Rss Feed

Expertise..

 
If you can pick a choice, being talented on one thing only but you’re damn good at it, or being such a real multitalented person but no one thing you are expert in, which one will you choose?

Saya, merasakan sendiri menjadi orang jenis kedua itu. Saya bisa melakukan hampir segala jenis.

Saya bisa bermain gitar… Saya bisa bernyanyi dengan sangat baik... Saya pernah setahun belajar bermain piano dan keyboard... Saya bisa memainkan harmonika, rekorder, dan suling… Saya pernah bergabung dalam tim marching band memainkan snare drum…

Saya bisa bermain voli... Saya masih bermain basket dengan rutin... Saya pernah menjuarai turnamen squash... Saya dulu sering main tennis meja kala kuliah... Saya bisa melakukan wall climbing dengan cukup baik... Saya pernah rutin melakukan aerobik... Saya bermain bulutangkis sejak kecil... Saya sempat belajar tennis lapangan... Terkadang saya juga bermain futsal, fitness, dan jogging...

Di waktu senggang saya bermain DoTA... Saya kini bisa memasak dengan cukup baik... Saya pernah mengalahkan para pria di turnamen air soft gun... Saya bisa bermain kartu dan bridge... Saya bisa bermain billiard... Saya bisa bermain catur... Saya mengerti dasar dan basic fotografi... Saya menikmati snorkling di kala libur... Saya cukup mahir melakukan diving...

Saya bisa menari dengan baik, tari tradisional, sedikit balet, dan tari kontemporer... Semasa kuliah saya aktif melukis untuk konsumsi sendiri... Saya sempat mencari duit dengan mengikuti lomba menulis... Sejak kecil saya mencintai karya tulis ilmiah dan statistik… Saya seringkali menjuarai lomba mengarang prosa dan puisi…

Dulu semasa sekolah nilai saya selalu memuaskan di semua bidang pelajaran, dari sains, sosial, dan olahraga… Semasa kuliah saya mengambil jurusan teknik industri dimana saya belajar semua aspek mulai dari ekonomi, mesin, fisika, statistik, psikologi, bisnis, komputer... Setelah lulus saya bekerja di konstruksi dimana saya mendalami civil, machine, piping, dan listrik...

Well, there’s nothing that I can’t do apparently. Tapi sebenarnya, tak ada sama sekali bidang di atas yang benar-benar saya tekuni hingga menjadi expert. Dan kalau ditanya apa bakatmu sebenarnya, saya justru tak bisa menjawab sama sekali. Saya ini tipe orang yang suka belajar, I guess. Saya menikmati proses belajar dan mendalami hal-hal baru. Saya selalu antusias menemukan hal-hal yang unik dan baru. Tapi setelah saya bisa melakukan sesuatu, antusiasme ini hilang. Saya tak lagi tertarik mendalami. Saya tak lagi menemukan tantangan.

Tapi katanya, orang sukses adalah orang yang mencintai dan bisa mendalami suatu bidang sampai mahir. Dan bahwa kemampuan yang setengah-setengah tak akan membawa kita kemana-mana, atau ke pencapaian yang luar biasa. Saya sendiri selalu penasaran bagaimana rasanya bisa benar-benar mahir dalam sesuatu. Yang jadi pakar, ahli, dan master, yang jadi tempat belajar dan bertanya orang-orang. How is it like? Pasti gagah jika diundang berbicara di seminar membawakan satu bidang expertise.

Dan heyyy, coba perhatikan di reality contest yang banyak di TV saat ini. Apakah mereka yang menang American Idol dan sukses jadi penyanyi adalah orang yang hanya setengah mampu bernyanyi? Tidak, mereka bernyanyi dengan spektakuler. Apakah mereka yang memenangkan Masterchef adalah mereka yang diwaktu belajar memasak setengah-setengah? Tentu tidak, memasak adalah passion terdalam dan cita-cita mereka. Apakah mereka yang memenangkan Got to Dance adalah orang yang belajar menari dengan setengah-setengah? Sama sekali tidak, mereka mencintai, mendalami, berlatih, berlatih, dan berlatih. Apakah juri dan penonton peduli misalnya, jika ada peserta Masterchef yang selain bisa memasak juga bisa menyanyi dan menari? I dont think so. Yang mereka mau lihat adalah peserta yang memasak dengan dashyat, that’s all.

