Rss Feed

Belitung, Negeri Laskar Pelangi - Day 2



Esoknya, karena jam biologis badan yang masih mengikuti jadwal nguli di jobsite, jam 6 pagi kami sudah melek dengan segar bugar dan segera nongkrong di gazebo di bagian belakang hotel persis di tepi pantai. Belum mandi, belum sikat gigi, langsung sarapan nasi goreng, menyesap teh hangat, lalu menghisap rokok ditemani angin pagi dan aroma pasir pantai. Ahhh, nikmatnya tak terkatakan.. The beauty of doing nothing.

Agenda hari kedua ini adalah jelajah ke Belitung Barat! Dalam perjalanan kesana, kami singgah dulu di Rumah Adat Belitung. Jadi rumah ini adalah semacam bangunan tradisional khas Belitung yang juga dijadikan museum mini, tempat pengunjung bisa belajar tradisi dan sejarah Belitung.

Arsitekturnya berbentuk rumah panggung, didalamnya hanya ada satu ruangan luas tanpa sekat. Di sepanjang dindingnya dipajang foto-foto dari jaman baheula tentang sejarah Belitung. Banyak juga dipamerkan barang khas tradisional, replika pengantin adat, alat pertanian, dan diputarkan lagu-lagu adat yang bikin kita seolah terlempar seketika ke Belitung jaman jebot.

Saya, perawan kembang desa yang belum pernah jadi penganten ini, jadi iseng-iseng pengen mencoba baju adat penganten wanitanya. Dan beginilah tampilan saya dalam balutan busana adat. Boook, ternyata ribet yah jadi penganten, selain aksesoris gelangnya yang bunyi kerincing-kerincing tiap bergerak dan hiasan kepala yang waktu dipasang di kepala berasa jadi kayak punya tanduk, gerahnya juga naujubile.

 
Setelah puas melihat-lihat, kami bersiap untuk perjalanan yang agak panjang menuju barat. Jadi, kalau dilihat di peta, rute yang akan ditempuh benar-benar dari ujung timur ke ujung barat pulau. Dan jujur saja, sebenarnya we have no idea tentang bagaimana rute dan kondisi jalan ke sana, but isn’t it the art of getting lost? Hehe.. Pokoknya selama kompas di hp masih menuju arah barat, kami yakin akan baik-baik saja.

...

Menit-menit pertama, tiga sekawan ini masih antusias dan semangat. Ada yang nyetir sambil ngeceng, ada yang nyanyi-nyanyi galau bersama kaset Geisha – yang juga kaset satu-satunya di mobil sampai kami eneg dengar lagunya diulang-ulang, bahkan ada yang sampai koprol-koprol dan sikap lilin di jok belakang. Okesipp.

10 menit berlalu, akibat jalan lurus yang mulus dan super bagus, sayup-sayup mulai terdengar suara ngorok dari jok belakang. Tinggallah sang supir dan saya yang kali ini didaulat menjadi navigator alias cewek cantik yang tugasnya menemani supir ngobrol. 20 menit berlalu, mata navigator mulai panas tapi yang bersangkutan masih berusaha menjalankan tugasnya meskipun omongannya sudah mulai ngalor-ngidul setengah mengigau. Lewat 30 menit, si navigator pun semaput dengan suksesnya.

Tapi, tidur cantik cewek kece ini seketika terhenti waktu mobil mengerem mendadak, melontarkan tubuh penumpang sampai nyaris kejeduk atap mobil. Ternyata oh ternyata, ini adalah modus sang supir dalam membangunkan penumpangnya sambil tetap sok innocent dengan gaya eh-gak-liat-ada-polisi-tidur.

Si navigator pun seketika terbangun dengan kaget, sambil ngelap iler dengan lugunya bertanya, “Kamu siapa? Saya siapa? Dimana ini? Saya mau diapakan? Lepaskan saya..” yang dijawab dengan wajah dongkol sang supir sambil menunjuk ke plang jalan bertuliskan GANTONG.

Horee! Ternyata sudah sampai! Jadi, sudah tahu pelajaran moral ketiga kan? Betul sekali gan, berkendara 2 jam akan tidak terasa sama sekali, kalau agan tidak jadi supir, hehe.

Nah, siapa yang belum pernah dengar Gantong? Oh bukaaan, bukan tempat air, itu gentong. Bukan juga bendi, itu andong bro. Gantong itu nama lokasi di cerita Laskar Pelangi yang tersohor itu. Konon dengar-dengar, semenjak Laskar Pelangi difilmkan dan booming gila-gilaan, nama Belitung juga jadi ikut termashyur. Bahkan tidak jarang ditemui slogan-slogan di penjuru pulau yang mengklaim Belitung sebagai kota Laskar Pelangi. Dan berhubung Laskar Pelangi ini katanya kisah nyata, napak tilas Laskar Pelangi ini akhirnya dijadikan semacam daya tarik pariwisata tersendiri di Gantong. 


Hanya saja ternyata lokasi Laskar Pelangi ini agak berbelit-belit rutenya, karena juga berada di dalam (bekas) kompleks PT. Timah yang tersohor itu. Kalau sudah begini, saatnya navigator kece beraksi dengan cara memikat siapa saja yang bisa ditanyai jalan. Dengan sedikit senyum manis dan keahlian negosiasi yang handal ala Black Widow, para tukang tambal ban atau penjaga warung kelontong pinggir jalan itu akhirnya mau buka mulut juga – hahaha. 

Jadi memang orang Belitung itu pada dasarnya ramah-ramah, suka menolong, dan gemar menabung, jadi tidak ada kesulitan sama sekali untuk bertanya pada mereka. Sayangnya, keterangan dari abang-abang ini juga kadang-kadang menyesatkan, jadi pelajaran moral keempat adalah pastikan untuk paling tidak bertanya pada 2 orang, minimal ada pembanding lah, terus turuti saran abang yang lebih ganteng.

Setelah beberapa kali nyasar, ditambah acara cekcok dan tampol-tampolan, akhirnya mobil kami masuk ke belokan terakhir menuju SDN Muhammadiyah Gantong, sekolah Laskar Pelangi yang sudah kami damba-dambakan sejak tadi. Tapi eits, mata kami lalu tertumbuk pada sebuah rumah putih kecil dengan plang kayu bertuliskan “Laskar Pelangi Tourist Centre”. Karena merasa kami juga turis kan ya – meskipun turis kere – dengan penasaran membuncah, turunlah kami dari mobil. Selagi 2 fotografer itu sibuk dengan tripod dan tetek bengeknya, saya iseng-iseng mengetuk pintu rumah tersebut. Hening.

