Rss Feed

Wakatobi, Heavenly Underwater

 
  
Akhirnya,, akhirnya,, akhirnyaaa,,, *nyanyikan dengan nada ayu tingting* rencana trip ke Wakatobi yang sudah diidam-idamkan sejak lama kesampaian juga! Dan inilah catatan perjalanan lengkap saya, maaf bila terlalu panjang, I simply don’t wanna miss a thing! :) Semoga itinerary dan infonya bisa berguna. Happy reading!


Seperti yang sebagian besar kalian pasti sudah tahu, Wakatobi sebenarnya adalah singkatan 4 nama pulau utama di kepulauan ini, yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Masing-masing pulau punya keunikan dan keindahannya masing-masing. Wakatobi juga bagian dari Tukang Besi Archipelago, disebut demikian karena konon masyarakat asli sini dulunya kebanyakan bekerja sebagai tukang besi.

Wakatobi, part of Tukang Besi Archipelago

Perjalanan hari pertama dimulai bertolak dari Makassar menuju Wangi-wangi. Wakatobi memang sudah makin berkembang belakangan ini dan wisata baharinya dipromosikan dengan gencar oleh pemerintahannya, jadi untungnya meskipun sangat terpencil, sudah ada maskapai yang mengambil rute kesana. Nama maskapainya Express Air, dengan pesawat jenis Dornier 328-100. Ini pesawat paling kecil yang pernah saya tumpangi loh. Total hanya 3 seat di setiap barisnya, dengan jumlah total 12 baris, dan pramugarinya pun hanya satu! Kejanggalan aneh di pesawat ini adalah nomor seat-nya yang di-sortir dengan sangat aneh. Coba perhatikan apa yang ganjil? :p

Inside Dornier Express Air

Penomoran kursi yang aneeehhh -___-"

Harga tiketnya masih sangat mahal, maklum masih satu-satunya maskapai yang kesini. Kata orang, Makassar-Wakatobi normalnya sekitar 900rb, tapi karena saya kesana bulan December, saya dapat tiket seharga 1.3 juta, dengan daerah transit di Bau-bau. Kalau merasa tiketnya terlalu mahal, ada alternatif rute kesini yaitu ke Kendari terlebih dahulu. Dari sini silakan pilih mau naik Express Air seharga 400rb atau naik kapal seharga 130rb ke Wangi-wangi. Tapi pastikan fisik yang oke kalau mau naik kapal, karena perjalanannya akan memakan waktu sekitar 10 jam, bisa lebih lama kalau ada badai atau ombak besar.

Bandar Udara Betoambari, Bau-bau

Penampakan dari udara

Kami sampai di bandara Matohara di Wangi-wangi sekitar pukul 12 siang, dan langsung disambut oleh teriknya matahari yang membakar kulit. Di bandara kami sudah dijemput oleh driver dari Patuno Resort, tempat kami akan menginap. Jadi, Wangi-wangi adalah pulau terbesar dan pulau utama di Wakatobi, dan Wanci yang merupakan ibu kota Wakatobi juga ada di pulau ini. Kalau diperhatikan struktur pulaunya mirip dengan Nusa Lembongan, dimana jalan utama yang mengelilingi pulau ada terletak sekitar 10m dari bibir pantai.

Yeah, WELLcome to Wakatobi! Hihihi...

Nah, Patuno resort tempat saya menginap ini adalah resort yang sangat nyaman. Kamarnya berbentuk rumah-rumah kayu yang menghadap langsung ke pantai. Nampak sederhana dari luar tapi cukup mewah di dalam, dengan ruang tidur dan kamar mandi luas, dan tentunya kasur empuk, TV, serta AC. Di bagian depan tiap-tiap rumah ada pondok kayu nyaman untuk berjemur dan bersantai, dengan jejeran pohon kelapa di sepanjang jalan setapak. Suasananya sangat sepi dan tenang. Quite and very peaceful. Sepertinya pilihan bagus buat pasangan-pasangan honeymoon yang mau menikmati dunia berdua saja, hihi.

Rumah-rumah kayu di Patuno Resort

Fasilitas kamar standard dengan rate 500rb

Teras kayu yang menghadap langsung ke pantai

Hari pertama saya habiskan untuk bersantai, istirahat, dan tidur cepat. Hari kedua rencananya akan diving, tapi karena saya sedang sedikit pilek hari itu (orang pilek agak berbahaya untuk diving), maka hari itu saya nikmati dengan hanya menikmati resort. Apalagi suasananya memang super mendukung untuk berleha-leha menikmati angin pantai. Sorenya, waktu matahari sudah agak teduh, tinggal ngesot sedikit ke laut dan nyemplung! Airnya hangat, nikmat buat berendam berlama-lama. Berasa seperti satu-satunya makhluk di samudra maha luas. Alhamdulillah yaaahh :)

Owyeahhh,, what could've been better? :)

Kelomang unyu yang berkeliaran di pantai

Yup, the ocean is alll yours!

Agak sore sedikit kami ke anjungan atau jetty yang lokasinya pas di depan restoran. Hanya dalam diam kami menikmati angin laut yang samar-samar. Satu persatu kapal mulai berdatangan dan merapat. Menjelang senja, semburat-semburat sunset keluar perlahan, indahnya luar biasa. Yah, pulau ini memang menakjubkan secara sederhana.

Menikmati Senja di Anjungan

Resto nyaman tepat di samping laut

Hari ketiga, jiwa petualang sudah menggelegak di dalam jiwa (seddaaaap). Maka dengan bersemangat, kami bertemu sang divemaster dari resort untuk mem-planning-kan dive trip kami ke depan. Rencananya, kalau biayanya bersahabat, kami berniat untuk mengambil sertifikat diving open-water sekalian. Tapi sayangnya, sang dive master ternyata mau ke luar kota menghadiri pernikahan adiknya, jadi buyarlah rencana kami. Diving disini ternyata tidak semahal yang diduga, 450rb untuk non-certified diver dan 350rb untuk certified diver, untuk sekali nyemplung, plus 150rb untuk sewa equipment per harinya. Akhirnya hari itu kami sepakat untuk mengambil paket 2x diving.

Siap tempur, di depan lokasi dive tools Patuno

Siang hari jam 10 kami diantarkan ke lokasi, sebuah anjungan beton yang disebut jetty Sombu (anjungan pantai Sombu). Di kiri-kanan jetty saja sudah nampak coral-coral dan ikan kecil yang menarik kita untuk snorkeling. Dari jetty ini kita lalu diantarkan dengan perahu karet menuju dive boat, karena kapal besar memang tidak bisa menambatkan jangkar di jetty. Selama saya dive, inilah dive boat yang paling keren yang pernah saya pakai, mungkin seimbang sama harganya yah, haha..

Transfer dari perahu karet ke dive boat

Dive boat kami yang kece

Divemaster kami bernama pak Arif, beliau adalah penduduk asli sini. In term of diving, beliau ini sangat mementingkan aspek buoyancy, yang kata beliau adalah hal kunci dalam dviving. Sekali kita menguasai skill ini, maka diving akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Jadi, dalam bahasa primitifnya, buoyancy adalah kemampuan untuk floating dan mengendalikan tubuh dalam menyelam. Bagi diver amatir, termasuk saya, seringkali mengandalkan udara dalam BCD, atau dengan kata lain mengendalikan kedalaman dengan mengempeskan atau mengembungkan BCD. Sementara buoyancy mengendalikan kedalaman dengan jumlah udara dalam paru-paru. Kedengarannya gampang yah, tapi prakteknya naujubilah susahnya, butuh jam terbang yang cukup tinggi.

