Rss Feed

Judgement & Prejudice..

 
Membaca sebuah post dari teman tentang campaign against bullying:

"A 15 years old girl holds hands with her 1 year old son. People call her a slut, no one knows she was raped at 13. People call another guy fat. No one knows he has a serious disease causing him to be over weight. People call an old man ugly. No one knew he had a serious injury to his face fighting for our country in the war. Re-post if you're against bullying and stereotyping... – posted by Riza Natasya Bukit”

Menyedihkan. How destructive it is..

Eyes Might Be Deceiving, huh?

Tapi sebenarnya menurut saya masalah utamanya bukan di bullying itu sendiri. Bullying adalah bentuk eksekusi dari hasil pemikiran manusia. Akar masalahnya terletak pada bagaimana sudut pandang kita melihat orang lain, dan menghakiminya seketika hanya dari tampilan luarnya. Judgement dan prejudice adalah biang kerok utamanya.

Judgement = menghakimi. Prejudice = prasangka. Keduanya saya yakini sebagai kejahatan pikiran paling tinggi abad ini. Keduanya terdengar lebih simpel dari bahaya yang sebenarnya. Mereka jahat karena judgement dan prejudice melahirkan tendensi. Tendensi menghasilkan eksekusi. Tendensi buruk menghasilkan eksekusi yang bisa lebih buruk.

Sadisnya judgement dan prejudice ini tercapture dengan sangat baik dalam buku ‘To Kill A Mockingbird’. Bacalah. Ini bukan buku yang indah, bukan buku dengan ending yang menyenangkan, tapi bisa membuka mata bahwa sungguh manusia tak berhak menghakimi manusia lain, hanya karena hal-hal sepele yang tidak mencerminkan diri yang sebenarnya.

Warna kulit, berat badan, make-up, gender, ukuran, dan dandanan kita, bukanlah kita yang sebenarnya. Mereka hanya kulit yang melapisi bagian dalam yang paling penting, yang menggerakkan kehidupan, yang menentukan seberapa besar nilai kita sejatinya – yaitu hati, otak, dan jiwa manusia. Memang lebih mudah menyimpulkan hanya dari luar, memang lebih cepat menilai hanya dari tampilan luar, tapi yang demikian hanya menunjukkan rendahnya akal kita. Luangkan sedikit waktu untuk mengenal lebih jauh, kita akan sadar nilai mereka yang sebenarnya. Jika tak ada kesempatan untuk mengenal lebih jauh, maka berhati-putihlah, berbaik-sangkalah.

Karena mata bisa membuat orang tersesat. Karena orang yang tampak baik bisa jadi manusia paling jahat. Orang yang nampak mengerikan bisa jadi nyatanya seputih malaikat.

Karena,, siapa saya, siapa anda, siapa kita, berhak menghakimi orang lain. Kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi, kita tak pernah tahu apa yang telah mereka lewati. Sepatah kata yang salah bisa menggoreskan luka menganga. Setitik tindak yang tak bijak bisa membunuh semangat hidup.


Don’t judge. Just dont judge. We dont know what they’ve been thru..


BALI-gili-lembongan, thru the shore.. (part BALI)

 
My last holiday was super fun! Liburannya sendiri sebenarnya bulan Mei 2011, tapi baru sekarang sempat ditulis dengan lengkap. Jadi, silakan dibaca, bagian pertama adalah BALI part, siapa tahu bisa sekalian menambah referensi itinerary kalian :)


BALI

Hari pertama di Bali, tiba di Bandara Udara Ngurah Rai, siang hari. Salah satu hal yang paling menjengkelkan di bandara ini adalah ketiadaan taxi argo. Untuk saya yang ber-IQ jongkok dalam hal arah, tidak bisa mengingat jalan, dan tidak bisa menawar ini, - taxi borongan adalah bencana besar (oke, ini lebay). Berkat trik seseorang yang kami temui disana, kami akhirnya jalan kaki keluar dari bandara sekitar 200m untuk kemudian menyetop taxi argo blue bird yang terpercaya.

Ngurah Rai

Setelah makan siang, rental mobil, dan menjemput teman-teman lain yang datang menyusul kemudian di bandara, waktu sudah sore dan lokasi terdekat yang bisa didatangi adalah Kuta. Pantai Kuta ini, meskipun sekarang sudah terlalu padat pengunjung, yang juga berarti jadi lebih kotor, lebih berisik, dan sudah tak seindah dulu,,, tetap saja rasanya tak ke Bali jika tak singgah di pantai Kuta. Apalagi juga tak makan waktu karena jaraknya yang hanya selemparan dari wilayah Poppies. At least, kita masih bisa menikmati sunsetnya yang tak pernah berkurang indahnya.