Saya beranikan diri mengintip, ternyata didalamnya semacam galeri begitu, banyak foto-foto dan lukisan di dinding, perkakas-perkakas nampak berserakan, seperti ada yang sedang dipersiapkan disana. Selain itu, ada seorang pria yang tengah tidur dengan lelapnya di tengah ruangan besar itu. Saya ketuk pintu lagi. Masih tidak ada jawaban.

Saya lalu mengamati foto close-up Andrea Hirata yang dipajang dekat pintu, tanpa sengaja menengok kembali pria yang entah tidur entah pingsan itu, dan ajaibnya kedua wajah itu,,, keritingnya mirip, hidungnya mirip, topinya mirip. Apakah ini fatamorgana, ya Alloh? Sebelum sempat menyimpulkan, saya terpekik, pria itu sudah didepan saya menghunus pisau berlumuran darah! Hahaha. Maksudnya, saya terpekik karena itu Andrea Hirata betulan, saya punya kesempatan foto bareng dengan artis, tapi saya kucel baru bangun, rambut acak-acakan dan gak bawa Relaxa!

Setelah beberapa kali mengetuk pintu dengan agak bernafsu, seorang wanita muda umur sekitar 30-an keluar, entah istri atau manager dari Andrea Hirata. Katanya mereka sedang mempersiapkan event kunjungan dari Singapura. Anehnya waktu kami tanya, apa pria yang tidur disitu tadi benar Andrea Hirata, mbaknya bilang bahwa benar Andrea Hirata sedang di Belitung, tapi beliau sedang keluar dan tidak ada dirumah. Jengjeeeeeeng!! Kami bertiga sontak bertatapan. Setengah linglung, ini apakah sekedar sindrom artis yang lagi-capek-males-ketemu-fans atau memang agak mistis yah bro.

Untungnya, bayangan kejadian tadi langsung sirna begitu kami sampai di SDN Muhammadiyah yang hanya berkisar 5 menit dari tourist-centre. Can’t believe I’m really here, menyaksikan dengan mata kepala sendiri sekolah legendaris ini, meskipun hanya replikanya. Bangunannya memang persis sederhana, agak miring, lengkap dengan balok kayu penyangga di satu sisi supaya tidak roboh. Kelasnya hanya 3 buah, masing-masing sudah reyot dengan dinding yang sudah jarang-jarang.

Mungkin agak lebay yah, tapi saya merasa ada aura magis, semacam kehangatan yang menyusup seketika saat saya melihat betapa sekolah sebersahaja ini tak menyurutkan semangat belajar bocah-bocah pantang menyerah itu. Ah saya jadi malu.. Malu karena perjuangan sekolah saya dulu sebenarnya tak ada apa-apanya dibanding mereka, dan malu karena ternyata resleting saya belum dikancing.
 

Disini kami juga bertemu dengan anak-anak asli penduduk sini yang sedang asyik bermain di sekitar gerbang sekolah. Ternyata mereka ini artis-artis cilik yang bermain di sinetron Laskar Pelangi versi TV, tepatnya pemeran Boreks dan Trapani. Sebenarnya kata orang, tokoh asli Laskar Pelangi pun sampai sekarang masih hidup dan tinggal di Belitung. Tapi mungkin lain kali bisa kita lanjutkan liburan khusus untuk hunting tokoh dan artis Laskar Pelangi :)


Masih di wilayah Belitung Barat, perjalanan lalu dilanjutkan ke Pantai Bukit Batu. Agak perjuangan juga buat sampai ke pantai ini. Jalan menuju kesana agak jauh jaraknya dan meskipun masih beraspal, setelah diperhatikan ternyata makin kedalam jalannya makin sempit, sampai akhirnya hanya jadi jalan setapak yang nampak jarang dilalui orang. Sempat kepikiran buat mutar balik, karena tidak nampak ada tanda-tanda kehidupan dan tak ada satu pun batang hidung yang bisa ditanyai, tapi insting James Bond kami membuat kami pantang kembali kalau misi belum tercapai.

Tapi semakin lama kok, kanan kiri jalan berubah jadi hutan yang makin rapat dan makin gelap karena cahaya matahari terhalang rimbunnya pohon dan semak. Belum lagi partisipasi deretan lampu antik di kanan kiri jalan, yang bentuknya agak kuno-kuno gimanaaa gitu, sungguhan bikin suasana makin horor. Kalau saja kami ini bukan anak-anak sholeh yang rajin sholat, gemar mengaji, dan kuat iman, pastilah saat itu juga kami sudah memutar balik mobil.

Akhirnya rimbunan pohon makin berkurang, jalanan makin terang, dan sampailah kami di sebuah bukit yang asri. Disitu kami melihat sebuah mobil lain yang parkir, dan seketika itu juga kami langsung sujud syukur dan bikin kenduri 7 hari 7 malam. Tidak terkatakan leganya ketemu indikasi eksistensi makhluk hidup disana.

Di bukit ini nampak beberapa bangunan kecil, sepertinya fasilitas wisata, tapi sudah sangat tak terawat. Yah kalau dipikir-pikir lagi, siapa juga yang mau berkendara jauh-jauh kesini cuma buat lihat pantai yang sebenarnya juga ada banyak di seluruh penjuru Belitung. Pilihannya kalau bukan traveler gila dengan rasa penasaran terlampau tinggi kayak kami ini, ya muda-mudi yang lagi cari tempat mojok yang sepi kali ya. Itulah kesimpulan dari investigasi dan analisis sok tahu kami.

Menuruni bukit, ada jalan setapak kecil menuju ke sebuah bilik di seberang. Jalan setapak dan bilik itu membagi pantai menjadi 2 bagian. Dan seperti namanya, pasti sebenarnya sudah ketebak bahwa daya tarik utama dari pantai ini masih berupa batu. Disini batu-batunya tidak terlalu massive tapi banyaaaak. Berserakan dan menumpuk tepat di bibir pantai. Ini tentunya berkorelasi positif dengan populasi udang di balik batu – ngook. Pasir disini putih dan halus, dan ombaknya malu-malu.


Setelah puas foto-foto, nungguin pria-pria ini ngecengin cewek grup turis di bagian pantai sebelah, dan baca surat Yasin 7x juga tentunya, kami kembali melewati jalan setapak berdarah yang ternyata tidak berkurang level horornya, tapi kami akhirnya berhasil keluar dari sana hidup-hidup.  