Pak Arif, divemaster dari Patuno Resort

Dive spot pertama kami di Sombu (saya tak tahu namanya), berbentuk wall. Arusnya sangat tenang, tapi visibility agak keruh sedikit. Kami banyak menemui staghorn coral, brain coral, soft coral, anemon, dan banyak tube sponge raksasa. Ikan-ikan besar tidak banyak ditemui selain beberapa bumphead, tapi penuh ikan kecil lucu yang berwarna-warni. Nudibranch-nudibranch cerah bertebaran dimana-mana. Kami juga dua kali menemui sea snake besar mungkin sepanjang 1.5meter yang meliuk-liuk genit tanpa menyadari kehadiran kami sama sekali. Ohya, ini launching pertama underwater camera saya, jadi masih coba-coba settingan. Dan hasilnya bisa dilihat, hampir biru semua, hahaha. Percayalah, aslinya jauh lebih colorful dibanding yang Anda lihat di foto-foto ini. Banyak pula obyek-obyek keren yang tak terfoto karena geraknya terlalu lincah sehingga tak terkejar. Maklum baru belajar :p
 

Suka sekali coral berbentuk bunga eksotis ini!

Tube sponge raksasa

The beautiful sea fan

Me, exploring the sea
Dive spot kedua di Sombu (masih tak tahu namanya) jauh lebih jernih dan visibility super clear. Masih berbentuk wall, dengan terumbu karang warna-warni yang sangat sehat. Ragam coral dan ikannya tidak jauh berbeda dengan di spot pertama. Disini kualitas fotonya sudah lumayan ada peningkatan, tapi baru beberapa menit dipakai langsung habis baterai saudara-saudara! Aaaarrggghhhh..

Hamparan coral sehat

Karakteristik wall

Another  coral captured

Another (more) coral captured

Oia, saya ini termasuk orang yang suka susah menghafal nama-nama ikan dan jenis coral. Gak lucu kan, kalau waktu cerita ke teman, "Eh tadi saya menyelam ketemu ikan kuning panjang loreng-loreng loohh!". Dijamin pasti gak keren dan bikin orang bingung. Untungnya, si pak Arif ini punya katalog biota-biota laut Wakatobi, jadi setelah bertemu ikan-ikan lucu, bisa langsung cari namanya di katalog ini. Bisa sekalian buat belajar dan menambah perbendaharaan nama-nama ikan juga. Tadinya mau minta katalognya buat oleh-oleh tapi ternyata gak boleh, hehe.

8-pages Katalog Ikan dan Coral Wakatobi

Malamnya setelah kelelahan pasca diving, kami makan malam di resto resort yang lokasinya di anjungan kayu. Tempatnya romantis dan menyenangkan, dengan lampu-lampu yang kerlap kerlip menerangi air laut. Tapi setelah dipikir-pikir, saya mulai bosan dengan masakan resto di sini. Maklum yang namanya resort, lokasinya terpencil dan jauh dari mana-mana, jadi sudah 3 hari ini saya hanya makan dari resto resort. Saya tiba-tiba rindu masakan gerobak, rindu jalan-jalan di keramaian pasar, pengen bercengkrama dengan penduduk asli, dan ingin merasakan jajanan tradisional khas lokal. I guess I'm not really a resort type, jadi setelah merasa cukup puas dengan suasana resort yang tenang, kami memutuskan untuk menyeberang ke pulau Tomia esok hari.

Santapan malam, apalagi kalau bukan seafood!

Duduk dalam keremangan *seddaaaaap*

Kapal yang menyeberang ke Tomia hanya berangkat dari pelabuhan di Wanci, jadi esok siangnya kami bertolak ke Wanci, diantar oleh driver dari resort (bagian dari servis resort). Patuno resort yang lokasinya di desa Patuno ini ternyata jaraknya agak jauh dari Wanci, sekitar 40 menit perjalanan darat. Kami lalu menginap di hotel Wisata, hotel yang cukup nyaman, fasilitas TV, AC, air hangat, dan kamar yang bersih - dengan rate 300rb per malam. Di sini kami berkenalan dengan pak Iksan. Begini kira-kira percakapan waktu kami berkenalan:

Eva: *celingak-celinguk*
Bapak-bapak pakai oblong dan celana butut: "Mau kemana mbak?"
Eva: "Mau nyari makan, pak..." *sedikit acuh tak acuh*
Si Bapak: "Makan di resto hotel ini aja mbak."
Eva: "Ohhh. Lagi pengen nyari makanan tradisional sini pak." *menolak halus*
Si Bapak: "Di resto hotel ini juga ada!" *semangat*
Eva: "Bapak ini koki di resto sini ya?" *polos*
Si Bapak: "Oh bukan. Saya yang punya hotel ini."
Eva: *nyembah minta ampun*

Clean and tidy room at Hotel Wisata
Kapal karam tepat di belakang Hotel Wisata

Menyenangkan rasanya bisa kembali ke hiruk pikuk kota (well, desa lebih tepatnya). Dengan merental motor mas-mas pegawai hotel seharga 50rb, kami berjalan-jalan mengelilingi kota Wanci. Kotanya relatif kecil, tapi nampak sudah berkembang. Mobil sudah lumayan banyak berseliweran di jalan, walaupun mungkin karena masih jarang, kok sepertinya para pengendara mobil ini nampak sangat angkuh dan berasa seperti penguasa jalan - ngebut dan klakson seenaknya. Rumah penduduk 80% sudah terbuat dari beton, sisanya masih rumah tradisional. Di seluruh Wakatobi, ATM hanya ada di Wanci, saya kemarin sempat menemukan ATM BRI dan BNI. Sayangnya, tak banyak toko souvenir yang ada, kami hanya menemukan sebuah toko dengan stok nyaris habis yang harganya juga mahal.

Rute kota Wanci. Not big heh?
Wanci, kota yang relatif sudah berkembang
Rumah tradisional yang masih bisa ditemukan di sudut-sudut kota

Malamnya sesuai janji kami pada pak Iksan, kami mencoba menu makan malam di resto Wisata, resto hotel yang ternyata justru berdiri lebih awal dari hotelnya yang baru dibangun sekitar 2 bulan lalu. Lokasinya tepat di belakang hotel, dibangun di atas tepi laut, sehingga cukup berangin saat malam. Menu utamanya kebanyakan sea-food, tapi menyediakan juga makanan khas tradisional. Saya lalu mencoba kasuami, yaitu makanan pokok pengganti nasi yang terbuat dari singkong yang diparut, diperas airnya dan dikukus. Lauknya adalah ikan parende kuah kuning, yang dibumbui dengan bumbu asam kadar tinggi. Saya memang tidak terbiasa makan karbohidrat selain nasi, tapi ikannya cukup lezat dan porsinya jumbo!

Kasuami dan ikan parende khas Wakatobi

Esok paginya, hari kelima, kami sudah siap berangkat menuju pelabuhan, dan bahkan sudah check-out dari hotel. Tapi kemudian hujan turun dengan sangat deras, deras yang benar-benar deras, membuat kami jadi berpikir ulang, takut bila bisa-bisa berbahaya di perjalanan. Ketika masih menimbang-nimbang, seorang supir taxi yang singgah di hotel memberitahu bahwa semua kapal ke Tomia sudah full oleh para jamaah yang baru pulang haji beserta pengantarnya. Konon kalau orang Sulawesi, 1 orang yang naik haji, pengantarnya bisa satu kampung, hihi. Jadilah hari itu kami batal menyeberang ke Tomia dan extend 1 hari lagi di Wangi-wangi.

Hari ke-enam esoknya, kami sudah siap berangkat ke Pelabuhan dengan ojek. Info dari pegawai hotel, kapal ke Tomia berangkat jam10. Kami sampai di pelabuhan pukul 10.10 tapi ternyata speedboat sudah berangkat 15 menit lalu karena sudah full, kapal kayu terakhir pun sudah berangkat beberapa detik yang lalu. Untungnya kapalnya mau balik kembali ke pelabuhan untuk mengangkut kami. Baik yaaaah... 
 