Crowded Kuta Beach

Bagi yang gemar belanja, pastikan singgah di Discovery Mall dan Kuta Square. Kawasan belanja yang pewe' banget, dimana surf wear shop segala merk bertebaran dimana-mana. Kalau capek, tinggal nongkrong di tangga batu. Kalau haus tinggal nongkrong di café-café nyaman yang banyak tersedia. Jangan lupa cek toko yang sedang diskon, pasti bisa dapat harga miring (meskipun yang namanya surf wear tetep aja mahal, hihi). Salah satu cafe favorit disini adalah Dulang Cafe di Kuta Square yang makanannya two thumbs up! Very scpicy dan kaya bumbu. (Dan hey, gw ketemu Krisdayanti sama Raul Lemos loh disana – gak penting, haha).

Discovery Mall

Dulang Cafe

Yang namanya wilayah Kuta Legian itu sebenarnya luasnya bisa dikelilingi dalam setengah jam. Tapi karena sekarang makin padat, dan sering ada perbaikan infrastruktur, jalan-jalannya jadi sering macet. Pasti males kalau sedang libur dan ketemunya macet lagi kan? Jadi sebenarnya paling nyaman, bisa motong jalan lewat jalan tikus, dan anti macet - adalah dengan rental sepeda motor. Biasanya selain disediakan oleh tukang rentalnya langsung, juga disediakan oleh inn/penginapannya. Harganya juga murah meriah, 50ribu sehari atau bisa lebih murah kalau pintar nawar.

Kuta Legian Map

One of my favorite things living in Bali adalah karena sepertinya benar-benar tempat paling santai di dunia. No safety shoes, no high heels, and hell yeah, flip flop is a must! Bebas pakai baju apa saja, bahkan nyaris bugil sekalipun, boobs & ass are all around, and no one cares.. Kulit benar-benar gosong (bahkan meskipun sudah pakai Banana Boat SPF50), and I don't care karena disini gosong itu sexy, hahahaha..

Loose wear is a must :)

Dari banyak pantai di Bali, yang paling terkenal untuk water sportsnya adalah Tanjung Benoa. Disini hampir semua jenis watersport tersedia, dari parasailing, banana boat, jetski, fly fish, glass bottom boat, snorkeling, diving, dan sea walker. Parasailing adalah terjun payung versi mini, dimana parasut kita ditarik oleh speed boat untuk melakukan trip putaran pendek. Fly fish hampir sama dengan parasailing, hanya bedanya disini kita tidak pakai parasut tapi tangan dan kaki diikat di landasan balon udara pipih berbentuk ikan. Banana boat tentunya sudah terkenal, 5-6 orang duduk di balon udara berbentuk pisang kemudian ditarik oleh boat dan dijatuhkan ke air untuk mendapatkan sensasinya. Glass bottom boat, untuk mereka yang tak mau basah tapi tetap ingin menyaksikan ikan-ikan bawah air di kapal yang alasnya dibuat dari kaca. Jetski, mengendarai jetski di laut, paling seru bila menabrak ombak besar, bagi yang belum profesional harus ditemani pengawas (safety rules). Snorkeling adalah berenang di permukaan air dengan menggunakan snorkel, untuk melihat hewan laut dan terumbu karang yang dekat dengan permukaan air. Diving, adalah menyelam dengan menggunakan tabung oksigen, fins, dan alat selam yang lebih kompleks, serta membutuhkan pelatihan terlebih dahulu. Seawalker adalah menyelam hingga elevasi dasar laut, menggunakan tutup kepala mirip astronot. Snorkeling, diving, dan sea walker – karena area tepi pantai yang agak padat, bisa dilakukan agak jauh dari pantai dengan mengendarai perahu terlebih dahulu. Jadi, silakan pilih watersports yang sesuai dengan kesukaan anda, akan lebih seru jika dilakukan secara ramai-ramai tentunya. Tapi karena pantainya memang ramai pengunjung dan ada banyak water sports provider, jadi lalu lintas di lautnya juga agak crowded. Disini saya sempat mencoba semuanya (lagi), kecuali glass bottom boat dan seawalker.


