Rss Feed

Maros: Antara Bukit Karst dan Kupu-kupu



Makassar terus diguyur hujan selama beberapa hari belakangan. Rupanya kami memang datang berlibur di tengah musim penghujan. Sedari pagi menunggu titik-titik air berkurang, akhirnya menjelang siang matahari menggeliat keluar dari peraduan.

Agenda kami hari ini adalah jalan-jalan di dalam kota sahaja. Saya dan Lina kompak berdua memakai kaos hitam putih garis-garis motif zebra. Dengan sepeda motor pinjaman milik yang empunya rumah, kami pun memulai jelajah, perlahan meninggalkan hiruk pikuk Makassar kota, menuju daerah Bantimurung di Bulusaraung. 

Perjalanan ke sana ternyata memakan waktu cukup lama. Kami berdua bahkan tak tahu sama sekali arah jalannya. Tapi apa gunanya dua cewek manis bila tak tahu menggaet orang untuk bertanya. Hahaha. Setelah beberapa kali tersasar karena salah petunjuk arah, akhirnya kami sampai juga, di depan sebuah gapura berhias patung kupu-kupu dan monyet raksasa. Kami sudah tiba!

photo by @eva_bachtiar
Dari gerbang rupanya kami masih harus masuk beberapa ratus meter lagi. Kami menemukan sebuah sekolah di dalam kompleks ini, tapi sesudahnya jalanan menjadi lengang dan sepi. Akhirnya kami temukan sebuah loket masuk, dan di sanalah kami menepi. Tapi aneh, loket ini tak ada yang menjagai. Kami berdua celingak celinguk mencari, tapi tak satu pun batang hidung muncul depan kami.

photo by @eva_bachtiar
Di belakang loket itu kami melihat anak tangga menanjak. Ah kami nekat saja beranjak. Anak tangga itu mengantar kami dari antara rimbunan semak-semak sampai di tengah hutan yang mulai basah dan pekat. Hampir sepanjang jalan kami terpukau pada banyaknya kaki seribu besar-besar menggeliat. Sementara tak henti-henti kami pasang mata mencari kupu-kupu sambil mendongak.

photo by @linapw
Konon, Bantimurung adalah kerajaannya kupu-kupu yang beraneka rupa. Setidaknya begitulah yang kami dengar dari berita. Tapi yang kami jumpai disini nihil nyaris tak ada. Hanya ada beberapa kepak sayap lewat sekali dua. Apakah mereka bersembunyi ataukah mereka tlah punah?

Setelah cukup lama kaki mendaki, kami lalu bertemu tebing-tebing tinggi yang berjejer kanan kiri. Keringat mulai deras membasahi dan akhirnya di sebuah gua kami berhenti. Gua Baharuddin namanya, seperti tertera di plang kecil di sisi. Entah siapa pula pria ini, mungkin orang penting di tanah Sulawesi.

photo by @linapw
Saya dan Lina tak perlu dikomando untuk segera masuk ke dalam. Memang kami dua wanita dengan rasa penasaran yang terlampau tinggi kadang. Guanya menurut saya mengesankan. Gua kapur dengan langit-langit tinggi dan embun air yang bertetesan. Sayangnya semakin ke dalam gua semakin gelap hingga tak lagi memungkinkan dilanjutkan. Belum lagi kami berdua hanya menggunakan sandal jepit, nyaris tak ada persiapan. Padahal lantai gua semakin licin, semakin tak aman.

photo by @linapw
Kami lalu kembali turun ke bawah dan dicegat seorang pria. Rupanya beliau adalah pak penjaga yang kecolongan dua gadis masuk wilayahnya seenaknya. Tapi tenang saja, ia tak marah. Ia justru membawa kami ke tempat penangkaran kupu-kupu serupa tenda beratap jaring kawat sederhana. Di sana kami lalu ditunjukkan pada beberapa jenis kupu-kupu yang terbang rendah. Katanya, di musim hujan begini, memang kupu-kupu yang muncul tak banyak jumlahnya. Hahaha, pantas saja. Rupanya salah musim kami berkunjung ke sana!