Pelabuhan Wanci

Nah, kapal kayu ini adalah kapal tradisional dengan motor yang powernya tidak sebesar motor kapal speedboat. Kalau speedboat bisa mencapai Tomia dalam 2 jam, kapal kayu butuh waktu 3.5 jam. Penumpangnya duduk lesehan di kabin penumpang, tumpang tindih kayak sarden. Penduduk asli sini yang sudah biasa menyeberang antar pulau, bahkan membawa karpet lipat dan bantal. Beberapa menit di kabin ini saya langsung pusing, jadi saya memutuskan naik ke bagian atas kapal, tempat barang-barang dan motor diletakkan. Dengan hembusan angin kencang, pusing saya hilang seketika. Pemandangannya pun cantik dan meneduhkan jiwa (halaahhh). Dari kejauhan kami bisa melihat perkampungan suku Bajo asli yang hidup di tengah laut. Mereka inilah satu-satunya penduduk lokal yang masih mempertahankan kehidupan berperahu tradisional dan hidup sepenuhnya bergantung pada laut.
  
Perkampungan suku Bajo, from a far

Sesekali menjumpai sampan-sampan kecil dengan layar nanggung :p

Yang lucu adalah setelah sekitar 2 jam perjalanan, kapal berhenti di tengah laut dan tak lama kemudian datanglah sampan-sampan yang ternyata dari pulau Kaledupa dan Hoga yang membawa 4-5 penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Tomia. Kemudian secara agak kurang berkeperimanusiaan, penumpang tersebut ditransfer ke kapal kami,,, lewat jendela! Yup, lewat jendela saudara-saudara!! Satu-persatu mereka memanjat ke jendela, bagian kepala dibantu ditarik oleh penumpang di dalam kabin, dan bagian bokong dan kaki dibantu dorong oleh orang-orang di sampan. Saya jadi penasaran apa yang dirasakan 2 orang bule yang ada di antara penumpang transferan itu. This is Indonesia, everything can happen! Hehehe...
  
Seorang ibu yang susah payah memanjat jendela kapal
Saking nikmatnya menikmati angin laut, saya sampai ketiduran di dek atas, selama 3 jam, hanya menggunakan celana pendek, dan bodohnya, tanpa pakai sunblock sama sekali. Efeknya baru terasa keesokan harinya, sun-burnt level akut!  Kulit yang terekspos matahari langsung hitam legam teramat sangat, terasa panas perih dan terbakar, dan terkelupas sampai 2 minggu sesudahnya! 
 
Bersantai dan berjemur di kabin atas

Merapat di Tomia, kami sudah dijemput pegawai dari Tomia Dive Center yang sudah kami hubungi sebelumnya. Tomia Dive Center ini dikelola oleh dr. Yudi yang adalah seorang divemaster dan juga seorang dokter. Hebat yah? A great life balance. Jadi ceritanya dulu dokter ini ditugaskan PTT di Tomia, jatuh cinta pada underwaternya, belajar dive dari nol hingga jadi divemaster, sampai akhirnya membangun dive center sederhana dengan merekrut masyarakat lokal setempat. Tarifnya cukup murah, hitungannya kira-kira 800rb sehari sudah termasuk penginapan, makan 3x sehari, dan diving 2x. Bisa upgrade ke penginapan yang lebih nyaman kalau mau, tapi kalau soal makanan memang susah cari alternatif, karena disini warung masih relatif jarang.

Bangunan Tomia Dive Centre

Berpose di basecamp sebelum nyempluuung!

Sore harinya saya istirahat dan sedikit berjalan-jalan melihat-lihat pulau. Pulau Tomia ini jauh lebih sepi dan tenang dibanding di Wangi-wangi, bahkan tidak ada mobil yang melintas di jalan. Listrik biasanya padam selama siang hari dan menyala kembali sekitar maghrib. Yang menyenangkan disini adalah penduduknya yang sangaaat ramah, khususnya anak-anak kecilnya yang tak segan-segan menyapa kami dengan lucunya. Selain Tomia Dive Center, di sini juga terdapat resort milik investor asing yang kemashyurannya sudah terkenal di dunia, Wakatobi Dive Centre yang letaknya di Pulau Anemobaa, tak jauh dari pulau Tomia. Rate-nya gila-gilaan, puluhan juta dalam satu malam, dan konon selalu full-booked sampai tiga bulan ke depan. Dive resort ini punya helipad sendiri, pembangkit listrik sendiri, pengolahan air tawar sendiri, dan tamu yang menginap bebas diving kapan pun mereka mau. Bukan main!

Wakatobi Dive Center, photo taken from wakatobi.com 

Kalau mau menyelam di Tomia, pastikan didampingi oleh divemaster yang berpengalaman dan mengetahui seluk-beluk daerah tersebut. Karena ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, yang paling penting adalah kalender arus. Musim kunjungan terbaik Wakatobi adalah bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya. Sayangnya karena pemanasan global, perubahan cuaca jadi sering kurang menentu akhir-akhir ini. Waktu kedatangan kami di bulan December ini saja ternyata sudah memasuki musim barat. Bila dive di waktu yang tepat dan arus yang tepat, visibility perairan Wakatobi bisa mencapai 100m loh. Outstanding!

Dive boat Tomia Dive Center

Hari ketujuh, hari pertama di Tomia, kami bangun dengan segar bugar dan siap menjelajah dive site terbaik di Tomia. Setelah naik kapal sekitar 20 menit kami sampai di dive spot pertama, Mari Mabuk. Ini adalah dive spot paling terkenal di Tomia, yang memperoleh namanya karena konon keindahannya membuat para penyelam mabuk dan lupa diri, hahaha. Kami menyelam berdua, didampingi divemaster dr. Yudi. Mari Mabuk ini karakteristiknya coralnya berbentuk long ridge dari kedalaman 15 sampai 80 kaki. Coral yang umum kami temui adalah staghorn coral, brain coral, sea fan, tube sponge, table coral, banyak soft coral di antara karang, dan ada pula cabbage coral berbentuk bunga raksasa. Kami juga menemukan banyak schooling fish trevallies, clown fish cerah, sepasang bumphead sebesar 2x paha saya yang nampaknya sedang pacaran, nudibranch warna-warni, bintang laut gendut, teripang, manta (pari) yang terlalu lincah untuk difoto, barracuda, dan lionfish hitam super eksotis di akhir penyelaman.

Mari Mabuk - Tube Sponge

Mari Mabuk - Soft Coral

Mari mabuk menyelam di Mari Mabuk!

Mari Mabuk - Lionfish eksotissss

Setelah istirahat setengah jam, kami melanjutkan perjalanan ke dive spot kedua, Magnifica. Karakteristiknya berbentuk pinnacle jadi kami dive mengelilingi coralnya. Warna coralnya sangat indah dan warna-warni, arus pun sedang sangat bersahabat sehingga visibilitynya sangat jernih dan menakjubkan. Katanya ini juga salah satu dive spot paling keren di Tomia yang bahkan sudah bisa dinikmati hanya dengan snorkeling. Asal katanya saja kira-kira berarti magnificent. Disini kami terdapat banyak soft coral dan berbagai jenis gorgonians aneka warna dan kami menemukan nudibranch lucu dan crocodile fish yang bersembunyi.

Exploring the steep slope of Magnifica

Magnifica - Cute Nudibranch

What a magnificent Magnifica!