Mungkin someday, akan ada satu bidang yang kelak saya dalami. Kata orang, there must be one thing you’re good at. Doakan saja.


Teori Pertemanan..

 
Pernahkah heran, kenapa kita bisa sangat cocok dengan beberapa teman, tidak terlalu cocok tapi masih bisa menjalin persahabatan dengan beberapa teman, dan sama sekali tidak bisa berdampingan dengan beberapa teman lainnya?

Teori saya sederhana, karena kita semua berbeda. We're simply different. Diciptakan unik dengan kekhasannya. Juga kesukaan dan ketidaksukaannya. Penerimaan dan penolakannya. Dan kita semua punya rentangnya masing-masing, range of acceptance yang berbeda jenisnya, berbeda kutubnya, dan berbeda amplitudonya. Begini versi matematikanya.

Aku misalnya, punya range of acceptance yang cukup panjang, yang artinya: dapat menerima banyak tipe manusia, karakteristik orang yang berbeda-beda sebagai teman. Tidak terlalu panjang, karena saya pun tidak terlalu gampang langsung tune-in dengan kawan baru. Tapi juga tidak pendek, karena aku, secara personal, bukan tipe pemilih teman.

Jika himpunan karakteristik kawan ini berdistribusi normal, dengan kata lain sangat sedikit orang (approx.5%) yang berada di kutub esktrimnya, maka aku bisa membagi kedua kutubnya menjadi kutub (A) sifat ekstrim yang paling-akan-get-along-with-me, dan kutub (B) sifat ekstrim yang-paling-akan-saya-hindari-sebagai-teman. Dalam kasus saya, kutub (A) itu diisi oleh sifat-sifat yang merupakan value saya: jujur, dapat dipercaya, tidak ikut campur. Sedangkan di kutub (B) diisi oleh sifat-sifat yang merupakan pelanggar prinsip pertemanan, dalam kasus saya adalah para penjilat, dan backstabber.

Teori saya, isi kutub B tidak selalu oposisi kutub A. Sifat-sifat negasi A, selama tidak sama dengan B, masih dapat diterima karena masih berada dalam range of acceptance. Karena karakteristik seorang manusia mencakup berbagai jenis sifat yang complicated, maka mari kita simplify aturannya seperti ini.
  1. Seseorang dinyatakan tidak acceptable sebagai teman bila ada minimal satu sifatnya yang berada di kutub B.
  2. Sifat seseorang dikatakan acceptable sebagai teman bila tidak ada satu pun sifatnya yang berada di kutub B.
  3. Seseorang dinyatakan makin besar probabilitasnya menjadi teman baik, bila semakin banyak sifatnya yang berada di kutub A.
  4. Bila dalam kasus langka, dimana seseorang memiliki sifat di kutub A namun juga memiliki sifat di kutub B, maka mari kita sepakati bahwa kutub B akan memiliki daya tolak yang lebih besar dibanding daya tarik kutub B, maka sebagai konklusinya, kembali ke poin 1.
Begini versi grafiknya. 
Kurva Normal Prinsip Pertemanan - my version

Dan begitulah. Everyone is simply different. Tak perlu memaksakan jadi teman seseorang, atau jadi teman baik seseorang. Kita semua punya kompatibilitasnya masing-masing.


*Inspired by a backstabber friend, who indeed, reminds me that for me, some principles in friendship do exist.
*Heyyy, my statistical mind is back! Ohh how I missed analytical research..

If Life Is As Free As Hadza

Freedom, kalau kata wikipedia adalah free will, the ability to make choices. Freedom, seringkali diartikan sebagai kebebasan dari segala bentuk penjajahan, tapi dalam hidup manusia sekarang ini, bagian mana yang tidak bisa disebut penjajahan? Tak ada manusia yang bisa hidup sebebas yang mereka mau, karena suka tidak suka, kita hidup dalam aturan, dalam norma, dalam hukum yang mengungkung kita.