Destinasi berikutnya adalah Vihara Dewi Kwan Im, masih di wilayah barat tak jauh dari Bukit Batu. Kesan pertama begitu melihat vihara ini adalah.. merah. Kenapa begitu? Pertanyaan bodoh, tentu saja karena viharanya dicat merah, makanya merah. Saya sih sebenarnya belum terlalu banyak melihat vihara, tapi bisa dibilang vihara ini cukup besar dan luas. Ada banyak pendopo, tangga, tempat berdoa, tungku, patung dewa, dan bau dupa yang menyeruak di udara. Kesannya sangat oriental, apalagi dengan ukiran-ukiran naga di pilar-pilarnya yang semuanya berwarna merah.


Kalau boleh jujur, meskipun saya bukan penganut Budha, saya berani bilang bahwa ada aura spiritual sangat kental yang terasa begitu saya menjejakkan kaki disana. Itulah sebabnya, kami berusaha menghormati tempat ibadah ini, cukup melihat, memotret, tidak menyentuh apa-apa, tidak rusuh, dan tidak sompral. Bagaimanapun juga, meskipun sudah jadi obyek wisata, vihara tetaplah tempat sembahyang, tempat kontak vertikal penganut Budha dan penciptanya, terjadi disana. Jadi, ingat untuk jadi traveler yang menghormati budaya yah agan-agan :)


Pulang dari vihara, hari sudah sore dan langit sudah mulai bersahabat. Kali ini insting kami memilih pantai Burong Mandi sebagai penutup. Pantai yang sebenarnya tidak tercantum dalam list itinerary yang kami punya, tapi tiap abang-abang yang kami tanyai di jalan selalu merekomendasikan untuk kesana.

Perjalanan menuju pantai ini sangat menyenangkan. Kami tak lagi menjejak tanah – urrm, kuntilanak maksud lo? – melainkan sudah berupa pasir. Di kanan kiri jalan berjejer rumah penduduk dari kayu yang sederhana. Jendela mobil kami buka, membiarkan wajah kami disapa angin laut sore. Beberapa penduduk lalu lalang dan tersenyum ramah. Ahh, perfect combination!

Pantai Burong Mandi, diluar dugaan tidaklah berbatu-batu seperti yang kami prediksi, yang berarti juga gak ada udang dibaliknya – teteuuup yah. Hanya pantai sederhana, garis pantai yang lurus, air laut yang mulai pasang, ombak bergemuruh, dan pasir putih yang halus. Yang tidak biasa adalah deretan perahu warna-warni eye-catching yang ditambatkan rapi berjejer di sepanjang pantai. Cantik sekali, secantik wanita yang menulis ini.


Sempat dapat beberapa momen sunset, tapi tidak terlalu dashyat. Dan setelah sunset usai dan photo session selesai, tinggallah kami bertiga, duduk berselonjor, menghadap laut, dan bercengkerama dengan ombak – sudah mulai berhalusinasi. Masing-masing dengan khusyuk berkontemplasi, merenung, menggalau, dan apalah itu you name it, sampai akhirnya seorang bapak-bapak teriak dengan hebohnya, dilarang duduk di atas perahu katanya, sambil mengacung-acungkan jarinya, yang sukses bikin kami lari terbirit-birit sambil nyengir-nyengir.


Seiring dengan tuntasnya perjalanan petang itu, sebuah PR masih menunggu kami. Menyetir pulang selama 2 jam, pemirsa! Dan untuk pertama kalinya selama saya hidup, saya bersyukur sekali dilahirkan sebagai perempuan, hihi. Let the boys handle such thing! Saya tinggal duduk, nyemil, ngobrol, tewas, bangun-bangun sudah sampai hotel. Tapi berhubung sialnya saya kebelet pipis, akhirnya saya malah jadi tidak bisa tidur.

Di tengah jalan kami sempat kelimpungan, tak tahu arah pulang. Maklum, sudah gelap dan kami sudah berputar-putar seharian tadi. Akhirnya saya didaulat lagi untuk kembali memikat abang-abang, bertanya jalan pulang. Abang-abang itu pun tak sanggup menahan pesona saya dan akhirnya membocorkan jurus pamungkasnya. Katanya, kalau mau sampai ke kota, ikutin saja tiang listrik di pinggir jalan, itu pasti jalan utama ke kota. Dan benar loh, berbekal petuah si abang-abang, perjalanan pulang kami lancar car carrrr tanpa nyasar lagi.

Sungguh advice yang luar biasa sekali saudara-saudara, kami sampai sembah sujud ke abang ini. Nih abang, jurusnya ngalah-ngalahin tips and trick-nya Lonely Planet. Dan ini adalah pelajaran kelima yang kami pelajari di Belitung, sekaligus yang paling cihuy.

Sampai di kota, berhubung kami sudah keburu busung lapar, gak ada waktu lagi untuk hunting resto-resto enak, dan ini malam minggu lohh pliss deeh, mau liburan sampai ujung pulau juga yang namanya anak muda harus tetap eksis. Akhirnya kami ke pantai Tanjung Pendam lagi, tapi kali ini agak naik kelas sedikit, bukan nongkrong di warung tapi di café. Sebenarnya bukan menunya, atau lokasinya, yang bikin kita tertarik singgah, tapi karena ada live musicnya. Dan pemain gitarnya ganteng, hehe.

Nama cafénya Kareso. Makanannya standard lah, harga so-so, tapi itu performance band-nya bener-bener cendol ijo, gan. Lagu-lagunya asoy, aransemennya pas, dan suara vokalisnya, – sebagai sesama biduanita meskipun aye cuma penyanyi dangdut panggilan dari kampung ke kampung skala ecek-ecek, saya tahu persislah kualitas suara mereka, keren! Yang ngerusak suasana cuma ini penonton-penonton yang terlalu pede terus sok-sokan nyumbang lagu. Sungguh antiklimaks. Kami langsung bubar jalan.

Nah, burung irian burung cendrawasih. Cukup sekian dan terima kasih. Tunggu kelanjutan petualangan kami di episode Day-3 yahhhh :)


...


Note:
1. All pictures copyright Hadi Firdausi, Maidy Putra, dan Eva Bachtiar.