Me Excitingly Parasailing

Mostly pantai-pantai di Bali yang sudah terkenal kayak Kuta, Sanur, dan Jimbaran memang sudah tak terlalu indah. Harus coba alternatif lain yaitu ke private beach kalau mau mencari suasanya yang lebih sepi, lebih indah, tapi memang konsekuensinya harus bayar extra entrance fee yang tidak sedikit. Kemarin berkat rekomendasi seorang supir, kami berhasil menemukan Nammos Beach Club yang terletak di Karma Kandara. Pantainya luar biasa indah, bangunannya dibangun dengan cita rasa arsitektur yang tinggi, dengan pemandangan yang menakjubkan. Pantai ini lokasinya di bawah tebing super terjal, dan disediakan 2 alternatif jalur masuk dan keluar. Pertama adalah lewat jalur gratis, yaitu dengan menuruni tangga batu, tapi bayangkan betapa tersiksanya perjalanan pulangnya. Bisa dibilang jalur pertama ini hampir mustahil dilakukan (hahaha, lebay). Jalur kedua, adalah dengan menggunakan semaca, tram atau lift yang namanya inclinator, dengan fee masuk sebesar 250rb, dimana 100rbnya akan dikonversi menjadi voucher makanan yang bisa dibelanjakan di pantai. Pantai yang satu ini sepertinya pantai yang benar-benar untuk santai, berjemur, menikmati ombak, and doing nothing. Definitely not for surfer karena ombaknya yang tidak terlalu besar. Definitely not for snorkeler and diver, karena terumbu karang dan ikannya tidak terlalu bagus (saya sempat snorkle 2 putaran). Di tepi pantainya disediakan bilik-bilik yang super nyaman untuk bersantai, dan sebuah bar besar yang menyediakan makanan dan minuman, lengkap dengan DJ-nya.

The Incredible Nammos Beach Club
Me Right Before Going Down to the Beach

Super Cozy Beach

Inclinator to Go Down
  
Café yang paling keren di Bali, bisa dipastikan adalah Rockbar cafe, yang untuk mencapai kesana jalannya cukup panjang dan berliku-liku. Café ini adalah bagian dari hotel Ayana, yang memang hotelnya kaum borjuis kasta paling tinggi (saking mahalnya), tapi jangan kuatir, siapapun boleh masuk kesana, tanpa dikenakan biaya tambahan. Perjalanan masuk dari tempat parkir ke cafenya sendiri sudah menyenangkan, karena bisa sambil menyaksikan arsitektur hotel dan landscape tamannya yang luar biasa indah (someday kalau mampu, harus bisa merasakan menginap disini ahhh). Tapi kejutan terbesarnya adalah saat turun dari tram, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan alam yang fantastis, yang dipoles dan diretouch oleh karya manusia. This café is totally cool, cafe yang berada pas di antara karang-karang maha besar dan indah, dirancang dengan super cozy, dan cuma jual cocktail dan teman-temannya, yang harganya bisa dipastikan 5x lipat harga café biasa. Tapi tak akan menyesal berada di tempat yang kata orang Bali's Best Bar ini, gotta try!

Hell Yeah, this is Rock Bar!

Jimbaran, dari dulu sudah terkenal akan makanan lautnya yang lezat, jadi pastikan singgah untuk makan malam di sini paling tidak sekali. Kita bisa memilih langsung sendiri ikan atau udang atau kepiting atau kerang atau sajian lainnya. Makan seafood di tepi pantai, ditemani angin laut yang sepoi-sepoi, apalagi bersama pasangan atau sahabat-sahabat terdekat pasti jadi pengalaman tak terlupakan. Hiburan tambahan lainnya yang tak ada di tempat lain adalah hiburan dari sekelompok pengamen yang skillnya luar biasa, yang terdiri dari 4 orang: seorang gitaris kopong, gitaris merangkap vokalis, basis betot besar, dan pemain jimbe. Meskipun namanya pengamen, tapi kita akan mendapatkan hiburan kelas tinggi dari kelompok ini, harmoni suara yang pas dan suara sang penyanyi yang mendayu-dayu. Kita bisa memanggil mereka untuk datang ke meja, dan merequest lagu-lagu. Playlist mereka luar biasa banyak, hampir segala genre, dan hebatnya sang vokalis hapal semua di luar kepala! Definitely akan melengkapi malam kita yang menyenangkan..

Fancy Dinner on Jimbaran Beach

Us Starving For Seafood Dinner

the Amazing Jimbaran Musician

That's it for Bali part! :)
Nantikan post selanjutnya untuk part Gili Trawangan dan Nusa Lembongan yang tak kalah indahnya..

Expertise..

 
If you can pick a choice, being talented on one thing only but you’re damn good at it, or being such a real multitalented person but no one thing you are expert in, which one will you choose?