Magnifica - (Almost) Invisible Crocodile Fish

Sayangnya, baru 10 menit diving di dive spot yang direkomendasikan sebagai reef-dives terbaik di planet ini, saya mengalami gangguan teknis. Di kedalaman 19m, regulator saya terlepas cukup jauh. Ketika hendak dipasang kembali, saya sudah meminum banyak air laut, dan menjadi panik, hal terlarang bagi diver. Saya sempat memberi sign darurat pada sang divemaster tapi kemudian tanpa berpikir panjang langsung naik ke permukaan. Selama beberapa detik itu, I feel like I'm really going to die. Mengerikan. Ini adalah mimpi buruk bagi semua penyelam. Naik 19m itu berarti saya mengalami perbedaan tekanan 2 atmosfir hanya dalam beberapa detik, tanpa mengambil safety stop sama sekali. Besar kemungkinan saya mengalami decompression, yang terjadi akibat tumpukan nitrogen yang menyumbat saluran darah.

Untungnya memiliki pemandu yang juga seorang dokter adalah, beliau menyediakan oksigen di kapal. Jadi saya langsung diberi oksigen selama beberapa menit, dan terpaksa harus menghentikan diving hari itu. Sang dokter bilang, deco yang paling parah bisa sampai membuat lumpuh, paru-paru meledak, atau bahkan kematian. Untungnya saya hanya sedikit pusing, meskipun badan langsung lemas dan lunglai karena merinding mendengar penjelasan si dokter. Malamnya, saya dijemput sang dokter menuju Puskesmas tempat beliau praktek. Di sini sekali lagi saya diberi terapi oksigen murni selama setengah jam.

Tomia Divesite Map

Besoknya saya melewatkan diving pagi hari jam5.30. Selain karena ogah bangun pagi, sepertinya saya juga merasa butuh lebih banyak istirahat. Trauma? Yup, saya sedikit trauma. Tapi kalau hanya karena sekali nyaris-deco membuat saya harus melewatkan semua makhluk indah di bawah laut yang menanti untuk disapa, nampaknya terlalu sayang yahh. Toh, ini bisa jadi pengalaman berharga supaya lebih berhati-hati. Nah, pagi itu saya meleawatkan dive spot Ali Reef. Katanya, menyelam disini arusnya cukup kuat, jadi tubuh harus fit. Tapi sebagai gantinya, jutaan ikan-ikan akan siap menyambut Anda. Ini beberapa foto yang mereka dapat.

Ali Reef - Can you see that super big schooling fish?

Ali Reef - Eel yang hobi melotot

Ali Reef - Ohhh blue cuties!

Ali Reef - Nudibranch

Setelah makan siang, saya sudah siap untuk menyelam lagi. Kali ini kami menuju dive spot Fan 38 West. Dinamakan demikian karena ada banyak coral sea-fan yang berwarna-warni, sebagian berukuran besar. Karakteristik steep slope yang juga merupakan favorit sepanjang masa, khususnya untuk yang sudah certified untuk deep dive. Warna-warni coral dan ikannya yang sungguh beraneka ragam sangat memanjakan mata. Hampir semua jenis coral di tempat lain bisa ditemui disini, khususnya sea fan yang selalu indah jadi obyek foto. Kami juga menemukan bintang laut gendut, teripang, lion fish oranye, big-eye fish, trumpetfish, dan banyak jenis ikan yang belum tahu namanya.

Fan 38 West - Anemon yang subur sekali yahhh

Fan 38 West - Gorgonians is everywhere!

Fan 38 West - Beautiful lionfish

Fan 38 West - Ikan imyuuut, siapa namamu???

Fan 38 West - They're just... GORGEOUS!

Fan 38 West - Schooling big eye fish

Fan 38 West - Sea fan,,, again!

Saat istirahat, saya penasaran melihat sang nahkoda mengemudikan kapal. Iseng-iseng, saya lalu minta diajari caranya, dan ternyata menyetir kapal cukup gampang! Ada semacam tuas dua arah yang berfungsi sebagai gigi untuk maju, netral, dan mundur. Gasnya diatur dengan dari sejauh mana tuas tersebut ditarik. Sisanya hanya setir yang sama persis dengan mobil, hanya saja kalau mobil maksimum 2 putaran, di kapal ini putarannya banyak sekali! Sampai pegal memutarnya. But you know what? It feels sexy and I feel like Nami!

Do I look like Nami? :)

Setelah dirasa cukup istirahat, sejam kemudian kami nyemplung lagi di dive-spot berikutnya bernama Table Coral. Karakteristiknya berbentuk sea-mount dengan berbagai jenis table coral, staghorn coral, cabbage coral, sponges, brain coral, dan gorgonian. Di sini kami bertemu satu kompi barracuda besar yang berbaris dengan gagahnya, tak bergeming saat kami memandangi mereka. Selain itu juga ada sea-snake yang menari dengan genit, trevallies besar yang melintas sesekali, lizardfish yang bertengger di atas brain coral, puffer biru yang sangat amat boxy, anemone fish berwarna menyala di antara staghorn coral, teripang, dan bintang laut.

Table Coral - Soft corals

Table Coral - Sea snake dancing nimbly

Yihaa!! I'm swimming with the barracudas!

Lizardfish yang hobi nemplok

Table Coral - Sesuai namanya, table coral ada dimana-mana

Table Coral - Hey puffer!

Keesokan harinya, petualangan bawah laut kami masih berlanjut. Hari kesembilan dalam perjalanan kami dimulai dari dive-spot bernama Dunia Baru. Karakteristiknya berbentuk slope dengan sandy bottom. Warna-warninya menakjubkan, seperti aquarium bawah laut raksasa yang bahkan sudah dapat dinikmati dengan snorkeling.  Soft coral mendominasi dengan selingan brain coral, sponge, sea fan, dan anemone. Kami juga menemukan berbagai jenis ikan-ikan unik, seperti eagle stingray yang tidak sempat terfoto karena langsung terbang melenggang dengan anggunnya, teripang, aneka nudibranch cerah, sepasang trevallies besar yang sedang berkejaran, bintang laut biru, clown triggerfish dengan warna-warni mencolok mata, trumpetfish kuning yang langsing, dan lobster yang tengah bersembunyi di sarangnya. Kata dr. Yudi bila nightdive disini akan banyak menjumpai banyak lobster dan shrimp yang keluar dari sarangnya.

Definitely giant aquarium!

Bright nudibranch

Nice symbiosis

Blue starfish

Yellow Trumpetfish

Soft coral as far as you can see

Hey lobster, don't you wanna say hi?

Waktu beristirahat selama sejam lalu kami habiskan dengan island hopping ke sebuah pulau kecil cantik tak jauh dari lokasi diving. Namanya pulau Waha, dengan batu karang besar dan pasir putih yang lembut. Sayang banyak kotoran yang terbawa arus ke pantai. Di pulau ini kami duduk bersantai di pantai dan berendam di airnya yang hangat, sebelum siap nyemplung lagi di dive spot kami yang terakhir.

Pulau Sawa

Next stop kami bernama Gunung Waha, yang karakteristiknya berbentuk pinnacle yang terekspos arus. Tadinya kami berencana mengelilingi pinnacle dimulai dengan rute melawan arus terlebih dahulu, lalu kembali dengan drift dive (diving mengikuti arus). Tapi arusnya sungguh sungguh sangat kuat, dan inilah dive spot yang paling menguras tenaga. Beberapa kali kami berpegangan pada karang melawan arus, bahkan ada batu karang yang sampai terlepas saking kuat arusnya. Tapi sesungguhnya arus yang kuat adalah surganya ikan-ikan besar, yang sayangnya membuat kami tak bisa cukup steady untuk mengambil foto-foto terbaik.

Coral yang umum adalah soft coral, brain coral, table coral, staghorn coral, dan cabbage coral. Kami bertemu ikan bumphead besar, schooling tuna fish yang tak kalah besarnya (yes you would expect a BIG fish when you're diving on strong current), clown triggerfish yang kami temui berkali-kali, big-eye fish, lizardfish, serta crocodile fish yang cantik di akhir dive kami.