Dalam pelajaran PPKn semasa SD dulu, ada kalimat yang lazim: Jangan sampai kebebasan kita mengganggu kebebasan orang lain. Katanya, kita bebas mendengarkan musik sesuai selera kita, tapi jangan terlalu kencang hingga mengganggu tetangga. Lalu kalau begitu, apa kita masih bisa dibilang bebas? Apa ini bentuk kebebasan yang paling kita inginkan - kebebasan yang tidak terlalu bebas?

Sekarang coba tengok hidup ala suku Hadza berikut. http://nationalgeographic.co.id/featurepage/118/orang-orang-hadza/1

Orang-orang Hadza, taken from NGI

Bayangkan kehidupan mereka. Imagine living the way they live. Kata saya, ini mungkin salah satu bentuk kebebasan yang paling absolut yang ada di dunia saat ini. Saya sepakat dengan Michael Finkel, sang reporter yang bilang "Beberapa hal dari suku Hadza membuat saya iri, terutama kebebasannya yang saya lihat. Bebas dari keinginan untuk memiliki. Bebas dari sebagian besar tugas sosial. Bebas dari aturan keagamaan. Bebas dari banyak tanggung jawab keluarga. Bebas dari jadwal, pekerjaan, atasan yang menuntut, tagihan, kemacetan lalu lintas, pajak, hukum, berita, dan uang. Bebas dari rasa cemas. Bebas untuk kentut dan bersendawa tanpa harus minta maaf."

Do you feel like wanting such kind of life? I do. Khususnya untuk orang-orang yang benci dikekang seperti saya, hidup seperti ini pasti seperti hidup di surga. Free, as free as the most free we can be. Tapi kalau ditawarkan, untuk hidup seperti ini, will you?

Siapkah untuk menjalani hidup yang keras dan liar, menjelajah tanpa batas hanya untuk mencari makanan? Siapkah untuk meninggalkan semua hal-hal duniawi, target-target, dan keinginan manusia pada umumnya, which we used to have? Siapkah melepaskan keluarga, pekerjaan, agama, dan segala bentuk pengekangan?

Nyatanya, saya tidak siap. Kebebasan absolut yang menggiurkan itu ternyata harus diganjar dengan banyak sekali perubahan besar dalam hidup. Kita yang telah terbiasa berada dalam lingkungan bebas-yang-tidak-sebebas-bebasnya kemungkinan besar tidak akan sanggup menjalaninya. Kita, in fact, memang membutuhkan aturan, norma, dan hukum, sebagian karena kita secara harfiah memang membutuhkannya, dan sebagian karena kita telah terbiasa hidup dengannya.


PS: Imagining living the way they life is pleasant enough anyway :)

Menang..

Apakah makna kemenangan itu sesungguhnya? Kalau menang hanya untuk membanggakan diri sendiri, kalau hanya untuk mengangkat nama baik, bisakah ia disebut menang sejati?

Sepenting apakah untuk menang? Kalau menang menjadi tujuan utama hingga kita menghamba padanya, kalau setelah menang kita ternyata tak bahagia, masih pentingkah menang kalau ia tak hakiki?

Seberapa keras kita perlu berusaha untuk menang? Kalau untuk menang menghalalkan segala cara, kalau demi menang kita tak lagi menikmati prosesnya, masih wajarkah usaha yang dilakukan untuk menang?

Apa yang kita lihat dari sebuah kemenangan? Kejayaan, keagungan, kepuasan, dan kebanggaan? Hadiah, reward, ganjaran, ketenaran? Atau kematangan, hasil dari proses, pembelajaran, dan latihan? Yang mana sebenarnya motivasi utama kita?

Bisakah kita melihat perbedaan tipis antara kebahagiaan karena memenangkan dan kebahagiaan karena mengalahkan?

Bisakah kita berbesar hati atas kemenangan orang lain? Bisakah kita menerima kenyataan bahwa kita tak sebaik dan setangguh lawan? Bisakah kita menegakkan kepala dan menjabat tangan mereka? Atau justru memupuk kesumat dan ke-tak-terima-an.

...

Karena seharusnya menang itu datangnya dari hati. Karena hanya kejujuran yang menjadikan kita pemenang sejati.

my squash medal
*diinspirasi oleh olimpiade freeport

Derita Wanita

Semenjak sakit menstruasi saya semakin menjadi-jadi dari hari ke hari, saya tahu ada yang tidak beres. Hanya saya tak tahu apa. Bila sedang banyak-banyaknya, saya benar-benar tidak berdaya, kesakitan dan meringkuk, dan ini jelas-jelas mengganggu pekerjaan, khususnya bila sedang harus berada di lapangan.