Saya, merasakan sendiri menjadi orang jenis kedua itu. Saya bisa melakukan hampir segala jenis.

Saya bisa bermain gitar… Saya bisa bernyanyi dengan sangat baik... Saya pernah setahun belajar bermain piano dan keyboard... Saya bisa memainkan harmonika, rekorder, dan suling… Saya pernah bergabung dalam tim marching band memainkan snare drum…

Saya bisa bermain voli... Saya masih bermain basket dengan rutin... Saya pernah menjuarai turnamen squash... Saya dulu sering main tennis meja kala kuliah... Saya bisa melakukan wall climbing dengan cukup baik... Saya pernah rutin melakukan aerobik... Saya bermain bulutangkis sejak kecil... Saya sempat belajar tennis lapangan... Terkadang saya juga bermain futsal, fitness, dan jogging...

Di waktu senggang saya bermain DoTA... Saya kini bisa memasak dengan cukup baik... Saya pernah mengalahkan para pria di turnamen air soft gun... Saya bisa bermain kartu dan bridge... Saya bisa bermain billiard... Saya bisa bermain catur... Saya mengerti dasar dan basic fotografi... Saya menikmati snorkling di kala libur... Saya cukup mahir melakukan diving...

Saya bisa menari dengan baik, tari tradisional, sedikit balet, dan tari kontemporer... Semasa kuliah saya aktif melukis untuk konsumsi sendiri... Saya sempat mencari duit dengan mengikuti lomba menulis... Sejak kecil saya mencintai karya tulis ilmiah dan statistik… Saya seringkali menjuarai lomba mengarang prosa dan puisi…

Dulu semasa sekolah nilai saya selalu memuaskan di semua bidang pelajaran, dari sains, sosial, dan olahraga… Semasa kuliah saya mengambil jurusan teknik industri dimana saya belajar semua aspek mulai dari ekonomi, mesin, fisika, statistik, psikologi, bisnis, komputer... Setelah lulus saya bekerja di konstruksi dimana saya mendalami civil, machine, piping, dan listrik...

Well, there’s nothing that I can’t do apparently. Tapi sebenarnya, tak ada sama sekali bidang di atas yang benar-benar saya tekuni hingga menjadi expert. Dan kalau ditanya apa bakatmu sebenarnya, saya justru tak bisa menjawab sama sekali. Saya ini tipe orang yang suka belajar, I guess. Saya menikmati proses belajar dan mendalami hal-hal baru. Saya selalu antusias menemukan hal-hal yang unik dan baru. Tapi setelah saya bisa melakukan sesuatu, antusiasme ini hilang. Saya tak lagi tertarik mendalami. Saya tak lagi menemukan tantangan.

Tapi katanya, orang sukses adalah orang yang mencintai dan bisa mendalami suatu bidang sampai mahir. Dan bahwa kemampuan yang setengah-setengah tak akan membawa kita kemana-mana, atau ke pencapaian yang luar biasa. Saya sendiri selalu penasaran bagaimana rasanya bisa benar-benar mahir dalam sesuatu. Yang jadi pakar, ahli, dan master, yang jadi tempat belajar dan bertanya orang-orang. How is it like? Pasti gagah jika diundang berbicara di seminar membawakan satu bidang expertise.

Dan heyyy, coba perhatikan di reality contest yang banyak di TV saat ini. Apakah mereka yang menang American Idol dan sukses jadi penyanyi adalah orang yang hanya setengah mampu bernyanyi? Tidak, mereka bernyanyi dengan spektakuler. Apakah mereka yang memenangkan Masterchef adalah mereka yang diwaktu belajar memasak setengah-setengah? Tentu tidak, memasak adalah passion terdalam dan cita-cita mereka. Apakah mereka yang memenangkan Got to Dance adalah orang yang belajar menari dengan setengah-setengah? Sama sekali tidak, mereka mencintai, mendalami, berlatih, berlatih, dan berlatih. Apakah juri dan penonton peduli misalnya, jika ada peserta Masterchef yang selain bisa memasak juga bisa menyanyi dan menari? I dont think so. Yang mereka mau lihat adalah peserta yang memasak dengan dashyat, that’s all.

Mungkin someday, akan ada satu bidang yang kelak saya dalami. Kata orang, there must be one thing you’re good at. Doakan saja.


Teori Pertemanan..

 
Pernahkah heran, kenapa kita bisa sangat cocok dengan beberapa teman, tidak terlalu cocok tapi masih bisa menjalin persahabatan dengan beberapa teman, dan sama sekali tidak bisa berdampingan dengan beberapa teman lainnya?