2. Baca juga petualangan sebelumnya di hari pertama di Halo Belitung - Day 1.

Halo Belitung! - Day 1



Well, sebenarnya perjalanan ini dilakukan tepat setahun yang lalu, tapi baru sekarang benar-benar punya waktu untuk mendokumentasikannya dengan baik. An unforgettable trip, and you'll know why :)

Jadi, tebak kemana kita pergi kali ini? Yup, Belitung, yang akhir-akhir ini sedang trending di dunia pariwisata Indonesia. Rombongan kali ini terdiri dari tiga orang rekan kerja yang sudah saling kenal luar dalam, hehe.. Dengan berbekal itinerary acuan entah dari mana, e-book Lonely Planet yang surprisingly punya ulasan yang lumayan lengkap, dan memori hasil tontonan film Laskar Pelangi, berangkatlah kami, seperti biasa hanya berbekal keyakinan bahwa: what will be, will be :)
 

Titik keberangkatan awal adalah dari Jakarta, dengan tiket pesawat termurah yang bisa didapat, bertolaklah kami ke bandara Belitung, Tanjung Pandan. And with the cheap tickets, comes the delay consequence, hehe. Pesawat kami sukses delay 2 jam, membuat kami terlantar berdesakan di bandara macam ikan pindang dengan penumpang lain. Begitu sampai di bandara H.A.S. Hanandjoeddin, kesan pertamanya adalah… panas – ya iyalah, what do you expect? – dan belt conveyor di bandara yang panjangnya cuma secuprit – urrrm, baiklahh, ini memang observasi subyektif yang tidak penting.

Setelah celingak-celinguk memperhatikan iklan-iklan hotel yang dipampang di bandara, dan berkesimpulan bahwa range harganya diatas kemampuan backpacker-backpacker kere macam kami ini, keputusan pertama yang kami ambil adalah, how to escape from the airport first, and let God do the rest, hehe.

Dan doa kami ternyata dijawab Tuhan dalam wujud seorang pria kurus dengan jambul klimis disisir ke atas dalam setelan anak muda perlente, yang menghampiri kami dan menawarkan taksinya. Sebutlah namanya Kumbang.

Setelah tawar-menawar harga, yang ternyata tak bisa ditawar, kami lalu dibawa oleh mas ini ke daerah sekitar Tanjung Pandan. Dalam perjalanan, pada mas-mas ini kami curhat betapa kami hanya sanggup afford hotel-hotel kelas menengah, karena sudah sekian lama kerja di perusahaan emas kayak kuli tapi gaji gak naik-naik – eaaaa, curhatnya keterusan.

Mas ini lalu dengan baik hatinya mengantarkan kami melihat-lihat 3 hotel yang menurutnya sesuai dengan tampang dan dompet kami. Di hotel pertama, Pondok Impian II, kami langsung jatuh cinta pada injakan kaki pertama. Hotelnya model arsitektur Bali dengan warna coklat yang kental, lingkungan yang cozy, ibu resepsionis yang menyambut kami dengan super ramah dan keibuan sekali, dengan banyak gazebo di bagian belakang yang langsung menghadap ke pantai. Bahkan setelah melihat 2 hotel berikutnya, hati kami sudah tertambat di tempat ini.





PR berikutnya adalah mencari mobil sewaan dengan harga yang pas di kantong. Semua nomor kontak rental mobil yang kami punya membandrol harga 300-350rb sehari, tapi mas ini ternyata bersedia menyewakan mobil Avanza yang tengah kita kendarai itu dengan 250rb sehari.

Jadi setelah deal harga, mobil langsung kami bawa dan mas itu kami suruh pulang jalan kaki, hehe. Enggak deng, dia dijemput sama anak buahnya, dan setelah kami lihat kartu namanya, ternyata beliau ini adalah manager tour and travel gitu. Beuh! Pelajaran pertama di Belitung adalah, don’t judge people hanya dari jambulnya. Okesipp.

Nah, coba tebak agenda pertama kami di Belitung hari ini? Karena tak mau kalah dengan keklimisan mas Kumbang, kami pun bertekad untuk mencari salon terdekat. Tentunya agar nantinya bisa ngeceng maksimal, penampilan pun harus menunjang bukan? Dan ternyata susahnya naujubile menemukan salon yang convenient (menurut saya) di Belitung ini, sampai nyaris setengah jam berputar-putar, hingga akhirnya saya menyerah karena diancam bakal diturunin di tengah jalan.

Di sebuah salon sederhana di pinggir jalan, kami potong rambut dan di luar dugaan ternyata hasilnya bagus! Tapi setelah dipikir-pikir, memang rambut saya sudah bagus dari sananya, jadi dipotong model apa saja dan di salon mana saja juga pasti tetap enak dilihat – minta disembelih gak sih? :)


Sambil istirahat sejenak, kami lanjut menyusun strategi dalam menghadapi iklim persaingan global di tengah ketidakpastian harga emas dan tembaga. Tapi karena terlalu mumet kami akhirnya ganti menyusun strategi bagaimana caranya melarikan mobil mas Kumbang. Tapi karena gak tega kami lalu akhirnya menyusun strategi yang gampang-gampang saja, yaitu strategi mengitari kota Belitung ini – ngoook, agak antiklimaks ya?

Berbekal peta dengan spot-spot wisata, bisa disimpulkan bahwa Belitung ini terbagi dalam beberapa area besar, Timur, Utara, Selatan, dan wilayah kepulauan di sekitar garis pantai utara. Karena kami menginap di Barat, maka area terdekat yang bisa dikunjungi sore itu adalah ke utara atau ke Tanjung Kelayang.


Perjalanan ke Tanjung Kelayang makan waktu sekitar setengah jam. Tahu apa yang paling menakjubkan dari Belitung? Jalan rayanya, saudara-saudara! Oh tidak, anda tidak salah baca, kami pun takjub betapa jalan raya di sini bahkan jauh lebih bagus dari jalan di kota-kota besar. Jalan disini luas, mulus diaspal, tanpa cacat, no bumpy road, dan yang paling penting: lengaaaang! There’s no such thing yang namanya macet, wong mobil juga hanya papasan sekali-kali.

Begitu lengangnya disini sampai mobil bisa dipacu ratusan km/jam kalau kita mau. Not to mention marka jalan dan signboard yang komplit plit plit di setiap persimpangan. That’s why road trip could be soooo fun disini, apalagi kalau sore-sore kita bisa membuka jendela dan merasakan langsung angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah. That’s little heaven on earth :)


Sampai di Tanjung Kelayang, terjadilah pertemuan pertama kami dengan batu-batu massive khas Belitung yang tersohor itu. Batu-batu ini tersebar di dekat bibir pantai dengan posisi dan bentuknya yang eksotis. What a view lah pokoknya. Kebetulan saat itu sunset sudah hampir turun, jadi sore itu diisi full dengan photo-session.