Gunung Waha

Ini cabbage coral favorit saya!

Corals in Gunung Waha

Ikan totol-totol

The clown triggerfish

Crocodile fish yang pintar menyamar
...

Dan demikianlah petualangan kami di Tomia ternyata harus berakhir juga. Selama beberapa hari kemarin rasanya seperti menjalani hidup dalam mimpi. Bangun, makan, diving, island hopping, makan, diving, makan, tidur. Tapi all good things comes to an end. Sebenarnya masih ada 2 pulau yang ingin kami datangi: Pulau Hoga di Kaledupa dan Pulau Binongko.

Hoga sejak dulu sudah terkenal pula akan dive-site-nya, in fact merekalah yang terlebih dahulu mengembangkan wisata diving di Wakatobi. Saya sangat tergoda untuk menjelajah dive-spot disana, yang katanya selain diving dan snorkeling, kita juga bisa Dolphin Watching dan melihat panorama sunset dan sunrise terbaik. Tapi informasi dari penduduk sini, di Hoga belum ada penginapan yang ber-AC. Di musim hujan seperti ini, tanpa AC bisa dipastikan kami akan jadi santapan empuk nyamuk-nyamuk ganas. Selain itu, belum ada fasilitas air tawar yang baik, alias masih asin. Sedangkan pulau Binongko tidak terlalu kaya dengan dive-site. Obyek wisata menarik disana hanyalah pakam pahlawan nasional Pattimura. Jaraknya pun cukup jauh, dan belum ada fasilitas untuk wisatawan. Dengan alasan tersebut, kami memutuskan untuk skip kedua pulau tersebut dan kembali ke Wangi-wangi.

Hoga dan Binongko yang belum sempat dijelajahi :(

Esok paginya, hari ke sepuluh dalam perjalanan kami, setelah sarapan dan pamit pada dr.Yudi, kami menyeberang kembali ke pulau Wangi-wangi dengan speedboat. Tidak seperti kapal kayu yang kami tumpangi kemarin, speedboat jauh lebih nyaman, meskipun sepanjang jalan kami ditemani lagu-lagu dari speaker buluk yang mendendangkan lagu pilihan awak kapal, yang berarti adalah lagu alay dan lagu dangdut, hahaha.

Nampak sangat nyaman yaah,,, hihihi

Sesampainya di Wangi-wangi kembali, setelah makan siang, saya segera menuju RSUD Wanci untuk menjalani terapi hyperbarik oksigen murni. Ini adalah konsekuensi accident kemarin, dimana terapi ini wajib dilakukan sebelum saya naik pesawat. Jadi, terapi hyperbarik atau disebut juga Recompression Chamber adalah terapi dimana pasien dimasukkan ke dalam tabung serupa kapsul besar, dan di dalamnya diberi tekanan udara seperti sewaktu kita menyelam. Dengan demikian buih-buih nitrogen yang menyumbat didalam aliran darah akan kembali melarut didalam darah, dan dinetralisir secara alamiah oleh tubuh melalui proses pernafasan.

Hyperbaric chamber yang nampak rumit :p

Untuk menjalani terapi chamber ini kami harus janjian dulu dengan yang staff penjaganya. Soalnya ternyata RS ini letaknya di ujung kota dan sepiiiii sekali. Tidak nampak ada kehidupan sama sekali saat kami kesana. Di dalam chamber yang katanya bisa untuk 6 orang ini ternyata sempit sekali, dan karena bentuknya yang bulat, saya jadi tidak bisa duduk dengan nyaman. Sebenarnya ada chamber seperti ini di lokasi terpencil seperti Wangi-wangi saja sudah ajaib, sepertinya diadakan sebagai konsekuensi dipromosikannya Wakatobi sebagai daerah wisata diving. Nah, tidak seperti fasilitas chamber di kota, di sini belum tersedia AC di dalam chambernya. Jadilah selama hampir sejam berada di dalam saya sukses terpanggang dan keringat mengucur deras sampai begitu keluar dari chamber rupanya seperti habis mandi sauna. Kata mas penjaganya, terapi oksigen murni ini bisa juga untuk kecantikan supaya awet muda atau untuk mempercepat recovery misalnya pasca patah tulang. Biayanya untuk sekali terapi adalah 350rb.

Hyperbaric chamber RSUD Wanci

Inside chamber

Esoknya, hari kesebelas yang juga hari terakhir perjalanan kami, adalah waktu dimana kami harus meninggalkan Wakatobi. Kami sampai di bandara Matohara dengan menyewa taksi seharga 100rb. Karena kemarin kami langsung dijemput, saya baru menyaksikan sendiri rupa bandara kecil ini. Hanya ada 1 counter check-in dan ruang tunggu kecil yang ACnya tidak menyala. Tadinya kami bermaksud naik Express Air yang jurusannya langsung Wakatobi-Jakarta, tapi harganya gila-gilaan, 2.5jt! Untung kami diberi tahu trik alternatif murah oleh dr.Yudi, yaitu naik Express Air ke Kendari dulu, lalu dilanjutkan naik pesawat komersil Kendari-Jakarta. Express Air yang ke Kendari memang lebih murah, 400rb fix, karena disubsidi pemerintah.

Adios Wakatobi!

Wangi-wangi - Kendari ditempuh dalam waktu yang cukup singkat, tidak sampai 1jam. Bandara Hauoleo di Kendari ini surprisingly cukup megah dan bagus bangunannya. Sampai disini kami segera ke counter ticket, tapi ternyata pegawainya masih banyak yang makan siang sampai jam2. Menyebalkan! Akhirnya setelah membandingkan tiap counter Lion, Batavia, dan Garuda, kami mendapatkan tiket seharga 1.2jt yang berangkat 2 jam kemudian (plus delay hampir sejam).

Bandara Haluoleo yang cukup keren


Dan dengan demikian, berakhir sudah petualangan bahari kami di jantung segitiga coral dunia, Wakatobi. Sungguh, tak habis-habisnya decak kagum mengagumi keindahan alam negeri kita ini. Tak heran, seantero dunia berbondong-bondong datang dari jauh untuk menyaksikannya. Jadi kalian, mari datang, saksikan dengan mata kepala sendiri, lalu kabarkan indahnya pada dunia!!



  

Someday You'll Look Back and Smile... (A Tribute to SMUN 10 Melati)

  
 
Pernahkah kamu mengenang masa lalu hingga tersenyum-senyum simpul?


Saya sering. Nyatanya, saat ini pun saya tengah melakukannya. Memutar roll memori dan merasa bahagia hanya dengan mengingatnya. Dan saya menemukan, bahwa kenangan pahit pun bisa jadi begitu menyenangkan dan bermakna, saat dilihat dari belakang.

Dulu, 10 tahun lalu (yeah it's been that long!), saya masuk ke SMA yang menerapkan sistem semi-militer boarding school. Saya menetap di asrama dengan segala rutinitas dan aturannya yang begitu menyiksa. Jam 5 subuh sudah bangun untuk senam pagi. Lanjut sarapan, apel pagi, sekolah pagi, makan siang, sekolah siang, apel sore, olahraga sore, kegiatan keagamaan sore, makan malam, sekolah malam, apel malam. 

Dulu, asrama ini neraka buat saya. Tak sedetik pun saya lewatkan tanpa berpikir bagaimana caranya bisa kabur tanpa sepengetahuan pak TNI yang berjaga. Tak sedetik pun saya tak menyesali keputusan masuk ke sekolah jenis ini. Sebagai anak muda yang mengedepankan kebebasan, hidup rasanya seperti dirampas kenikmatannya (seddaaaap..).