Itulah sebabnya, demi mencari ketenangan, saya khususkan mengambil hari cuti ke Bandung dan Jakarta untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Saya coba riset dan mendapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter terbaik ibukota.

Kunjungan pertama saya adalah ke RS M di Bandung yang konon rumah sakit ibu dan anak terbaik di sini, tentunya dengan ongkos paling mahal. Dokternya seorang wanita chinese, masih muda sekitar 30-an, berbicara cepat dan nampak terburu-buru, hanya menggunakan legging dan terus membentak-bentak asistennya di depan para pasien. Setelah USG singkat, tanpa tedeng aling-aling beliau memvonis saya menderita endometriosis (adalah: jaringan yang semestinya terletak di dalam (endo) rahim (metrium), tumbuh di tempat lain seperti pada lapisan otot rahim, luar rahim, saluran telur, ovarium, usus, kulit, dll. Jaringan yang terletak di luar tempat yang semestinya tersebut, tetap berfungsi dan berkembang sesuai fluktuasi hormonal dari siklus haid. Hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri yang hebat saat haid, dan jumlah darah menstruasi lebih dari biasanya. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/06/wanita-dan-endometriosis)



Saya yang lugu dan katrok ini kontan bertanya, apa itu endometriosis. Jawaban beliau hanya menunjukkan sebuah gambar di meja. Katanya, ini gambar posisi sel telur yang benar, punya kamu gak disini. Dengan masih terbingung-bingung, saya tanya lagi, jadi saya harus apa? Dia bilang dengan sedikit ketus, kalau mau sembuh ya operasi, tapi 20 juta, sanggup? DAMN,,, saya langsung meninggalkan ruangan tanpa menengok ke belakang bahkan untuk bilang terima kasih.

Honestly, batin saya sebagai seorang pasien terluka. Satu, beliau tidak menunjukkan respek kepada pasiennya, dengan caranya berbusana yang tidak proper, dan dengan caranya membentak asistennya sehingga membuat pasiennya tak enak hati. Dua, beliau bahkan tidak menunjukkan simpati pada derita pasiennya, I guess she just didn’t care. Tiga, beliau sungguh tak memberikan penjelasan yang cukup yang dibutuhkan pasiennya. Dan yang keempat, beliau terlalu money-oriented, dalam kadar yang sudah akut, dan tidak malu menunjukkan pada pasiennya. Shame on her..

Tak puas dengan konsultasi pertama, saya ke RS T, masih di Bandung, sebuah rumah sakit ibu dan anak yang sudah tua, sederhana, tapi sudah memiliki nama besar di sini. Jangan samakan gedungnya dengan RS M yang mewah dan bertingkat. Saya bertemu seorang ibu yang sudah tua, bicara dengan sangat pelan dan ngemong, and I felt like talking with my mom. Setelah USG (yang tidak terburu-buru), beliau mendiagnosa saya memiliki kemungkinan endometriosis bila melihat dari gejalanya, tapi beliau berkata terus terang bahwa beliau tidak bisa melihatnya di USG. Saya diminta untuk tes darah untuk memastikan, dan ternyata hasilnya positif. Beliau tidak merekomendasikan saya melakukan apa-apa, hanya meminta saya untuk minum obat yang diresepkan yang semoga dapat mengurangi gejala sakitnya. Oke, dokter ini jelas lebih baik dari dokter sebelumnya, tapi honestly, saya belum puas.

Penjelajahan saya mencari dokter kandungan yang dapat diandalkan akhirnya berakhir di Jakarta, di RS daerah Menteng. Dokter ini rekomendasi dari seorang kawan yang istrinya langganan berkonsultasi di sana. Sebenarnya spesialisasinya adalah dalam hal fertilitas, tapi katanya beliau benar-benar dokter yang menenangkan hati, so there I go, with last hopes. Beliau seorang pria umur 40-an, nampak pandai dan bijak, mendengarkan semua keluhan dengan tenang, dan mencatatnya. And thank God, inilah dokter yang saya cari-cari dari awal.