Dan berhubung ini 2 pria pada bawa-bawa kamera gede dan sibuk motret-motret semua, sudah ketebak kan siapa yang jadi modelnya? Apa?? Saya?? Salah besar.. Yang jadi modelnya tetap batu-batu itu, saya cuma ornamen pelengkapnya, yang difoto di sebelah batu biar jadi pembanding ukurannya gitu. Sedih ya? Yah begitulah. Jadi, pelajaran kedua di Belitung, berliburlah dengan fotografer supaya banyak difoto, tapi jangan fotografer yang lebih tertarik pada obyek batu daripada modelnya – halaaah :).



 
Setelah puas berburu sunset, yang durasinya tidak sepanjang yang diharapkan karena keburu mendung, masih dalam keadaan setengah basah – why does it sound so wrong? – kami langsung makan di pantaai Tanjung Pendam. Pantainya hanya 2 menit dari hotel tempat kami menginap, yang konon juga arena hang-out paling gaul warga sini. Banyak warung-warung makan seafood, gazebo kayu tepi pantai, penjual-penjual asongan, dan warga yang tumpah ruah di sini. Kenyang makan ikan bakar, cumi bumbu, dan cah kangkung, dengan mata kriyep-kriyep kami pulang ke hotel dan tidur pulas.

Tunggu kelanjutannya di episode Day-2 yahhh :)


...


Note:
All pictures copyright Hadi Firdausi, Maidy Putra, dan Eva Bachtiar.

Tentang Mantan



...

Saya selalu heran dengan orang-orang yang bersikukuh untuk bermusuhan dengan mantannya pasca putus cinta. Entah itu dengan menghapus namanya dari contact hp, menghindar untuk bertemu, atau seandainya bertemu lalu membuang muka, membakar barang-barang peninggalan mantan (mulai anarkis), you name it. Mungkin tidak semua cerita bisa digeneralisir, tapi secara garis besar, saya pribadi, merasa hal-hal seperti ini tidaklah perlu. Marilah kita berantas tindak-tanduk generasi lebay semacam itu.



Pernah dengar pepatah Barat bahwa a dog will behave just like his man? Well, mungkin maksud sebenarnya adalah, seiring waktu, sadar atau tidak sadar, tingkah laku kita akan semakin menyerupai orang yang kesehariannya dekat dengan kita, atau dengan orang yang banyak menghabiskan waktu bersama kita. Tak jarang, saat kita menjalin hubungan dengan seseorang, terjadi pertukaran value dan kompromi. Yang namanya dua individu disatukan, mau tidak mau kita akan berusaha menerima, atau setidaknya bertoleransi dengan value individu masing-masing.

Nah, saya punya beberapa kisah unik tentang kebiasaan-kebiasaan mantan saya, tentang pertukaran value ini. Seorang mantan saya dulu, selalu misah-misuh kalau setelah makan di warung saya membuang abu rokok ke piring. Menurutnya, pada prinsipnya, piring merupakan tempat makanan, dan adalah penting untuk menghormati makanan. Dulu sih saya sering sewot dan merasa direpotkan, tapi ternyata semenjak itu, kini saya yang mengingatkan teman-teman saya untuk berbuat serupa.

Mantan saya yang lain membuat saya lebih dekat Yang Kuasa. Karena dia rajin sholat, saya akhirnya tak pernah absen diingatkan terus-menerus untuk tidak melewatkan sholat. Kalau sudah waktunya sholat, daripada saya bengong saya lalu ikut dia sholat. Begitu seterusnya sampai saya merasa bahwa sholat dan berkomunikasi dengan Tuhan adalah kebutuhan saya sendiri. Alhamdulillah yaaaahhh :)

Para mantan ini juga kalau diingat-ingat, tak jarang menjadi pintu kita untuk berkenalan dengan dunia lain yang selama ini mungkin tak akan kita jumpai sendiri. Saya sendiri, berkenalan dengan dunia komik, jatuh cinta pada diving, tergila-gila dengan basket, dan mengenal air-soft gun, berkat mereka. Mereka ini tanpa sadar ternyata sudah menjadi guru kehidupan kan ?

...

Dalam kasus saya, mereka bahkan mengajarkan hal-hal yang jauh lebih berarti, jauh lebih hakiki. Hal-hal dalam hidup yang mempelajarinya paling baik adalah dengan mengalaminya langsung, tak ubahnya seperti mereka yang harus jatuh dulu sebelum bisa naik sepeda. 

Pasca putus dengan mantan dari hubungan selama tujuh tahun, saya akhirnya menyadari bahwa sama sekali bukan durasi yang menjadi tolak ukur cinta sejati.

Sekali patah hati paling dashyat menyadarkan saya bahwa simply rahasia jodoh itu ada ditangan Yang Kuasa. Sekuat apapun kita berusaha, sekuat apapun kita menahannya, kalau Tuhan bilang tidak, ya apa mau dikata. Dan setelah berjibaku sekian lamanya dengan hati, here I am, ternyata saya baik-baik saja. Jadi saya belajar bahwa move-on itu susah, mungkin nangis darah, tapi pasti bisa. Been there, done that. Saya belajar jadi orang yang tidak memusingkan cinta, yakin sudah ada yang mengatur, yang akan memberi yang terbaik pada waktunya nanti.

Pernah sekali punya mantan yang jadiannya hanya beberapa saat pasca putus yang sebelumnya. And just like another story, that fragile girl fell into this man. Setelah putus, saya belajar banyak hal bahwa, jangan pernah memulai sebuah hubungan sampai hatimu benar-benar sudah siap memulai kembali, bahwa hati tak akan pernah bisa bohong, dan bahwa waktu selalu bisa membuka semua tabir. 
 
Tapi saya pun, - dan saya yakin juga most of you - pernah juga beberapa kali punya mantan yang setelah dilihat-lihat lagi, hanya bisa membuat saya berpikir "What the hell was I thinking? How could I?" Hahahaha... 

...

Jadi, kalau dibilang putus cinta itu meninggalkan luka, mungkin itu benar. Tapi bisa jadi mereka memberi hikmah dan pembelajaran yang jauh lebih banyak bagi kemajuan kita. Itulah sebabnya saya tak pernah menyesali putus cinta. Meskipun kita tak lagi berada dalam satu bahtera, bukan berarti kita harus bermusuhan, bukan? Jika kita pernah menjadi orang terdekat, kenapa sekarang harus jadi orang jauh dan asing? 