Teori saya sederhana, karena kita semua berbeda. We're simply different. Diciptakan unik dengan kekhasannya. Juga kesukaan dan ketidaksukaannya. Penerimaan dan penolakannya. Dan kita semua punya rentangnya masing-masing, range of acceptance yang berbeda jenisnya, berbeda kutubnya, dan berbeda amplitudonya. Begini versi matematikanya.

Aku misalnya, punya range of acceptance yang cukup panjang, yang artinya: dapat menerima banyak tipe manusia, karakteristik orang yang berbeda-beda sebagai teman. Tidak terlalu panjang, karena saya pun tidak terlalu gampang langsung tune-in dengan kawan baru. Tapi juga tidak pendek, karena aku, secara personal, bukan tipe pemilih teman.

Jika himpunan karakteristik kawan ini berdistribusi normal, dengan kata lain sangat sedikit orang (approx.5%) yang berada di kutub esktrimnya, maka aku bisa membagi kedua kutubnya menjadi kutub (A) sifat ekstrim yang paling-akan-get-along-with-me, dan kutub (B) sifat ekstrim yang-paling-akan-saya-hindari-sebagai-teman. Dalam kasus saya, kutub (A) itu diisi oleh sifat-sifat yang merupakan value saya: jujur, dapat dipercaya, tidak ikut campur. Sedangkan di kutub (B) diisi oleh sifat-sifat yang merupakan pelanggar prinsip pertemanan, dalam kasus saya adalah para penjilat, dan backstabber.

Teori saya, isi kutub B tidak selalu oposisi kutub A. Sifat-sifat negasi A, selama tidak sama dengan B, masih dapat diterima karena masih berada dalam range of acceptance. Karena karakteristik seorang manusia mencakup berbagai jenis sifat yang complicated, maka mari kita simplify aturannya seperti ini.
  1. Seseorang dinyatakan tidak acceptable sebagai teman bila ada minimal satu sifatnya yang berada di kutub B.
  2. Sifat seseorang dikatakan acceptable sebagai teman bila tidak ada satu pun sifatnya yang berada di kutub B.
  3. Seseorang dinyatakan makin besar probabilitasnya menjadi teman baik, bila semakin banyak sifatnya yang berada di kutub A.
  4. Bila dalam kasus langka, dimana seseorang memiliki sifat di kutub A namun juga memiliki sifat di kutub B, maka mari kita sepakati bahwa kutub B akan memiliki daya tolak yang lebih besar dibanding daya tarik kutub B, maka sebagai konklusinya, kembali ke poin 1.
Begini versi grafiknya. 
Kurva Normal Prinsip Pertemanan - my version

Dan begitulah. Everyone is simply different. Tak perlu memaksakan jadi teman seseorang, atau jadi teman baik seseorang. Kita semua punya kompatibilitasnya masing-masing.


*Inspired by a backstabber friend, who indeed, reminds me that for me, some principles in friendship do exist.
*Heyyy, my statistical mind is back! Ohh how I missed analytical research..

If Life Is As Free As Hadza

Freedom, kalau kata wikipedia adalah free will, the ability to make choices. Freedom, seringkali diartikan sebagai kebebasan dari segala bentuk penjajahan, tapi dalam hidup manusia sekarang ini, bagian mana yang tidak bisa disebut penjajahan? Tak ada manusia yang bisa hidup sebebas yang mereka mau, karena suka tidak suka, kita hidup dalam aturan, dalam norma, dalam hukum yang mengungkung kita.

Dalam pelajaran PPKn semasa SD dulu, ada kalimat yang lazim: Jangan sampai kebebasan kita mengganggu kebebasan orang lain. Katanya, kita bebas mendengarkan musik sesuai selera kita, tapi jangan terlalu kencang hingga mengganggu tetangga. Lalu kalau begitu, apa kita masih bisa dibilang bebas? Apa ini bentuk kebebasan yang paling kita inginkan - kebebasan yang tidak terlalu bebas?