photo by @eva_bachtiar
Dari tempat penangkaran kami dibawa melihat ke laboratorium. Jangan keburu kagum, disana kami bukan hendak praktikum. Kami ditunjukkan oleh seorang petugas pada beraneka ragam spesies kupu-kupu, serta ditunjukkan proses perkembangbiakannya dari telur, ulat, hingga jadi kepompong yang lucu. Jika beruntung, kalian bisa menyaksikan transformasi langsung dari kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya malu-malu. Dari sana kami juga baru tahu, bahwa rupanya TN Bantimurung ternyata cukup luas dan punya banyak destinasi seru. Ada air terjun, caving, pemandian, camping, sampai hiking.

photo by @linapw

Dari tempat hunting kupu-kupu (yang tak berkupu-kupu), kami lanjut masuk ke komplek Kawasan Wisata Alam Bantimurung yang jaraknya tak jauh. Pertama kali masuk ke sana, kami sudah disuguhi pemandangan memilukan, ribuan kupu-kupu awetan dijajakan sepanjang jalan. Tak heran kalau jumlah mereka berkurang signifikan!


photo by @eva_bachtiar
photo by @eva_bachtiar
Jalan sedikit lagi, kami bertemu Kolam Jamala. Alkisah dari kolam ini, air mengalir sepanjang masa, keluar dari dalam gua yang merupakan sungai bawah tanah. Kolam ini juga merupakan tempat mandi bidadari katanya, bisa menyembuhkan penyakit manusia, dan membuat enteng jodoh bagi yang mandi di sana. Mungkin saya harus coba, supaya peruntungan jodoh berubah! Hahaha.

photo by @linapw
Beberapa ratus meter dari Kolam Jamala kita sudah bisa melihat aliran dari air terjun Bantimurung. Menarik melihat air ini dialirkan sedemikian rupa dan dibuatkan semacam wahana air sederhana dengan seluncuran pendek di mana-mana. Beberapa anak nampak ramai main air dengan ceria.

photo by @eva_bachtiar
Kami teruskan mendaki, maka sampailah kami di bagian hulu. Entah karena hujan melulu, air terjun mengalir sangat deras dan agak keruh. Sementara itu, nampak ban-ban karet disewakan untuk pengunjung yang hendak meluncur dari hulu, dihanyutkan aliran air melewati lintasan yang cukup jauh. Sepertinya seru!

photo by @eva_bachtiar
Air terjun Bantimurung nampak eksotis karena diapit batu-batu dan rindang dedaunan. Di sisi sebelah kiri terdapat walkway bersemen untuk pejalan, lengkap dengan tempat duduk santainya yang nyaman, juga anak tangga mendaki menuju bagian puncak air terjun di kejauhan. Di sisi sebelah kanan didominasi oleh batu-batu tempat keluarga dan teman-teman berpiknik menggelar karpet dan makanan. Secara keseluruhan, tempat berlibur keluarga yang menyenangkan.

photo by @eva-bachtiar
Oia, di dalam kompleks ini juga terdapat Museum Kupu-kupu yang menyimpan 133 spesies kupu-kupu awetan. Tapi berhubung kami sudah singgah di laboratorium yang koleksinya tak kalah lumayan, dan untuk masuk ternyata ada karcis tambahan, niat masuk museum akhirnya kami urungkan. Hidup mental perhitungan! :D  

Puas bersantai di Bantimurung, perjalanan kami lanjutkan. Kali ini mengarah ke destinasi Rammang-rammang. Syahdan, daerah ini tak kalah cantiknya dari Halong Bay yang termashyur di Thailand. Untuk pergi ke daerah ini, daerah Maros harus kami lewati. Maros, buat saya adalah salah satu desa favorit. Saya sangat menikmati perjalanan naik sepeda motor berdua sahabat karib, membelah desa Maros di jalanannya yang sempit, dengan hamparan sawah serba hijau di kanan kiri mengapit, satu dua rumah sederhana dan binar mata ramah penduduk dari balik bilik, lalu seolah-olah semua keindahan itu dipagari kokoh oleh bukit-bukit, karst hitam yang gagah menjulang menantang langit. Ahh, indahnya menggigit!

photo by @eva_bachtiar
Surprisingly, tak banyak penduduk lokal yang tahu tentang Rammang-Rammang ini. Aneh sekali! Kami harus menjelaskan dengan rinci, bahwa itu-loh-Rammang-rammang-yang-kita-bisa-naik-perahu-melewati-batu-batu-karst-tinggi. Nihil, mereka masih kebingungan setengah mati. Tapi finally, dari sekian banyak orang yang kami tanyai, ada juga yang akhirnya bisa menunjukkan jalan kepada kami.