Ada pepatah twitter yang bilang: What begins with “I love you”, doesn't have to end with “I hate you”, just say “Thank you” and “Nice to know you”. Terima kasih untuk semua pembelajaran dan hikmah yang didapat bersama mereka, hingga saat waktunya nanti kita bertemu "the right one", kita sudah jadi orang yang lebih baik. Amiiin :)




PS: And someday someone will walk into your life and make you realize why it never worked-out with anyone else. 

Adik Kecil Bervisi Besar..

 
Meet Nova, my lil' sister. Si adek paling bontot yang kedatangannya mengejutkan kami semua. Saya ingat saya duduk di semester 6 waktu itu, tengah bersantai di kosan, dan nyaris keselek sendok - waktu Evi, adek saya menelepon dan memberitahu bahwa sang nyokap tengah hamil (lagi). Saya bangkit dan bercermin, menyadari bahwa saya berumur 20 tahun dan bertanya-tanya seperti apa rasanya punya adik lagi.

Lalu lahirlah bocah ini ke dunia. Dengan status bungsunya dan kemanjaannya yang segera merebut hati semua. Wajahnya manis dan menggemaskan, sudah pasti lebih cute dibanding kakak-kakaknya yang dekil itu. Suaranya cempreng memekakkan telinga, yang dijadikannya senjata untuk mengadukan orang-orang yang mengganggunya. Hobinya menangis dan berteriak. Manjanya bukan kepalang. Adik kecil ini sepertinya sadar betul potensi anak bungsu, dan bisa memanfaatkannya dengan baik untuk mendapat hal-hal yang dia inginkan. Hahaha...

She is sooooo irresistible!

Tapi dibalik kemanjaannya yang kadang-kadang bikin saya kepengen mengiris nadi, rumah kami akhirnya jadi semarak kembali. Meskipun tiap hari adegannya tetap saja sama, - sang kakak menjahili si adik, si adik nangis dan mengadu, gantian si kakak dimarahi bokap nyokap. Si kecil ini selalu berhasil bikin kami mengurut dada, tapi di saat yang sama juga sayang dan gemas bukan kepalang.

Kini, dia tumbuh, begitu cepatnya! Saya yang hanya pulang ke rumah setahun sekali dua kali ini, selalu takjub melihat betapa cepatnya seorang bayi lucu bertransformasi menjadi gadis kecil yang ceria. Ia kini tumbuh menjadi anak yang cerdas, kritis, sangat menggemaskan dengan celetukan-celetukan spontannya dan pertanyaan beruntun yang tak habis-habisnya. Tapi yang bikin saya luar biasa kagum, ia punya pemikirannya sendiri yang sangat dewasa yang dihasilkan lewat alur berpikirnya yang lugu dan bersahaja.

Isn's she so cute?

Tumbuh sebagai anak bontot yang kakak pertamanya bekerja di luar pulau, kakak keduanya bekerja di luar kota, kakak ketiganya duduk di bangku SMA dan jadi remaja gaul yang jarang pulang, - praktis si Nova ini jadi satu-satunya yang menemani orang tua kami di rumah. Entah karena pesonanya yang susah ditampik atau memang karena orang tua kami sudah berada di titik dimana mereka sudah jenuh menjadi orang tua yang keras, si Nova benar-benar menjadi anak kesayangan. Setengahnya mungkin karena rasa terima kasih mereka akan hadirnya seseorang yang menemani hari-hari mereka dengan keceriaan yang sudah lama lenyap dari rumah, ikut terbawa anak-anak mereka yang pergi merantau.

Suatu ketika, saya menanyakan cita-citanya, hendak jadi apa besar nanti. Pertanyaan lumrah yang ditanyakan ke anak kecil bukan? Dan saya tidak berharap jawabannya akan jauh-jauh dari sekitar dokter, presiden, astronot, artis, atau pilot. Tapi jawaban adik kecilku ini luar biasa: ingin jadi guru ngaji sambil buka warung di depan rumah. Alasannya pun sederhana, supaya bisa tetap menemani sang ibu agar tak sendirian di rumah.

Saya merasa telak tertampar. Rupanya ia menyaksikan betapa kakak-kakaknya kini sibuk dengan kehidupannya, dan cita-citanya jelas menggambarkan bahwa ia tak ingin seperti kami. Saya tertegun. Sungguh tak sekalipun pernah terlintas di benak untuk mencari pekerjaan yang dekat dari rumah, yang saya pikirkan hanyalah berkarir setinggi-tingginya, mengaktualisasi diri, hidup dengan nyaman dan bercukupan.

Calon ibu guru ngaji kami!

Adik kecil, terima kasih telah membukakan mata kami. Bahwa kebahagiaan tidaklah selalu berbanding lurus dengan kemapanan. Bahwa terkadang bahagia itu bisa didapatkan dengan membahagiakan orang lain. Bahwa membahagiakan orang tua tidaklah melulu dengan uang dan harta, melainkan cukup dengan hal-hal kecil yang justru sering luput dari kita - berada di sisi mereka, mendampingi hari-hari mereka, mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka...


PS: Tumbuhlah, tumbuhlah menjadi gadis yang penuh cinta pada sesama :)






What's Wrong with Us, People?

 
Disclaimer:
Teman sekamar saya tadi bercerita, kemarin malam saat saya sedang tak dirumah, ia menyaksikan hal yang membuatnya shock tak terkira. Tepat di depan rumah kami, seorang wanita nyaris diperkosa pria bertubuh besar yang nampaknya sedang mabuk. Kejadiannya tepat di jalan raya, diantara rumah-rumah yang penghuninya hampir semua berada di dalam. Sang wanita malang berteriak memecah keheningan malam, panjang dan penuh ketakutan. Sekian lamanya ia berteriak, dan nampak tak ada yang keluar. Teman sekamar saya yang shock segera menelepon Security, yang ternyata datang bagaikan pahlawan kesiangan, ketika penjahatnya sudah berniat kabur.


Mengerikan! Yeah, bagi kami para wanita ini mengerikan. Tapi tahukah yang lebih mengerikan? Kenyataan bahwa tak ada satupun yang tergerak hatinya untuk menolong. Kenyataan bahwa nilai humanitas dan moralitas kita, somehow sudah terdegradasi begitu parahnya, nyaris hilang, binasa. Saat rasa takut ternyata mampu mengalahkan rasa kebenaran. Saat ketidakpedulian menyingkirkan nurani.

Apa yang terjadi dengan kita hingga tak lagi punya seonggok benda, yang kata orang anugerah tertinggi seorang manusia,,, hati? What's wrong with us, people?