Konsultasi ini berjalan sangat lama, nyaris setengah jam, tapi semua pertanyaan saya terjawab dengan memuaskan. Dengan kecermatan tingkat tinggi, beliau menunjukkan hasil USG bahwa saya memang menderita endometriosis, tepatnya sepanjang 4cm dan berlokasi di usus besar. Itulah sebabnya menstruasi sangat menyiksa karena darah yang keluar sangat banyak, dan bila buang air besar perut seperti melilit dan sakit luar biasa.

Beliau lalu memberikan beberapa alternatif penyembuhan. Yang pertama adalah dengan kehamilan, yang secara natural akan menggugurkan sel telur abnormalnya, meskipun endometrium ini justru membuat persentase fertilitas saya menurun drastis. Kedua dengan laparoskopi, semacam operasi kecil untuk menguret sel telur di lokasi yang abnormal, yang tidak beliau rekomendasikan. Ketiga dengan hamil buatan, yaitu dengan suntikan di perut yang akan menghentikan menstruasi selama 3 bulan sehingga diharapkan sel telur abnormal akan gugur sendirinya, hanya efek sampingnya akan mengalami gejala menopause seperti wajah panas, flushing, pusing, muntah, dll. Meskipun pada akhirnya saya tidak dapat menentukan treatment apa yang akan saya pilih, saya benar-benar puas dengan semua penjelasan dan alternatif yang diberikan.

…

Selang 9 bulan setelah berkonsultasi, saya masih saja belum mengambil keputusan untuk treatment yang akan saya jalani. Saya masih menderita setiap bulannya. Tanggal menstruasi masih seperti neraka bagi saya. Dan yang paling menyedihkan, saya banyak melewatkan momen-momen penting karena sakit menstruasi yang tak tertahankan.

Yang pertama saya melewatkan pendakian ke Cartenz, Jayawijaya. Berbulan-bulan lamanya persiapan dilakukan, latihan fisik dengan jalan dan mendaki sejauh 4 mil setiap minggu, sampai persiapan pakaian dan equipment pendakian yang pinjam sana-sini. Sempat merasa sangat excited, sampai malamnya tamu bulanan itu datang. Saya terkapar dan memutuskan untuk tidak berangkat, daripada pada akhirnya malah menyusahkan rekan-rekan sependakian.

Baru-baru ini hal yang sama terulang lagi. Dua minggu lamanya saya mempersiapkan diri untuk turnamen wall climbing. Tepat pada hari-H, rasa sakit itu menyiksa hingga nyaris semaput dan tak bisa kemana-mana.

...

Saya tak bisa begini terus. Saya tak bisa terus melewatkan momen penting hanya karena PMS. Mungkin sudah waktunya untuk memikirkan lagi alternatif penyembuhan yang pernah ditawarkan. Derita wanita, ohh sedihnya…

Filosofi Luka..


Beberapa orang tersakiti dan memasrahkan semuanya. Karena yakin memang demikianlah hidup adanya. Sakit adalah bagian dari hidup yang tak terpisahkan, tak satupun bisa menghindar daripadanya. Yakin bahwa suatu saat semuanya akan terbalas, atau tak terbalas, tapi hanya itu, tak lebih tak kurang. Biarkan semuanya diatur  oleh Yang Maha Mendalangi Hidup. Percaya bahwa tak ada sakit yang tak sembuh, tak ada badai yang tak berlalu.

Beberapa orang yang tersakiti merasa perlu menyakiti kembali. Dengan demikian ia merasa impas sakitnya. Dengan demikian akan terasa lebih adil baginya. Betapa menyenangkannya mengetahui bahwa semua orang sebenarnya punya kapabilitas yang sama dalam menyakiti. Meski tahu bahwa faktanya tak ada hal yang benar-benar berubah, tak ada yang benar-benar jadi lebih baik, pun tak juga luka itu akan lebih cepat sembuh. Kenyataannya adalah, luka itu jadi terasa tak lebih sakit, karena orang di sekitar pun merasa sakit yang sama. Ia kebahagian semu semata. Jadi, untuk apa?