Dermaga Rammang-rammang ternyata berada di tepi jalan raya. Kami menitipkan motor pada sebuah warung kaki lima di seberang jalan dengan ongkos 5 ribu saja. Dari jalan raya, dermaga Rammang-rammang letaknya agak menjorok ke bawah, dan dari atas sini pemandangannya luar biasa indah. Seperti potongan-potongan surga yang disebar Tuhan di muka bumi-Nya.

photo by @linapw
Di dermaga, sudah menunggu pak Siama, dengan seorang anak laki-laki yang menemaninya dan kapal-kecil-satu-motor-nya. Sebelumnya kami sudah membuat janji untuk menyewa kapal beliau siang ini. Kala itu hanya 2 kapal yang beroperasi. Kapal lain berisi pasangan yang sedang sesi pre-wedding di lokasi, lengkap dengan fotografer mereka yang jumpalitan di kapal satu lagi. Pre-wedding di tempat seindah ini, tentu tak heran kami!

photo by @linapw

Tanpa banyak bicara, kami pun meloncat ke kapal dan berangkat segera! Pak Siama berada paling belakang mengendalikan motor kapalnya, saya dan Lina duduk berhadapan di tengah, dan sang anak lelaki duduk paling depan di haluan dengan heroiknya. Karena ukuran kapal yang kecil, kami tidak diperbolehkan pak Siama untuk banyak bergerak, apalagi kalau mau koprol dan joget-joget centil. Padahal saya ingin sekali duduk di haluan kapal merasakan angin semilir. Ah hidup ini gak adil!

photo by @linapw
Tak butuh waktu lama, kapal kami telah meluncur pelan membelah perairan. Rasanya romantis, kawan. Bila saja pak Siama bersedia menyanyi, mungkin rasanya akan persis naik perahu Venezia di luar negeri. Hihihi. Di sini batu karst masih jadi daya tarik utama. Bukan main, bongkah-bongkah besar karst terserak di mana-mana. Sebagian setengah muncul setengah tenggelam di perairan dengan perkasa, yang lain menyeruak akar bakau dengan gagah, dan ada pula yang menjelma dinding-dinding karst yang mempesona.

photo by @linapw
photo by @eva_bachtiar

Di beberapa titik, sungai jadi menyempit, dan kita harus menyibak tirai dedaunan sedikit. Sementara di beberapa lokasi, tampak rumah-rumah tradisional penduduk yang masih sangat asli, dengan ibu-ibu di pinggir sungai menyambung aktivitas hari-hari. Lalu sebelum kami tiba di spot tujuan, kami melewati semacam gerbang yang hanya memungkinkan satu kapal kecil jalan. Gerbang ini rupanya merupakan batuan besar bukan kepalang, yang mengapit di kiri kanan dengan langit-langit batu menggantung rendah yang mengagumkan!

photo by @linapw
photo by @eva_bachtiar

Akhirnya kami sampai di sebuah hamparan daratan, di mana sepanjang mata memandang hanya ada barisan bukit karst hitam seperti pengawal yang tinggi menjulang. Di tengah hamparan ini terdapat sebuah kolam dengan bebek-bebek lucu megal-megol berenang. Hanya ada satu dua gubuk papan dan beberapa petak sawah nampak dari kejauhan. Di sini rasanya sungguh tenang, jauh dari hingar-bingar dan keramaian. Hanya angin berdesing ringan, bebek berkicau pelan, dan air bergemericik lamban. Menyenangkan.

photo by @linapw
Sayangnya kami tak bisa lama-lama di sini karena langit tak lagi putih, sementara masih ada satu spot lagi yang hendak kami datangi. Pak Siama segera mengarahkan kapal yang kami tumpangi menuju hamparan ladang yang lain lagi. Pesonanya masih batu-batu karst hitam yang seperti ditumpah-hamburkan Tuhan di tengah-tengah kolam, dengan bentuk unik-unik nian dan ukuran bermacam-macam. Ketika kami akhirnya pulang, langit pun tlah mendung bukan kepalang dan awan menggantung hitam.