...

Dan sepertinya, beginilah gambaran sebagian besar manusia jaman ini. Sadar tidak sadar, kemajuan dunia yang begitu pesatnya, teknologi yang begitu canggihnya, membuat kita menarik diri, atau tertarik dari lingkungan sosial kita. Kita, somehow merasa bahwa kita tidak membutuhkan kehadiran orang lain dan tetap merasa nyaman. Media sosial yang tumbuh menjamur membuat kita merasa terhubung dengan orang lain secara virtual. Perlahan tapi pasti, kemanusiaan itu terkikis sampai habis, digantikan apatisme yang tumbuh subur.

Lalu suatu ketika, saat ada seseorang berteriak minta tolong, Anda terlalu malas untuk beranjak dari TV, terlalu sibuk bekerja mengejar deadline, atau terlalu asyik meng-upload foto di facebook. Beberapa menit kemudian saat teriakan tak kunjung hilang, Anda menyadari bahwa there's something wrong, mulai mengintip dari balik jendela, dan menyadari ada seorang wanita malang di seberang jalan yang membutuhkan bantuan. Beberapa dari kita merasa kasihan tapi merasa takut berhadapan dengan pria sangar disana, kasihan tapi hanya bisa melongo dan membatin, atau kasihan tapi terlampau malas ikut campur, atau merasa kasihan tapi merasa tak perduli, atau bahkan tidak merasa kasihan sama sekali... Are you one of them?

And yeah, what's wrong with us, people?

Suddenly remembering this heart-breaking Pulitzer-prize winning photograph :(

PS: Wishing I was there, throwing bloody rocks to that bastard, very badly..

Mereka Yang Panen Pahala Setiap Hari...

  
Dulu, aku ingat pernah mendeskreditkan sang adik yang hendak meneruskan sekolah di Akademi Perawat. Aku paparkan fakta-fakta bahwa perawat adalah profesi yang tak akan berkembang kemana-mana. Setekun apapun bekerja, sepandai apapun belajar, posisinya tak akan pernah melampaui sang dokter. Selamanya hanya akan jadi pihak pelengkap, pelaksana, dan bukannya sang pengambil keputusan. Pendapatan pun tak usah dipungkiri, tidaklah seberapa. Itulah aku, rasional selalu.

Hingga suatu ketika, aku jatuh sakit, demam berdarah dan tipes sekaligus. Betul-betul tak berdaya, hingga (untuk pertama kalinya) butuh bantuan suster untuk mandi dan ke kamar kecil. Baru saat itulah aku menyadari betapa mulianya profesi yang satu ini. 

Pada mereka yang bekerja atas nama kemanusiaan ini, kedudukan dan pendapatan bukanlah opsi signifikan. Dan betapa beruntungnya mereka ini, karena pada setiap usapan lembut dan senyum teduh, mengalir pahala yang tak pernah putus. Pada setiap detik jaga mereka, setiap bel yang berdenting memanggil mereka, mengalir kemuliaan yang tak kunjung henti. Pada setiap curahan kasih untuk merawat sepenuh hati, mengalir terima kasih dan doa dari para pasiennya.

My lil sista :)

Dan aku yakin, beberapa orang memang terlahir untuk mengabdi seperti ini. Some people just was born to do it. Semenjak aku mulai bekerja, aku perlahan menyadari, adalah penting untuk mencintai pekerjaanmu. Jika tidak, carilah pekerjaan yang bisa kau cintai, yang bisa kau lakukan setiap hari dengan segenap hati. Aku sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka yang sungguh tersiksa bangun setiap paginya, menjalani hari dengan pekerjaan yang tak mereka nikmati.

Mungkin adikku salah satu dari mereka yang memang terlahir untuk mengabdi. Mungkin dia salah satu dari mereka yang beruntung bisa panen pahala setiap harinya. Dan sudah seharusnya aku bangga padanya…


PS: Dedicated to all nurses all over the world, yang pahala tak pernah berhenti mengalir untuk mereka :)

Mimpi...




Saya sering bermimpi. Bermacam-macam mimpi... Kadang-kadang saya memimpikan sebuah pulau mungil di tengah hamparan danau hijau dengan jembatan kayu, begitu damainya hingga saya terbangun dengan bahagia. Kadang-kadang saya bermimpi orang tua meninggal dunia setelah kami berselisih hebat, begitu sedihnya saya lalu terbangun dengan air mata bercucuran. Kadang-kadang saya bermimpi dikejar makhluk halus tak berbentuk yang menggapai-gapai dari atap rumah, begitu mengerikannya hingga saya terbangun dengan letih. Kadang-kadang juga saya hanya bermimpi jalan-jalan di pasar dan belanja sayur-mayur , begitu tak pentingnya.

Saya sering bermimpi. Melibatkan beraneka orang... Kadang-kadang teman terdekat. Kadang family dan sanak keluarga. Kadang tetangga. Kadang 0rang yang hanya pernah dijumpai selintas lalu. Kadang-kadang entah siapa. Kadang-kadang manusia jaman prasejarah. Kadang tokoh superhero dalam komik. Kadang makhluk di dimensi berbeda. Kadang hewan peliharaan. Saya bahkan pernah tiba-tiba bermimpi menikah dengan seorang senior masa kuliah yang saya hanya tahu nama dan mukanya, tak pernah bicara dengannya, bahkan tak pernah mengingatnya sedetik pun.

Saya sering bermimpi. Yang unik dan yang abstrak... Saya pernah mengalami empat mimpi sekaligus dalam satu tidur, yang masing-masing berbeda scene, pemeran, dan jalan ceritanya. Saya pernah mimpi indah yang bersambung di mimpi keesokan harinya. Saya juga pernah mimpi bekerja, mengecek konstruksi jalan di antara excavator dan alat berat. Saya kadang mimpi menjadi tokoh dalam karakter DotA, membunuh creep, mengintai hero, sembunyi di hutan dan memanah the Scourge.

Saya sering bermimpi. Yang nyaris selalu terlupa saat esok pagi... Tapi saat saya melintasi sebuah pasar saat tengah berlibur di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, saya sadar saya pernah berada disana,,, dalam mimpi.