Beberapa orang membiarkan lukanya disembuhkan. Oleh mekanisme alami hati manusia yang dinamis, oleh waktu yang maha berkuasa mengubur semuanya, oleh keyakinan pada apa yang kita sebut takdir. Beberapa yang lain hanya membuatnya lebih parah dengan memupuk dendam. Tapi kenyataannya, semua luka punya penyembuhnya sendiri. Tak ada sakit tanpa obat. Kita hanya perlu percaya bahwa sang penyembuh itu, akan datang sendiri nanti. Kita tak perlu tahu kapan, dimana, oleh apa, oleh siapa. Hanya perlu yakin bahwa ia nyata. Sang penyembuh itu ada.


Beberapa luka sembuh dengan cepat, beberapa makan waktu yang tak sebentar. Beberapa luka sanggup menghilang tanpa bekas, beberapa meninggalkan carut yang tak hilang jua. Beberapa luka mampu sembuh sendiri, beberapa butuh katalis dan bantuan dari luar. Beberapa luka meninggalkan hikmah, dan beberapa berlalu tanpa jejak. Tapi kenyataannya adalah, luka tetaplah hanya sebuah luka. Luka tak pernah hingga mencabut nyawa. Dan yakinlah apa yang tak membunuhmu pada akhirnya akan membuatmu lebih tangguh. 

Maka sapalah lukamu yang paling menyakitkan, rangkullah lukamu yang tengah diobati, ingatlah lukamu yang telah sembuh, kenanglah bekas luka yang tertinggal disana, dan lanjutkanlah hidup..


*mungkin hanya mereka yang telah melewati serangkaian sakit dan luka, yang akan sanggup memahami dan percaya...

Things You Can't Live Without


Pernah berpikir, what you really can't live without? Hal-hal, benda-benda, yang tanpanya rasanya kita tak mungkin bertahan, yang tanpanya hidup akan terasa jauh lebih sukar? Take your time a little while, dan berpikirlah secara jernih. Some may say it's a gadget, handphone, TV, playstation, club, good movie. Tapi nyatanya aku bisa bertahan hidup tanpa itu semua (tentu saja berani ngomong begitu karena sudah pernah merasakan, hehe). Here are my version:

1) Tusuk gigi. Bener-bener item pertama yang gw cari seusai makan. Sangat amat tersiksa jika gak berhasil menemukan tusuk gigi di warung, mess, restoran. Bakal berusaha menyulap benda apapun supaya bisa difungsikan sebagai tusuk gigi, misalnya: tusuk sate, korek api kayu, cotton bud, bahkan garpu. Sebenarnya gigi sudah berlubang parah macam black hole, dan mestinya tusuk gigi sudah menjadi barang terlarang. Tapi entahlah, sensasi dari tusuk gigi tak akan bisa tergantikan, hehe. Pernah sekali dibelikan dental floss supaya jauh-jauh dari tusuk gigi, tapi malah katrok jadinya, hahaha..

2) Nasi. Seperti layaknya orang Indonesia lainnya yang sangat Indonesia, nasi is a must! Nasi harus jadi komponen utama dari tiap sarapan, makan siang, dan makan malam. Belum makan namanya kalau belum makan nasi. Gak bakal kenyang juga kalau belum makan nasi, meskipun udah makan pizza, mie ayam, bakso, gorengan, dan lain-lain. Katrok sungguh, hehe..

3) Air putih. Semenjak pernah sakit infeksi saluran ginjal dan disarankan dokter untuk banyak-banyak minum air putih, sekarang akhirnya jadi bener-bener gak bisa hidup tanpa air putih. Cuma bisa minum air putih meskipun ada coke, es jeruk, jus alpukat, dan es kelapa muda. Air putih bener-bener minuman paling nikmat sedunia. Tapi akibatnya, dehidrasi sedikit saja akhirnya bikin infeksinya kumat lagi. Huhuhu..


4) Ipod. For me, music is not everything, but really really can't live without it. Sudah pernah merasakan ipod hancur gara-gara ikut kerendem bersama cucian, keputar mesin cuci, direndam molto sampe wangi, dan akhirnya masuk mesin pengering selama sejam. Pas kantong sedang sangat kempes sehingga gak bisa beli yang baru. Rasanya,, uhhhh,, mendingan hidup tanpa pacar dibanding hidup tanpa ipod. Dan ini sama sekali gak lebay, hehe..