photo by @eva_bachtiar
photo by @linapw
Dengan diantarnya kami kembali ke dermaga dalam keadaan bahagia dan tak lecet satu pun jua, maka berakhir pulalah petualangan kami bersama pak Siama. Beliau ini memang tak banyak bicara, tapi ia baik hati melayani semua komentar kami berdua, yang kadang kelewat banyak tanya. Semoga penggiat wisata berbasis masyarakat lokal seperti ini bisa terus bertahan di tanah Indonesia. Sehat terus pak Siama!

photo by @eva_bachtiar
Beranjak keluar dari dermaga Rammang-rammang, hari tlah beranjak gelap, tapi saya dan Lina masih terpikat dengan karst-karst lain di kawasan Maros yang katanya cukup dashyat. Akhirnya kami sepakat, ngider-ngider dengan sepeda motor, dengan bersemangat mencari sebuah gapura bertuliskan Maros Kawasan Karst. Masuklah kami ke jalan lorong dan terus masuk ke dalam dimana di sepanjang jalan kami masih dihibur dengan karst berbondong-bondong. Karst disini memang letaknya tak terkonsentrasi, banyak tapi tersebar sepotong-sepotong. Persis permata hitam yang disebar Tuhan dengan super random.

photo by @linapw
Nah, yang ini adalah lokasi favorit saya tentu. Padang rumput hijau yang permai dan teduh. Rumput ini entah kenapa nampak miring ke satu arah, entah angin meniupnya, entah tumbuh seperti itulah memang adanya. Tapi bentuknya yang demikian rupa jadi mencipta ilusi seolah nyata, tempat tidur hijau maha luas yang seperti mengundang jiwa untuk berbaring istirahat di sana. Lalu di bagian belakangnya, potongan-potongan batu karst berderet gagah membuat saya langsung teringat pada Stone Age yang termashyur di dunia!

photo by @linapw
photo by @linapw
Dari Maros, senja sudah mulai temaram, sudah waktunya kami untuk pamitan. Konon kata ibu, tidaklah baik anak gadis keluyuran setelah maghrib datang. Terima kasih Makassar (dan Maros) yang telah memberi begitu banyak suguhan. Kini mari kita pulang, kita harus berbenah untuk persiapan esok menjelajah sudut lain Sulawesi Selatan! 


Tonggak Raksasa


Diciptakanlah tonggak-tonggak mini itu sedari
kecilku, entah untuk apa
Setiap pagi mataku terbuka tepat di sebelah
tonggak-tonggak yang tumbuh tinggi ke udara

Membesarlah tonggak-tonggak yang dulu mini itu di kala
remajaku, entah untuk apa
Terkuras tenaga sampai lelah, saat kupanjat ia
… terlampau licin, berduri pula!

Di suatu siang umur tujuh belas
Aku, menyelinap, atas nama, skenario cerdas,
Kugenggam erat dunia hingga tangan terasa kebas
Beginikah rupa menjadi bebas?

Sekali waktu, dua tiga lompatan, empat lima
Waktu memang pentasbih segala
Haleluya!
Semua yang terbang jauh akhirnya harus pulang ke rumah

Aku mengayuh payah susah kembali ke sana
… olehnya ku disapa
Tonggak-tonggak menjulang raksasa
lengannya perkasa, menghimpit hingga remuk dada



Sangatta, 11 Apr 2015

Stop Kekerasan di Sekolah


click to enlarge :)

Menyebar Orang Baik



 

Waktu-waktu di kala kembali dari penempatan adalah bisa jadi waktu tergalau seorang PM. Ada banyak pandangan-pandangan yang tercerahkan, lebih banyak lagi harapan-harapan, asumsi-asumsi tak terkonfirmasikan, dan sedikit kecemasan.

Maka betapa bersyukurnya kami, ketika pak Anies, di sela waktu sibuknya sebagai Menteri Pendidikan, menyempatkan diri untuk berdiri di depan kami dan berbagi. Salah satu sosok yang paling saya hormati ini sebetulnya tak panjang memberi materi, tapi saya merasa menemukan pencerahan diri luar dalam. Dan agar ia tak sia-sia dan menguap, izinkanlah saya membaginya.