Saya ingat, dulu ada momok mengerikan yang namanya Pendadakan. Adalah seperti namanya, kami mendadak dibangunkan tengah malam buta dengan lonceng, dan dikumpulkan di tengah lapangan. Biasanya terjadi bila senior menganggap ada kesalahan besar yang telah kami perbuat. Semalaman itu kami akan dihujani caci maki, dimarahi, diteriaki, dan tentu tak lupa bumbu-bumbunya: push up, jalan jongkok, dan merangkak.

Itu belum lagi termasuk siksaan setiap hari, dimana bila kami ke sekolah setiap pagi, akan ada anggota TNI dan Pengasuhan yang mengecek ke kamar. Seyogyanya kamar (yang diisi berempat dengan bunkbed model di penjara) harus selalu rapi, seprei terpasang kencang, tidak ada sampah, pakaian terlipat sesuai ketentuan, tak ada kotoran dan debu sedikitpun, teras disapu bersih, dan capstock cucian disusun rapi. Baju harus dilipat 16cm, ditata berdasarkan warna gelap ke terang. Kalau ditemukan sedikiiit saja cela, pak TNI akan dengan senang hati menyuruh kami lari keliling lapangan, terkadang dengan bonus membawa barang bukti di TKP. Jadi, jangan heran kalau di sore hari yang indah melihat gadis manis sedang jogging sambil menyeret kasur, haha..

Ulah Para Pria

Singing on the Farewell Party

Dalam Seragam Kebangsaan

Basah Kuyup Setelah Dibantai :)

Tidur Di Kelas Adalah Hobi Saya

Karena jauh dari keluarga, disini kami memiliki keluarga replika yang tak kalah dekatnya dan menariknya. Masing-masing kami punya kakak dan adik asuh yang kepopulerannya disini mengalahkan pemilihan Miss Universe. Karena tinggal di asrama, pacaran pun punya aturannya sendiri. Mojok cuma boleh dilakukan di pojok-pojok yang direstui, seperti di bawah lonceng, di pojok kantor pengasuhan, di ruang makan, di depan warung kecil di bawah tangga, atau sambil lari sore.

Jika kalian pernah melihat para tahanan makan di penjara, persis begitulah cara kami makan. Makan dengan ompreng, susu cair, dan ayam goreng yang kadang-kadang masih berbulu. Waktu masih kelas 1 paling sial karena masuk ruang makan selalu paling bontot sehingga selalu dapet ompreng sisa yang lauknya bokong ayam. Kalau hari Jumat waktunya makan bersama keluarga asuh. Kalau ada yang ulang tahun, dimejanya ditumpukin ompreng sampai tinggi.

Belajar Malam
Kamar Penuh Kenangan
Kegiatan Keagamaan Setiap Sore

Dining Hall

Wong Pitoe - Wanita Kelas Accel
...

Tapi, menengok kembali ke masa itu, tak pernah gagal membuat saya tersenyum, bahkan terbahak-bahak sekalipun. Reuni bersama kawan SMA pun tak pernah sunyi dan lepas dari nostalgia-nostalgia penuh kegilaan ini. Masa-masa itu ternyata memberi kenangan yang sangat berbekas di ingatan. Dan heyy, bahkan masa-masa terpahit saat itu selalu menjadi momen yang lucu bila diingat kembali. Tak pernah sekalipun kami berpikir betapa menderitanya kami kala itu, yang ada adalah betapa menggelikan, betapa tak terlupakan semua momen yang kami lewati.

2 Years Later - Gilagilaan di Jatos

4 Years Later - Pose Favorit with Besties

6 Years Later - Acara Favorit Bersama: Karoke!
10 Years Later - Reuni Besar

Satu petuah menarik dari (Alm) Steve Jobs yang selalu saya ingat adalah tentang bagaimana kita connecting the dots:
“You can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life”

Connecting the Dots

Mengingat kembali ke masa-masa itu, akan membuat kita menyadari, bahwa seberat dan sesakit apapun, perjalanan itulah yang menjadikan diri kita seperti saat ini. Duri-duri itulah yang menempa dan membentuk kita.

Jadi lain kali, saat Anda merasa hidup sedang sangat tak bersahabat, ingatlah. Ingatlah, bahwa someday you’ll look back. No matter how hard it was, no matter how painful it was. Someday you’ll look back and smile.
 
   

NB: Didekasikan untuk kawan-kawan terbaikku yang pernah senasib seperjuangan di asrama. Really miss those old times, buddies :) 

  
      
  

That's It, I Quit!

  
Hari ini sebulan saya bekerja di divisi yang baru.

Yup, setelah 3.5 tahun bekerja sebelumnya di divisi X (berasa kayak cerita di rubrik Oh Mama Oh Papa, hihihi), saya akhirnya memutuskan untuk angkat kaki dan mencoba peruntungan di tempat baru. Tak ada asap bila tak ada api. Tak ada hujan bila tak ada awan. Tak ada reaksi bila tak ada aksi. Cukup lama saya memantapkan tekad, tapi berbekal niat mengikuti hati nurani, saya yakin insya Allah akan dituntun ke jalan yang lebih baik. Amin.


Sudah sejak lama saya mengendus ketidakberesan di dept saya itu. Beberapa hal mengganggu dalam skala yang bisa diabaikan. Beberapa hal bisa ditolerir. Tapi beberapa hal lain terasa makin lama makin menyesakkan dada. Saya tahu dan sangat sadar, bahwasanya tempat kerja yang ideal nyaris mustahil adanya. Dan dengan kesadaran tersebut, saya mulai mereka ulang, menelaah kembali, baik dan buruk, untung dan rugi.

Mari mengingat yang baik dulu.

Saya pertama kali bekerja disini. Bahkan sudah bekerja di tempat ini 3 bulan sebelum saya lulus. Sebagai fresh gradúate yang zero experience, saya belajar segalanya disini. Selain belajar tentang pekerjaan, juga tentang dinamika dunia kerja. Dan yang saya maksud belajar, adalah betul-betul belajar. Maklum, saya kuliah di industrial engineering dan terjun sebagai scheduler konstruksi. Saya belajar dari nol, hingga saya yakin now I’m pretty expert at it! Jadi saya tidak akan lupa baiknya orang-orang disini dalam mengajari saya dari awal hingga akhirnya saya bisa berjalan sendiri. Juga pada betapa sabarnya mereka dalam mencontohkan, memberitahu, dan berbagi ilmu.

Lalu pada kawan-kawan yang saya temui disini. Some of them became the best friends of my life. Saya punya sekumpulan teman-teman menyenangkan yang selalu berbagi bersama, dengan rasa kekeluargaan yang luar biasa. Meninggalkan mereka pasti berat, tapi saya meyakini kawan sejati tercipta bukan karena jarak, sehingga tak akan putus karena jarak. Benar begitu?

Saya juga punya bos paling baik sedunia! Bos yang sangat mengerti karakteristik dan potensi saya. Yang meskipun kadang-kadang terlampau cerewet mengingatkan, tapi saya tahu dia melakukannya dengan tulus demi saya. Yang meskipun rajin menyindir, tapi tak pernah benar-benar menyalahkan. Yang meskipun sering ngedumel karena kenakalan saya, tapi tak pernah men-judge nilai manusia dari luarnya saja. Yang sadar betul bahwa adalah prestasi dan performansi saya yang harusnya dinilai, bukan dari pandangan dangkal dan stereotyping. Yang paham bahwa saya ini insomnia akut, dan akhirnya maklum kalau saya kadang-kadang terlambat, tapi selama pekerjaan saya selesai dengan baik, tidak pernah complain. Yah, bos seperti ini layaknya seperti permata, saya tak pernah tahu apakah di masa nanti akan dapat menemui atasan yang jauh lebih pengertian lagi.


Nah, mari kita mulai berjustifikasi...