Sekarang coba tengok hidup ala suku Hadza berikut. http://nationalgeographic.co.id/featurepage/118/orang-orang-hadza/1

Orang-orang Hadza, taken from NGI

Bayangkan kehidupan mereka. Imagine living the way they live. Kata saya, ini mungkin salah satu bentuk kebebasan yang paling absolut yang ada di dunia saat ini. Saya sepakat dengan Michael Finkel, sang reporter yang bilang "Beberapa hal dari suku Hadza membuat saya iri, terutama kebebasannya yang saya lihat. Bebas dari keinginan untuk memiliki. Bebas dari sebagian besar tugas sosial. Bebas dari aturan keagamaan. Bebas dari banyak tanggung jawab keluarga. Bebas dari jadwal, pekerjaan, atasan yang menuntut, tagihan, kemacetan lalu lintas, pajak, hukum, berita, dan uang. Bebas dari rasa cemas. Bebas untuk kentut dan bersendawa tanpa harus minta maaf."

Do you feel like wanting such kind of life? I do. Khususnya untuk orang-orang yang benci dikekang seperti saya, hidup seperti ini pasti seperti hidup di surga. Free, as free as the most free we can be. Tapi kalau ditawarkan, untuk hidup seperti ini, will you?

Siapkah untuk menjalani hidup yang keras dan liar, menjelajah tanpa batas hanya untuk mencari makanan? Siapkah untuk meninggalkan semua hal-hal duniawi, target-target, dan keinginan manusia pada umumnya, which we used to have? Siapkah melepaskan keluarga, pekerjaan, agama, dan segala bentuk pengekangan?

Nyatanya, saya tidak siap. Kebebasan absolut yang menggiurkan itu ternyata harus diganjar dengan banyak sekali perubahan besar dalam hidup. Kita yang telah terbiasa berada dalam lingkungan bebas-yang-tidak-sebebas-bebasnya kemungkinan besar tidak akan sanggup menjalaninya. Kita, in fact, memang membutuhkan aturan, norma, dan hukum, sebagian karena kita secara harfiah memang membutuhkannya, dan sebagian karena kita telah terbiasa hidup dengannya.


PS: Imagining living the way they life is pleasant enough anyway :)

Menang..

Apakah makna kemenangan itu sesungguhnya? Kalau menang hanya untuk membanggakan diri sendiri, kalau hanya untuk mengangkat nama baik, bisakah ia disebut menang sejati?

Sepenting apakah untuk menang? Kalau menang menjadi tujuan utama hingga kita menghamba padanya, kalau setelah menang kita ternyata tak bahagia, masih pentingkah menang kalau ia tak hakiki?

Seberapa keras kita perlu berusaha untuk menang? Kalau untuk menang menghalalkan segala cara, kalau demi menang kita tak lagi menikmati prosesnya, masih wajarkah usaha yang dilakukan untuk menang?

Apa yang kita lihat dari sebuah kemenangan? Kejayaan, keagungan, kepuasan, dan kebanggaan? Hadiah, reward, ganjaran, ketenaran? Atau kematangan, hasil dari proses, pembelajaran, dan latihan? Yang mana sebenarnya motivasi utama kita?

Bisakah kita melihat perbedaan tipis antara kebahagiaan karena memenangkan dan kebahagiaan karena mengalahkan?

Bisakah kita berbesar hati atas kemenangan orang lain? Bisakah kita menerima kenyataan bahwa kita tak sebaik dan setangguh lawan? Bisakah kita menegakkan kepala dan menjabat tangan mereka? Atau justru memupuk kesumat dan ke-tak-terima-an.

...

Karena seharusnya menang itu datangnya dari hati. Karena hanya kejujuran yang menjadikan kita pemenang sejati.

my squash medal
*diinspirasi oleh olimpiade freeport

Derita Wanita

Semenjak sakit menstruasi saya semakin menjadi-jadi dari hari ke hari, saya tahu ada yang tidak beres. Hanya saya tak tahu apa. Bila sedang banyak-banyaknya, saya benar-benar tidak berdaya, kesakitan dan meringkuk, dan ini jelas-jelas mengganggu pekerjaan, khususnya bila sedang harus berada di lapangan.

Itulah sebabnya, demi mencari ketenangan, saya khususkan mengambil hari cuti ke Bandung dan Jakarta untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Saya coba riset dan mendapatkan rekomendasi rumah sakit dan dokter terbaik ibukota.