***

Yang pertama yang pak Anies garisbawahi adalah, rasa “bermanfaat” itu adiktif. Sekali merasakan menjadi pengajar di daerah terpencil, maka kebutuhan untuk memberi dan berkontribusi untuk Indonesia itu akan selalu ada. Sekali merasakan realitas akar rumput Indonesia, maka semangat light-a-candle-instead-of-cursing-the-darkness itu tidak akan pernah sirna.

Sampai penjelasan ini, saya hanya mengulum senyum.

Yang kedua, konon, ada 3 sektor pekerjaan di negeri ini: sektor Private yang meliputi perusahaan, korporasi, dan aneka bisnis; sektor Government yang merupakan sektor pemerintahan; dan sektor Public yang terdiri dari warga sipil, NGO, dan sebagainya. Saat ini, sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar, kami bisa dibilang berkecimpung di sektor yang ketiga.


Seringkali, setelah pulang dari penempatan, PM terjebak dengan kenikmatan berkecimpung di sektor ketiga. Banyak yang bahkan akhirnya berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan di jalur ini. Tapi, satu hal yang perlu disadari, sudah cukup banyak orang baik di sektor ketiga. Di area inilah, orang-orang baik berkumpul. Faktanya bahkan di Indonesia, kehadiran NGO semakin menjamur, hingga jumlahnya mencapai 65 ribu per April 2013 (sumber disini).

Nah, yang menarik dan seringkali luput kita sadari adalah, Indonesia sebenarnya membutuhkan lebih banyak orang baik di 2 sektor lainnya, Private dan Government. Jangan salah, kedua sektor ini justru sebenarnya adalah area yang paling berpengaruh dan menentukan kehidupan masyarakat Indonesia. Sektor Private adalah pondasi perekonomian negara, sementara siapa lagi yang membuat public policy dan mengatur kehidupan bernegara kalau bukan sektor Government?

Pak Anies mencontohkan, dulu mungkin Gerakan Indonesia Mengajar tak akan bisa berjalan jikalau tidak ada dukungan dari bu Felia Salim, Wakil Dirut BNI yang langsung menyetujui untuk menjadi salah satu pendukung utama pendanaan gerakan ini. Kenapa bu Felia tertarik, mungkin salah satunya karena rupanya dulu pun beliau pernah mengajar di pedalaman Papua (lihat profil lengkapnya disini).

 See? Orang baik di sektor Private dan Government adalah batu permata yang perlu diperbanyak jumlahnya. Karena seperti semua NGO dan sektor publik lain, sumber dananya pun pada akhirnya berasal dari korporasi.

Sampai sini, saya mulai mengerutkan kening dan manggut-manggut.

Garisbawah yang ketiga adalah, to be honest, menjadi PM adalah hidup yang – terlepas dari jungkirbalik dan tantangan di pelosok – boleh dikata gemerlap. We are on that spotlight. Dipuja dan dielu-elukan. Maka janganlah terjebak dengan kenikmatan hiruk-pikuk itu. Kita harus berani, bersiap, dan bersedia, untuk mulai berjuang di sektor yang sunyi. Sektor yang barangkali tak terlihat, tapi nyata berkontribusi.

Sampai di sini, saya membelalak, mengamini dalam hati.


Maka, jadilah bagian dari himpunan irisan itu. Bergabunglah dalam sedikit dari orang di area yang diarsir itu. Jadilah pekerja di sektor Private yang punya wawasan dan kecintaan pada Indonesia, agar kebijakannya berpihak pada hajat hidup orang banyak. Jadilah bagian dari Government yang pernah memahami realitas kehidupan akar rumput rakyat. Pahami moto kita: world class competence, grassroot understanding, sebagai penghayatan hakiki akan makna mengabdi.

Dan demikianlah, cukup satu sesi singkat ini sahaja untuk mengobrak-abrik rencana hidup dan menjungkirbalikkan perspektif.

Mari menyebar orang baik!



Slipi, 5 Januari 2015
~ Siap bermakna di sektor sunyi
 

Antar Aku ke Samalona*

*lyric Imanez: Samalona

Selamat Datang di Samalona!   (photo by @linapw)

Perjalanan saya ke Makassar kali ini diawali sebuah kesialan. Tapi ah, tak ada yang namanya sial dalam istilah perjalanan. Ia selalu nikmat dalam konteks dan situasi apa pun. Bukan begitu?