Kalau ada kerjaan dengan pressure paling besar, tapi dengan reward yang paling menyedihkan, itu mungkin pekerjaan saya. Kalau ada pekerjaan dimana satu frontliner memegang sendirian puluhan project dari skala besar sampai ecek-ecek, itu mungkin yang saya kerjakan. Mungkin bagi mereka yang bekerja dengan prinsip “kerja sesuai basic” gak akan sepusing saya mungkin ya. Tapi saya terlahir dari sananya dengan kromosom sifat yang bernama perfeksionis. So here I am, mempelototi drawing sampai pusing, berdiskusi, belajar, cek lapangan, dan bertengkar dengan konstruksi, semua demi schedule dan eksekusi proyek yang sempurna. And I’m not bluffing, this is much appreciated by all the parties I’m working with, but apparently not so to my bosses. Sesukses apapun proyek yang saya pegang, sesempurna apapun schedule yang saya terapkan, yang saya dapatkan justru hanya cibiran. Tanya kenapa?

Hal berikutnya mungkin umum terjadi di perusahaan lain, tapi entahlah saya rasa praktiknya di tempat saya bekerja agak sedikit berlebihan. Nepotisme parah. Disini, kalian mungkin tak akan terkejut lagi mengetahui bahwa si A adalah keponakan si manajer. Lalu si B dan si C adalah ipar si A. Si B ternyata bersaudara dengan si D. Dan Si D ini adalah sepupu si E. Semua orang nampak berbondong-bondong memasukkan keluarganya ke divisi. Saya basically tidak mengatakan bahwa mereka tak boleh merekrut anggota keluarga mereka. In fact, mereka boleh merekrut satu RT sekalian, I really don’t mind. Yang penting, sekali lagi, yang terpenting adalah, tetap objektif saat menilai performansi mereka. Saya tak pernah keberatan mereka membantu keluarganya mencari mata pencaharian, tapi bekerjalah secara professional. Di tempat saya dulu, ada bonus tahunan $5.000 yang diberikan pada mereka dengan performansi kerja yang anggaplah, beyond outstanding. Nyatanya, bonus itu digilir pada anggota keluarga sang manager, yang sejujurnya, nyaris tak memberi sumbangsih (sigh).

Hal mengerikan lain yang saya temukan selama bekerja di tempat yang lama adalah mereka yang hobinya menusuk dari belakang. Mereka ini, tipe-tipe manusia yang paling saya benci di seantero jagad raya ini. Kata orang bijak, di setiap kantor akan selalu ada manusia yang penjilat boss dan penusuk rekannya. Tapi kadar disini menurut saya, dari pengalaman yang saya rasakan sendiri, sungguh kelewat batas. Adalah bos saya yang pertama, yang dulu saya kira sungguh baik dan peduli. Sampai suatu ketika, semua terkuak dengan indahnya. Ceritanya adalah ketika saya tak kunjung dipermanen, padahal sepertinya performansi saya tidak mengecewakan. Datanglah saya pada pak bos ini menanyakan musababnya, dan beliau meyakinkan saya bahwa dia sudah berusaha mati-matian agar saya dipermanen, tapi sang manager yang belum membolehkan dengan alasan attitude. Saya bahkan dibuatnya percaya bahwa pak manager-lah yang sepertinya agak tidak suka pada saya. Tidak mau berburuk sangka, saya menghadap pak manager, bertanya ada masalah apa yang membuat saya tak kunjung dipermanen hingga sekarang. Jawaban manager saya itu, membuat saya shock. Beliau berkata bahwa sudah dari dulu beliau berniat mempermanenkan saya, tapi bos saya sendiri yang memberi kesaksian bahwa saya belum patut dipermanen. Damn damn damn, seketika itu juga semua kebaikan dan manis kata si bos yang sok peduli itu terlihat benar-benar palsu. Beberapa waktu kemudian, saya baru mengetahui bahwa si bos ternyata memang tak pernah suka pada saya, khususnya melihat performansi saya yang somehow dianggapnya melampaui beliau. Di titik itu pula, saya berjanji untuk tak percaya pada siapapun lagi di dunia kerja ini.

Sebagai seorang anak TI yang baik, saya selalu yakin, customer success adalah (harusnya) key value perusahaan manapun yang bergerak di bidang manapun. Dan bekerja di divisi yang tidak mengedepankan hal ini membuat saya frustasi. Saya percaya bahwa kepuasan client adalah juga kepuasan kami sebagai provider jasa, sedangkan iklim bekerja disini menekankan bahwa selagi kita satu-satunya penyedia jasa sejenis, maka biarkan customer yang mencari kita. Kadang-kadang point of view ini berusaha saya luruskan lewat percakapan sehari-hari, tapi kalau tidak digagas dan dibiasakan sebagai budaya divisi, memang sepertinya agak susah. Yang lebih menakutkan adalah kalau kebiasaan ini turut mendarah daging menulari saya, better kick my ass out of here a.s.a.p!


But anyway, there’s always priority in life. Untuk beberapa kawan lain, prioritas itu mungkin merenda hidup baru dalam rumah tangga, mungkin merawat ibunda tercinta di luar kota, mungkin mencari penghasilan yang lebih menjanjikan. Bagi saya, prioritas itu adalah my own life values. Hal-hal yang saya anggap prinsip hidup, pilar utama, dan kebutuhan hakiki saya. Dalam hal ini, saya bekerja tidak semata untuk uang. Adalah aktualisasi dan pengembangan diri yang membuat saya passionate dalam bekerja. Oleh sebab itu bekerja di lingkungan yang tidak mengerti rewards and appreciation ibarat berjalan di atas duri. Tidak mustahil dilakukan, tapi pasti menyakitkan. Seorang kawan baik pernah berkata ‘Kerjalah di tempat yang bisa menghargai prestasi dan potensimu’, dan yeah inilah yang akan saya pegang.



Saya selalu ingat petuah yang sangat membekas dari Alm. Steve Jobs yang suatu ketika berkata:
"Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And, most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary"
Maka, here I am, mencoba peruntungan di tempat baru, di tempat yang sama sekali asing dan baru. Dan saya siap belajar lagi, siap beradaptasi lagi, siap melangkah lagi, dan siap mengaktualisasi diri lagi. Kali ini, semoga semua prestasi ini dihargai…



  

Rasa Keadilan - Freeport case

  
Disclaimer:

Sejak Juli 2009, telah terjadi penembakan misterius terhadap karyawan Freeport Indonesia. Semenjak itu, jalan utama yang menghubungkan Highland, Tembagapura dan Lowland, Timika – ditutup dan tambahan personel keamanan dikerahkan.  
6 Agustus 2011, sejumlah karyawan yang mengatasnamakan serikat pekerja berunjukrasa dan melakukan mogok kerja dengan tuntutan menaikkan upah karyawan, atas dasar keadilan dengan site Freeport lainnya di dunia. Karyawan ini merasa tidak ada keadilan karena sebagai site Freeport yang paling besar, paling menguntungkan, dan medan kerjanya paling berbahaya, mereka justru menerima upah paling sedikit. Para pekerja akhirnya terbagi menjadi 2 kubu: yang mogok atau pro serikat dan yang terus bekerja atau pro manajemen. 
Mogok kerja ini terus berlangsung hingga saat ini, dan dalam perjalanannya juga turut merenggut total 11 nyawa dan 41 cidera, baik saat bentrok dengan petugas keamanan maupun mereka yang ditembak secara misterius. Para karyawan yang masih terus bekerja kini dihinggapi rasa takut. Komisi IX DPR yang mengurusi ketenagakerjaan lalu melakukan kunjungan ke Papua dan menggelar temu bicara dengan ketiga pihak: serikat pekerja, masyarakat Tembagapura, dan management Freeport Indonesia. 