Kunjungan pertama saya adalah ke RS M di Bandung yang konon rumah sakit ibu dan anak terbaik di sini, tentunya dengan ongkos paling mahal. Dokternya seorang wanita chinese, masih muda sekitar 30-an, berbicara cepat dan nampak terburu-buru, hanya menggunakan legging dan terus membentak-bentak asistennya di depan para pasien. Setelah USG singkat, tanpa tedeng aling-aling beliau memvonis saya menderita endometriosis (adalah: jaringan yang semestinya terletak di dalam (endo) rahim (metrium), tumbuh di tempat lain seperti pada lapisan otot rahim, luar rahim, saluran telur, ovarium, usus, kulit, dll. Jaringan yang terletak di luar tempat yang semestinya tersebut, tetap berfungsi dan berkembang sesuai fluktuasi hormonal dari siklus haid. Hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri yang hebat saat haid, dan jumlah darah menstruasi lebih dari biasanya. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/06/wanita-dan-endometriosis)



Saya yang lugu dan katrok ini kontan bertanya, apa itu endometriosis. Jawaban beliau hanya menunjukkan sebuah gambar di meja. Katanya, ini gambar posisi sel telur yang benar, punya kamu gak disini. Dengan masih terbingung-bingung, saya tanya lagi, jadi saya harus apa? Dia bilang dengan sedikit ketus, kalau mau sembuh ya operasi, tapi 20 juta, sanggup? DAMN,,, saya langsung meninggalkan ruangan tanpa menengok ke belakang bahkan untuk bilang terima kasih.

Honestly, batin saya sebagai seorang pasien terluka. Satu, beliau tidak menunjukkan respek kepada pasiennya, dengan caranya berbusana yang tidak proper, dan dengan caranya membentak asistennya sehingga membuat pasiennya tak enak hati. Dua, beliau bahkan tidak menunjukkan simpati pada derita pasiennya, I guess she just didn’t care. Tiga, beliau sungguh tak memberikan penjelasan yang cukup yang dibutuhkan pasiennya. Dan yang keempat, beliau terlalu money-oriented, dalam kadar yang sudah akut, dan tidak malu menunjukkan pada pasiennya. Shame on her..

Tak puas dengan konsultasi pertama, saya ke RS T, masih di Bandung, sebuah rumah sakit ibu dan anak yang sudah tua, sederhana, tapi sudah memiliki nama besar di sini. Jangan samakan gedungnya dengan RS M yang mewah dan bertingkat. Saya bertemu seorang ibu yang sudah tua, bicara dengan sangat pelan dan ngemong, and I felt like talking with my mom. Setelah USG (yang tidak terburu-buru), beliau mendiagnosa saya memiliki kemungkinan endometriosis bila melihat dari gejalanya, tapi beliau berkata terus terang bahwa beliau tidak bisa melihatnya di USG. Saya diminta untuk tes darah untuk memastikan, dan ternyata hasilnya positif. Beliau tidak merekomendasikan saya melakukan apa-apa, hanya meminta saya untuk minum obat yang diresepkan yang semoga dapat mengurangi gejala sakitnya. Oke, dokter ini jelas lebih baik dari dokter sebelumnya, tapi honestly, saya belum puas.

Penjelajahan saya mencari dokter kandungan yang dapat diandalkan akhirnya berakhir di Jakarta, di RS daerah Menteng. Dokter ini rekomendasi dari seorang kawan yang istrinya langganan berkonsultasi di sana. Sebenarnya spesialisasinya adalah dalam hal fertilitas, tapi katanya beliau benar-benar dokter yang menenangkan hati, so there I go, with last hopes. Beliau seorang pria umur 40-an, nampak pandai dan bijak, mendengarkan semua keluhan dengan tenang, dan mencatatnya. And thank God, inilah dokter yang saya cari-cari dari awal.

Konsultasi ini berjalan sangat lama, nyaris setengah jam, tapi semua pertanyaan saya terjawab dengan memuaskan. Dengan kecermatan tingkat tinggi, beliau menunjukkan hasil USG bahwa saya memang menderita endometriosis, tepatnya sepanjang 4cm dan berlokasi di usus besar. Itulah sebabnya menstruasi sangat menyiksa karena darah yang keluar sangat banyak, dan bila buang air besar perut seperti melilit dan sakit luar biasa.

Beliau lalu memberikan beberapa alternatif penyembuhan. Yang pertama adalah dengan kehamilan, yang secara natural akan menggugurkan sel telur abnormalnya, meskipun endometrium ini justru membuat persentase fertilitas saya menurun drastis. Kedua dengan laparoskopi, semacam operasi kecil untuk menguret sel telur di lokasi yang abnormal, yang tidak beliau rekomendasikan. Ketiga dengan hamil buatan, yaitu dengan suntikan di perut yang akan menghentikan menstruasi selama 3 bulan sehingga diharapkan sel telur abnormal akan gugur sendirinya, hanya efek sampingnya akan mengalami gejala menopause seperti wajah panas, flushing, pusing, muntah, dll. Meskipun pada akhirnya saya tidak dapat menentukan treatment apa yang akan saya pilih, saya benar-benar puas dengan semua penjelasan dan alternatif yang diberikan.