Dengan niat awal menghemat tiket pesawat Luwuk-Makassar  yang kala itu pasarannya begitu mencekik leher, sekitar 1,2 juta padahal cuma numpang duduk gak sampai dua jam doang – akhirnya saya memutar otak. Backpacker kere pasti banyak akalnya.

Akhirnya ketemulah rute alternatif, Luwuk-Palu via travel 16 jam yang ongkosnya 200rb, lalu lanjut Palu-Makassar via pesawat 1 jam dan kebetulan lagi hoki dapat promo Garuda 400rb. Meskipun waktu tempuh jadi berkali-kali lipat, tapi paling tidak dompet bisa bernafas sedikit lah.

Sayangnya, di jalan darat menuju Palu, rupanya sedang ada perbaikan di Kebun Kopi. Ini nama salah satu lokasi di jalur trans Sulawesi yang baru saja longsor. Jalan rayanya tepat di sebelah tebing kapur yang rawan erosi, sementara sisi satunya langsung berhadapan dengan jurang menganga. Nyetir di sana kayak jalan di sirotul mustaqim, lalai sedikit saja, sudah bisa dipastikan mobil meluncur dan wassalam.

Karena di Kebun Kopi sedang buka tutup jalan inilah, mobil harus terhenti selama hampir sejam. Walhasil, sampai di bandara, pesawat sudah berangkat dengan indahnya, meninggalkan satu anak gadis yang menatap hampa di loket keberangkatan.

Akhirnya, dengan mempertimbangkan kemungkinan saya diculik alien kalau kelamaan ngejogrok di bandara, saya terpaksa membeli tiket pesawat susulan, yaaaaang harganya ternyata 1 juta! Deyyym, ini niat mau menghemat malah jatuhnya lebih boros ya, haha *nangis garuk-garuk pasir*. Tapi tidak masalah, saya toh akhirnya bisa menginjakkan kaki di Poso dan Palu untuk pertama kalinya. Mari diniatkan untuk menyempatkan diri main ke sini lagi kapan-kapan.

Sampai di Makassar, saya langsung menjumpai Lina, my best travelmate, yang sudah janjian di Borong Raya. Malam itu kami menginap di rumah saudara jauhnya pacarnya teman saya *nahloooo*. Memang yang namanya backpacker kere itu ada saja yang rela nebengin *sujud syukur*.

Rencana kami sudah bulat, besok akan menjelajah Samalona. Sebenarnya sudah lama ingin ke Samalona, apalagi waktu jalan-jalan ke Losari tempo dulu yang harus diurungkan karena waktu mepet mengejar pesawat ke Wakatobi. Senangnya akhirnya sekarang kesampaian juga!

Pagi-pagi esoknya, dengan formasi Power Rangers, kami berangkat ke dermaga penyeberangan. Di sepanjang jalan menuju dermaga, terhamparlah duren-duren cantik yang dipajang di pinggir jalan, yang menggoda mata, hati, dan pikiran anak-anak. Akhirnya, daripada nanti kemimpi-mimpi di pulau di tengah laut tak berduren *halah*, kami pun membeli memboyong serenteng.


Yes, ini duren semua! Hahaha...   (photo by @eva_bachtiar)

Samalona adalah pulau cantik di seberang Makassar yang sering disebut-sebut beberapa musisi dalam lagunya. Ada lagu Samalona dari Imanez yang terkenal dan pernah dicover Rocket Rockers, lagu rap nasionalis Pandji Pragiwaksono di Lagu Melayu, bahkan ada juga band reggae yang namanya Samalona. 

Untuk menuju kesana dibutuhkan setengah jam penyeberangan menggunakan kapal carteran, beberapa teman baik untuk gila-gilaan bersama, uang secukupnya, dan tentunya stok energi untuk bersenang-senang!

Umumnya kapal dicarter sekalian untuk mengantar pergi dan pulang (pp). Nanti tinggal janjian sama abangnya mau dijemput hari apa dan jam berapa. Sebenarnya kapasitas kapal bisa menampung lebih dari 5 orang, tapi karena jadwal pulangnya bisa beda-beda, jadi memang biasanya sistem sewanya per kelompok.