Tuntutan Pekerja Freeport -taken from detik.com

Merinding. Cuma satu kata itu yang pantas menggambarkan yang saya rasakan saat menghadiri pertemuan tersebut. Betapa temu bicara itu telah menjadi arena menumpahkan segala uneg-uneg, menyuarakan ketakutan yang pekerja dan keluarganya yang tinggal di site rasakan. Dan ketakutan itu telah menjadi begitu akutnya, hingga yang keluar bukan lagi sekedar tuntutan dan permohonan, tapi telah menjadi kemarahan. Lelah atas situasi yang tak kunjung membaik, frustasi karena ketidakpedulian pemerintah.

Dan mereka yang sudah diliputi sinisme ini tak lagi bisa mengontrol kata-katanya. Aku mencatat beberapa komentar yang begitu ajaib dan begitu membekas. Pekerja tambang yang tangguh berbicara tanpa tedeng aling-aling, dengan suara menggelegar mempertanyakan pajak yang dipotong begitu besarnya dari penghasilan mereka, yang tak menghasilkan apa-apa, pun jaminan keselamatan mereka sendiri. Para ibu yang sentimentil, berkisah dengan dramatis, sebagian sambil berpuisi, sebagian bahkan sampai meneteskan air mata, bercerita bagaimana was-wasnya mereka setiap hari menanti para suami pulang, bagaimana ngerinya membayangkan kelangkaan supply makanan karena container yang terus dibakar. Putra daerah asli Papua, yang dengan tajamnya mempertanyakan kedatangan para anggota komisi itu, yang disebut hanya omong kosong dan tak pernah menyelesaikan masalah.

Tanggapan DPR yang hanya berkisar pada akan membawa masalah ini lebih lanjut ke komisi III DPR yang mengurus masalah keamanan, hanya membuat suasana lebih keruh. Beberapa mempertanyakan, mengapa kasus penembakan sejak 2009 tak kunjung juga dikuak. Densus 88 yang di TV nampak seperti pahlawan-pahlawan penumpas kejahatan dan penangkap teroris jitu itu, nyatanya hanya mondar-mandir tanpa hasil di sini. Yang lain berkomentar tentang DPR yang baru datang setelah sekian nyawa hilang. Tapi komentar favorit saya adalah dari seorang pekerja maintenance yang berkata bahwa kami tak perlu semua retorika dan keindahan tutur kata para anggota komisi ini, betapa jawaban mereka akan meneruskan masalah ini ke presiden, sungguh tak lebih bijaksana dibanding tukang ojek. Juara!

Dari pengamatan saya, pekerja dan kalangan keluarga dan komunitas yang hadir sore itu, sebagian besar mendukung manajemen. Mereka juga mengemukakan bahwa jumlah pekerja yang mogok dan yang terus bekerja adalah 4ribu banding 18ribu karyawan, sehingga jelas siapa yang harusnya dipentingkan dalam kasus ini. Dan bahwa pemberitaan media telah menganakemaskan pihak serikat, dan menjatuhkan perusahaan yang sebenarnya sudah sangat beritikad baik.



Aksi Unjuk Rasa dengan Konvoy ke Lowland -taken from halo nusantara
 
Hingga terjadilah satu hal yang sangat saya sesalkan. Seorang ibu yang di akhir acara tetap ngotot ingin berbicara mengungkapkan, bahwa ia adalah istri seorang pekerja serikat yang ikut dalam pemogokan. Beliau menggarisbawahi bahwa, terlepas dari jumlah pemogok yang lebih sedikit, bukan berarti bahwa hak mereka bisa diabaikan. Bahwa bila dikatakan banyak pemogok yang mengintimidasi mereka yang ingin bekerja, banyak pula pihak manajemen yang melakukan intimidasi terhadap para pemogok. Seketika, sang ibu ini nampak menjadi pihak oportunis yang dimusuhi semua peserta acara, diejek, dan di-huuuuuuu.

Dan demikianlah yang selalu saya khawatirkan. Saat rasa ketakutan yang demikian besar itu akhirnya membuat mereka menyalahkan apa yang bisa disalahkan. Berpikir pendek dan merasa karena mereka mayoritas, berarti merekalah yang harus diprioritaskan. Seketika menghakimi bahwa kaum serikatlah biang keladi dari semua rentetan malapetaka ini. Saya sepakat untuk mengusut tuntas akar dari semua permasalahan ini, menangkap dan menindak mereka yang memang terbukti melakukan penyelewengan dan kekerasan. Tapi saya sama sekali tidak sepakat untuk langsung menyalahkan serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab di sini.

Heyy, tiap orang punya rasa keadilan yang berbeda-beda. Yang tak bisa kita samakan, juga dipaksakan. Dan rasa keadilan itu tak ada hubungannya dengan jumlah, maka mari jangan bermain dengan angka-angka. Oleh sebab itu, selain atas dasar ketuhanan, tak ada rasa keadilan yang sifatnya absolute; yang mungkin hanyalah mengkompromikan rasa keadilan dari pihak yang bertentangan. Tapi yang pasti, setiap orang berhak memperjuangkan nilai keadilan mereka.

Mungkin bagi mereka yang tidak turut merasakan keadaan disini tak akan mampu betul-betul berempati, maka mari kita analogikan secara lebih ringan. Coba bayangkan sebuah keluarga dengan dua anak, dimana si sulung diberikan uang jajan yang lebih banyak dari si bungsu. Perhatikan rasa keadilan yang dimiliki keduanya. Jika anda jadi si sulung, mungkin anda merasa keadilan sudah terpenuhi di situ, dengan alasan anda tentu butuh lebih banyak uang untuk kebutuhan lain dibanding adik anda. Tapi kalau anda jadi si bungsu, apakah anda masih merasa rasa keadilan terpenuhi di situ? Anda pasti berpikir bahwa orangtua anda telah berlaku tidak adil karena membeda-bedakan perlakuan mereka dengan sang kakak. See? Rasa keadilan ini adalah menyangkut objektivitas personal, mustahil membuatnya sama rata.

Dan tahukah anda, bahwa manajemen menyediakan insentif 200ribu hingga 1 juta perhari untuk mereka yang tetap bekerja dan membantu produksi selama mogok berlangsung? Jika para anggota serikat ini sampai melewatkan kesempatan untuk memperoleh upah 1jt perhari, maka tentulah apa yang tengah mereka perjuangkan itu begitu pentingnya bagi mereka, jauh lebih penting melebihi pundit-pundi itu. Mari kita berandai-andai lagi. Kalau misalnya perjuangan mereka dalam menuntut kenaikan upah itu suatu saat terkabulkan, apakah kita yang pro manajemen ini akan dengan tegas menolaknya? Atau tanpa banyak bicara justru ikut menikmatinya?

Saya rasa, masing-masing kita tidak berhak menghakimi satu sama lain. Biarlah kita mencari dan membela keyakinan atas rasa keadilan masing-masing. Yang seharusnya kita perjuangkan, adalah menciptakan situasi yang kondusif untuk proses kompromi itu. Kebenaran hakiki mungkin mustahil diperlihatkan, tapi pasti bisa diusahakan. Pelaku penembakan, pembakaran, tindak anarkis, dan provokasi, itulah yang harus diciduk. Mereka yang berjuang dengan nurani dan kepercayaan masing-masing, mari kita hargai sebagai saudara kita yang tengah tergugat rasa keadilannya, tidak lebih dari itu. 
    

Demo Buruh Freeport -taken from monitor indonesia

Dan well, hingga mulut berbusa dan sindiran-sindiran tak kunjung henti, toh semuanya hanya sampai di situ saja. Satu-persatu kami meninggalkan community hall hanya dengan kelegaan telah menceritakan, dan bukannya ketenangan karena masalah terselesaikan. Akankah semua yang kami curahkan ditindaklanjuti, atau hanya menjadi sebuah acara kunjungan tak berbekas, let’s see…