Selang 9 bulan setelah berkonsultasi, saya masih saja belum mengambil keputusan untuk treatment yang akan saya jalani. Saya masih menderita setiap bulannya. Tanggal menstruasi masih seperti neraka bagi saya. Dan yang paling menyedihkan, saya banyak melewatkan momen-momen penting karena sakit menstruasi yang tak tertahankan.

Yang pertama saya melewatkan pendakian ke Cartenz, Jayawijaya. Berbulan-bulan lamanya persiapan dilakukan, latihan fisik dengan jalan dan mendaki sejauh 4 mil setiap minggu, sampai persiapan pakaian dan equipment pendakian yang pinjam sana-sini. Sempat merasa sangat excited, sampai malamnya tamu bulanan itu datang. Saya terkapar dan memutuskan untuk tidak berangkat, daripada pada akhirnya malah menyusahkan rekan-rekan sependakian.

Baru-baru ini hal yang sama terulang lagi. Dua minggu lamanya saya mempersiapkan diri untuk turnamen wall climbing. Tepat pada hari-H, rasa sakit itu menyiksa hingga nyaris semaput dan tak bisa kemana-mana.

...

Saya tak bisa begini terus. Saya tak bisa terus melewatkan momen penting hanya karena PMS. Mungkin sudah waktunya untuk memikirkan lagi alternatif penyembuhan yang pernah ditawarkan. Derita wanita, ohh sedihnya…

Filosofi Luka..


Beberapa orang tersakiti dan memasrahkan semuanya. Karena yakin memang demikianlah hidup adanya. Sakit adalah bagian dari hidup yang tak terpisahkan, tak satupun bisa menghindar daripadanya. Yakin bahwa suatu saat semuanya akan terbalas, atau tak terbalas, tapi hanya itu, tak lebih tak kurang. Biarkan semuanya diatur  oleh Yang Maha Mendalangi Hidup. Percaya bahwa tak ada sakit yang tak sembuh, tak ada badai yang tak berlalu.

Beberapa orang yang tersakiti merasa perlu menyakiti kembali. Dengan demikian ia merasa impas sakitnya. Dengan demikian akan terasa lebih adil baginya. Betapa menyenangkannya mengetahui bahwa semua orang sebenarnya punya kapabilitas yang sama dalam menyakiti. Meski tahu bahwa faktanya tak ada hal yang benar-benar berubah, tak ada yang benar-benar jadi lebih baik, pun tak juga luka itu akan lebih cepat sembuh. Kenyataannya adalah, luka itu jadi terasa tak lebih sakit, karena orang di sekitar pun merasa sakit yang sama. Ia kebahagian semu semata. Jadi, untuk apa?


Beberapa orang membiarkan lukanya disembuhkan. Oleh mekanisme alami hati manusia yang dinamis, oleh waktu yang maha berkuasa mengubur semuanya, oleh keyakinan pada apa yang kita sebut takdir. Beberapa yang lain hanya membuatnya lebih parah dengan memupuk dendam. Tapi kenyataannya, semua luka punya penyembuhnya sendiri. Tak ada sakit tanpa obat. Kita hanya perlu percaya bahwa sang penyembuh itu, akan datang sendiri nanti. Kita tak perlu tahu kapan, dimana, oleh apa, oleh siapa. Hanya perlu yakin bahwa ia nyata. Sang penyembuh itu ada.


Beberapa luka sembuh dengan cepat, beberapa makan waktu yang tak sebentar. Beberapa luka sanggup menghilang tanpa bekas, beberapa meninggalkan carut yang tak hilang jua. Beberapa luka mampu sembuh sendiri, beberapa butuh katalis dan bantuan dari luar. Beberapa luka meninggalkan hikmah, dan beberapa berlalu tanpa jejak. Tapi kenyataannya adalah, luka tetaplah hanya sebuah luka. Luka tak pernah hingga mencabut nyawa. Dan yakinlah apa yang tak membunuhmu pada akhirnya akan membuatmu lebih tangguh. 

Maka sapalah lukamu yang paling menyakitkan, rangkullah lukamu yang tengah diobati, ingatlah lukamu yang telah sembuh, kenanglah bekas luka yang tertinggal disana, dan lanjutkanlah hidup..


*mungkin hanya mereka yang telah melewati serangkaian sakit dan luka, yang akan sanggup memahami dan percaya...