Kami juga sempat pengen nebeng di kapal seorang eksmud yang nampak cuma bepergian sendirian ke Samalona, biar patungannya bisa lebih murah gitoohh. Niatnya kan baik, supaya kakak eksmudnya ada teman ngobrol di jalan, hehe. Tapi beliau menolak dengan halus, entah karena takut kami palak di tengah laut atau memang sepertinya beliau memang lagi pengen sendiri ajah *eaaaa*.

Menyeberang ke Samalona terasa singkat. Angin laut rasanya baru sekejap meniup rambut, rokok rasanya baru sebatang dua batang hinggap di paru-paru, lagu rasanya baru sebait-dua bait dinyanyikan, ehhh udah sampai! Rupaya pulau ini memang tak begitu jauh dari Makassar, tapi jangan salah, suasananya langsung beda terasa.


Let's go, buddy!   (photo by @lampurio)

Sampai di dermaga, matahari sudah naik. Beberapa ibu-ibu dan seorang gadis telah berdiri di sana, sigap menawarkan penginapan dan servis lainnya. Sambil jalan di dermaga, kami melewati sebuah plang yang menyebutkan beberapa nama yang rupanya adalah daftar pemilik Pulau Samalona. Wah, ternyata pulau ini pulau pribadi. Hmmm, interesting. 

Tabik, bapak-bapak pemilik pulau! Numpang icip-icip pulaunya :)   (photo by @eva_bachtiar)

Oleh si ibu kami diajak keliling melihat penginapan. Mostly bentuknya homestay yang harganya agak mahal ternyata. Kisaran 300rb yang paling murah sampai 800rb untuk yang nyaman, biasanya untuk keluarga. Kalian pasti sudah tahu kan kami pilih yang mana? Hahaha. Ya eyyalah, kami pilih yang paling murah. Isinya berupa 2 kamar yang terhubung dengan kasur, meja, dan teras kecil. That’s all. 

Sewalah aku! Hihi.   (photo by @linapw)

Kamar mandi adanya di luar dan dipakai buat umum. Air juga harus ditampung dulu dari bak penampungan air lalu digeret masuk ke kamar mandi. Selama pagi sampai sore air harus dihemat, karena air diambil dengan pompa yang hanya bisa menyala setelah genset dinyalakan ketika maghrib.

___

Sampai sana, kami langsung ke acara inti, yaituuuuuu santai-santai! Hahaha. Duduk di teras belakang yang menghadap langsung ke laut, keluarkan domino, snack dan duren – sempurna! Puas main kartu, kami memasang portable hammock di antara 2 pohon di belakang penginapan. Saya dan Lina betah duduk berdua diayun-ayun angin disana, ngobrol berjam-jam, memandang laut, dan catch up peristiwa hidup selama 2 bulan tak bertemu *begitulah*.


What a good day!   (photo by @lampurio)

Setelah puas bersantai, tibalah waktunya untuk mengeksplor pulau. Rupanya pulau Samalona sama sekali tidak luas, bahkan bisa dikitari dalam waktu beberapa menit saja. Kami telah menyewa perlengkapan snorkeling, masih oleh ibu yang sama. Tapi baru beberapa menit nyemplung, hujan deras turun mengguyur. Akhirnya niat snorkeling gagal, dan kami lanjut berenang-berenang lucu dibawah hujan sajaaa.


The fabulous Samalona...   (photo by @eva_bachtiar)

Tapi berenang lucu ini pun jadi tidak lucu karena selama kami berenang rupanya kepiting-kepiting genit dengan kurang-ajarnya ingin ikut berenang bersama kami. Itulah yang namanya pesona, kepiting aja takluk dibuatnya kan *uhuuuuk*. Ada kali, 6 kepiting mencapit-capit, sukses membuat pria-pria brewokan ini pun jejeritan dengan cantiknya. Ahahaha.