5) Good friends, good laughs. Tertawa adalah wajib hukumnya dalam hidup. Teman baik adalah wajib pula dalam hidup. Tertawa bersama teman baik, kalau kata saya, is like heaven. Ia obat dari segala sakit dunia. 




So, what are yours? :)

Trust..


Apa yang membedakan kawan spesial, kawan biasa, bukan-siapa-siapa, dan bahkan musuh? I guess it's a trust between.. Dan saat kepercayaan ini hilang, kawan spesial turun derajat menjadi kawan biasa, kawan biasa turun derajat menjadi bukan-siapa-siapa, yang bukan-siapa-siapa turun derajat menjadi musuh,,, dan bukannya tidak mungkin bahkan kawan spesial terjun bebas derajatnya menjadi musuh.

Aku, mungkin orang yang harus belajar banyak tentang betapa berharganya kepercayaan ini, dan bagaimana ia semestinya hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar berhak dan pantas mendapatkannya. Sungguh beberapa kejadian belakangan ini amat sangat mengecewakan jiwa yang (ternyata) terlalu murah hati dalam memberi kepercayaan ini.



Kejadian pertama melibatkan seorang kawan lama yang sudah bagaikan saudara. Pekerjaannya sebagai forex investment advisor, tugasnya kurang lebih menjadi advisor untuk client-client investor forex yang berinvestasi di perusahaannya. Kali pertama sang kawan masuk ke perusahaan ini, ia kelimpungan mencari calon-calon client potential yang bersedia mempercayakan minimal 100juta sebagai rekening pembukaan.

Dan aku seketika percaya padanya. Meskipun nominal tersebut bukan angka yang kecil adanya. Aku mempercayakan hasil keringat 2 tahun padanya, percaya pada kapabilitasnya memprediksi nilai tukar mata uang, meskipun aku tahu background pendidikannya sama sekali tak menyentuh ekonomi. Aku mempercayakan semuanya hanya bermodal fakta bahwa ia adalah seorang teman baik.

Selang beberapa bulan kemudian, kabar buruk datang. Investasi ini, rugi hingga hanya tinggal 13 juta saja. Tamatlah aku.


Kejadian kedua melibatkan seorang rekan kerja yang hendak membuka bisnis baru. Ia berniat untuk resign dan berkonsentrasi pada usaha wiraswastanya yang membutuhkan suntikan dana 20 juta. Aku sendiri termasuk tipe orang yang berpikir, untuk apa duit didiamkan saja di bank sementara ada orang yang lebih membutuhkan? Untuk apa duit menganggur kalau ada orang yang akan terbantu dengannya? Dan aku seketika merasa ingin membantu. Percaya tanpa keraguan sedikit pun, hanya bermodal fakta bahwa ia adalah rekan kerja yang sedang membutuhkan.

Selang beberapa bulan kemudian setelah ia resign, mulai tercium gelagat yang tidak enak. Tak satupun sms, telepon, BBM, dan message yang dibalas. Ia menghilang bak tersapu angin. Dan akhirnya beberapa rekan kerja yang lain mulai bercerita tentang belangnya si kawan, betapa duit tersebut ternyata digunakan untuk hal-hal yang tak pernah kusangka.


....

Mungkin sudah waktunya untuk lebih berhati-hati dalam memberi kepercayaan.When it comes to business, it's business. Aku mungkin terlalu gampang percaya, sementara tak semua mereka pantas dipercaya. Menyedihkan rasanya mengetahui, bahwa korelasi betapa gampanganya kepercayaan yang kita beri tidaklah selalu linier dengan betapa besarnya mereka menjaganya.

Dan hai kawan yang telah merusak kepercayaan, terlepas dari segala penderitaan yang telah kalian ciptakan padaku, aku yakin kalian masih punya nurani yang belum mati, dan bahwa seumur hidup kalian akan dihantui rasa bersalah, dan tidur kalian tak akan pernah nyenyak. Dan biarlah itu yang menghukum kalian sementara aku mengikhlaskan semuanya dan menjadikan ini sebuah pelajaran berharga. 

Karena ini bukan tentang uang, ini tentang kepercayaan..