar bahwa terkadang menjadi lemah bukanlah sebuah hal yang memalukan. Cobalah untuk selalu tersenyum dan mereka akan membuatmu menjadi orang-orang kuat yang tegar menghadapi dunia.


Tersenyumlah, dan dunia akan tersenyum kepadamu,,,