Saya sering bermimpi. Yang ternyata punya arti... Suatu hari saya bermimpi gigi tanggal, yang kata orang konon berarti akan ada kenalan yang meninggal. Keesokannya saya langsung mengabsen seisi rumah, dan Alhamdulillah mereka sehat-sehat saja. Keesokan harinya, ayah teman dekat saya meninggal dunia. Di hari yang lain saya bermimpi melihat mantan dalam busana baju koko dan sarung. Esoknya saya sempatkan bertanya apa ia baik-baik saja, dan baru direspon seminggu kemudian, berkata pada hari itu ternyata ia sedang tahlilan 40 hari ibunya meninggal dunia.

Orang bilang, mimpi itu bunga tidur, jadi tak perlu dipikirkan terlalu jauh. Ada juga yang bilang bahwa secara tak terduga mimpi adalah firasat yang disampaikan Ilahi. Beberapa mengatakan, bahwa semua mimpi mempunya tafsirnya masing-masing, dan bahwa selalu ada maksud di baliknya. Ilmuwan mengatakan bahwa mimpi merupakan terjemahan dari pikiran atau kerisauan mendalam. Apapun itu, mimpi mengisi tidur lelap kita dengan sebuah cerita hingga ia tak lagi membosankan.


Dan saya selalu bertanya, mimpi apa saya malam ini? :)


Bisnis vs Nurani

  
       
Penembakan terjadi lagi. Di tempat kami. Kali ini sadis setengah mati sampai kami bergidik ngeri. Bayangkan. Seorang karyawan ditembak dan mati di tempat. Yang lainnya sempat melarikan diri, lalu tertangkap, digorok, dan dibakar.

Ini mungkin terdengar wajar seperti berita kriminal yang biasa Anda dengar di berita setiap hari. Tapi tidak demikian, bila yang demikian terjadi di tempat Anda, dengan frekuensi yang naik tajam, tendensi sadisme yang makin mengerikan, dan bahwa itu bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja, termasuk Anda.


...

11 January 2012, kami bertemu dengan sang VP, meminta penjelasan tentang situasi keamanan pada beliau.

Beliau menerangkan tentang gamblang, bahwa semua hal ini terjadi diluar kuasa mereka. Bahwa manajemen telah melakukan hal terbaik yang mereka bisa. Saat mereka berasumsi bahwa penembakan yang terjadi ada hubungannya dengan mogok kerja beberapa waktu lalu, maka mereka akhirnya bersedia menerima para pemogok bekerja kembali. Itu belum lagi berbagai upaya lobbi pemerintah, mendatangkan langsung pembesar perusahaan dari Phoenix, serta ribuan aparat yang dikerahkan ke segala penjuru.

Manajemen kehilangan arah. Tak tahu apa yang dimau para pembunuh berdarah dingin tersebut. Tak ada petunjuk, tak ada motif, tak ada yang mengaku bertanggung jawab.

Sebuah wacana muncul sebagai alternatif: LOCKDOWN. Shutdown semua operasi, dan pulangkan semua karyawan karena keamanan tak lagi kondusif. Tapi markas besar bertitah: Lockdown tak mungkin dilakukan, karena kerugian materilnya terlalu besar.

Dan pilihan itu jatuhlah pada Anda, para karyawan, - kata beliau, untuk tetap tinggal atau pergi, stay or leave.



Jujur, saya kecewa. Kecewa pada perusahaan yang masih saja memikirkan kerugian material saat situasi genting begini. Saat satu-persatu asset terbesarnya berguguran secara mengenaskan, dan semakin banyak anak menangisi bapaknya. Saat kami bekerja dengan was-was dan bertanya-tanya kapan akan jadi giliran kami. Saat berita kematian secara ironis sudah terlalu sering terdengar di telinga, dan kami jadi mati rasa, menangis sesaat lalu menjadi terbiasa.

Dan bila dikatakan kita tak punya pilihan lain, harusnya lockdown justru dilihat sebagai pilihan yang paling memungkinkan. Dan harusnya itu dilakukan bukan atas dasar untuk memberi shock therapy kepada pemerintah atau atas embel-embel lain, melainkan karena memang itulah yang harus dilakukan. Because it’s simply the right thing to do. Ini adalah etika bisnis menyangkut kemanusiaan. Alasan moral, harusnya sudah cukup fundamental dalam situasi seperti ini. There shall be no place for moral or ethical arguments. Ini adalah nyawa manusia yang sedang kita bicarakan, bukan asset, bukan materil, bukan mainan, bukan sekedar mesin penghasil uang mereka.

Saya teringat sebuah inspirasi yang tidak akan pernah saya lupa.
Alkisah, dulu terdapat perusahaan Johnson & Johnson (J&J) yang memproduksi Tylenol. Tahun 1982, tujuh orang diketahui meninggal secara misterius setelah mengkonsumsi Tylenol di Chicago. Setelah diselidiki ternyata Tylenol tersebut diindikasikan mengandung racun sianida.
Meski penyelidikan masih dilakukan guna mengetahui pihak yang bertanggung jawab, J&J segera menarik 31juta botol Tylenol di pasaran dan mengumumkan agar konsumen berhenti mengkonsumsi produk itu hingga pengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama dengan polisi, FBI dan FDA menyelidiki kasus itu, dan berhasil membuktikan bahwa keracunan tersebut disebabkan oleh pihak lain yang memasukkan sianida ke botol-botol Tylenol.
Biaya yang dikeluarkan J&J dalam kasus itu lebih dari 100juta dollar AS, namun karena kesigapan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasil membangun reputasi bagus dan masih dipercaya konsumen hingga kini. Begitu kasus itu terselesaikan, Tylenol kembali diluncurkan di pasaran dengan penutup yang lebih aman dan bahkan menjadi market leader di Amerika Serikat.
Secara jangka panjang filosofi J&J yang meletakkan keselamatan konsumen di atas kepentingan perusahaan akhirnya berbuah menjadi keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.

Karena in the end, melakukan hal yang benar, tak pernah merugikan. Kita mungkin jatuh tertatih dan nyaris binasa sebagai konsekuensi yang harus diterima, tapi pada akhirnya melakukan hal yang benar, adalah selalu benar.



Seandainya manajemen kami punya keberanian sebesar manajemen J&J. Keberanian untuk mengindahkan aspek bisnis, demi nyawa yang bisa diselamatkan. Keberanian untuk menjunjung tinggi etika di atas kerincingan dollar. Keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang benar. Untuk jatuh demi menyelamatkan idealisme. Seperti mereka yang bersedia digebukin karena berkata jujur atau yang bersedia dapat nilai jelek karena enggan menyontek. Keberanian dan nyali besar, sangat besar, yang hanya dimiliki oleh para pemimpin sejati yang tidak menghamba pada uang.

Seandainya…