Puas berenang dan dicolekin kepiting, kami lalu singgah di dapur sebuah rumah yang konon dengar-dengar menjual pisang goreng. Gorengan pun langsung diolah saat itu juga. Kayaknya sih si ibu kasihan melihat muka-muka kelaperan kami yang ngejogrok bersusun di pintu dapurnya, dengan tatapan kosong dan iler menetes. Begitu pisangnya jadi, hanya dalam waktu beberapa detik saja, pisang goreng rica hangat ibu yang maknyus sudah berpindah tempat ke perut-perut rakus.
  
Kami lalu kembali ke penginapan. Kali ini agendanya adalah foto-foto dan menikmati sunset. Sayangnya mendung masih menggelayut sepanjang siang hingga sore, sehingga foto-foto pun nampak kelabu. Tapi yang paling bikin kami mengelus dada *yang pasti yang dielus dada sendiri yah, hehehe* adalah karena banyak sekali sampah yang kami jumpai.


Ulala!   (photo by @lampurio)

Tumpukan sampah nampak menggunung di sana-sini, betul-betul merusak pemandangan. Kami bahkan melihat langsung orang lokal sini membuang sampah satu kardus langsung ke laut. Oh my! Kalau begini ceritanya, tak lama lagi Samalona hanya akan tinggal nama, tak menarik apalagi mempesona. Hmmm…

Rupanya kami telah berada di spot yang tepat, karena di belakang penginapan adalah lokasi yang pas untuk menikmati sunset. Sunset turun dengan malu-malu kali ini, meninggalkan semburat merah yang berlangsung cukup lama. Kami pun hanya duduk di sana, beralaskan pasir putih, menikmati senja menutup hari.


Sunset ala Samalona.   (photo by @linapw)

Setelah puas menyaksikan sunset eksotis lalu sukses teringat pedihnya hidup *eaaaaa*, nungguin ember penuh sambil antri sama penghuni kamar lain, lalu mandi dengan penuh perjuangan pake senter hape soalnya di kamar mandi gak ada lampu, akhirnya saya pun keluar dari kamar mandi dengan cantik dan bercahaya bak putri salju turun dari kereta labu.

___

Malamnya saya dan Lina lalu berburu makan malam. Jadi, di pulau sini memang tidak ada warung makan, kalau lapar sistemnya minta dimasakin sama ibu-ibu di rumah sekitar. Uniknya, ternyata satu pulau ini bersaudara semua.

Jadi cara menjaga bisnisnya tetap fair adalah sistem take-take-an gitu. Satu kelompok tamu biasanya dipegang sama satu orang, mulai dari penginapan, makan, sewa alat snorkel, dll. Jadi nih, misalnya kita nginap di ibu Anu, tapi kepengen makan di ibu Una, biasanya bu Una akan menolak dengan halus. Istilahnya, kami ini sudah jatah rezekinya ibu Anu. Begituuu.

Nah, kami lalu diantarkan menemui seorang bapak yang punya keramba di laut. Langsung deh, si bapak nyemplung ke laut, menarik kerambanya, dan menunjukkan pada kami ikan-ikan di dalamnya untuk dipilih. Yang bikin sedih, di dalam keramba itu ada seekor hiu unyu yang terperangkap, nampak siap menghadapi ajalnya dan berakhir di perut orang-orang yang belum sadar tentang konservasi hiu.

Kami sempat nyeletuk, wah pak, gak boleh nih ikan hiu dimakan, bahaya dan dilindungi juga. Eh bapaknya bilang, banyak kok yang suka. Jengjeeeeng. Bodohnya, waktu saya menulis catatan ini baru kepikiran, kenapa waktu itu gak kami beli aja hiunya trus kami lepas ke laut yaa? Ah, emang suka lemot juga nih saya *menyesal*.

Anyway, akhirnya kami memilih beberapa ikan. Selang setengah jam kemudian, ikan bakar plus sayur tumis plus sambal dabu-dabu plus nasi sebakul pun datang. Ikan segar memang gak ada bandingannya, nikmat kali puuun. Apalagi makannya sambil rebutan sama pria-pria gahar bernafsu makan kuli bangunan. Sampai ikannya kandas pun kami masih asyik menghisap-hisap tulang ikan, hihihi.

Puas, wangi, dan kenyang, kini kami siap menikmati malam. Kami geser dipan kayu besar ke tengah hamparan pasir pantai, kami pungut ranting kering dan beberapa potong kayu bakar yang terserak, kami buat api unggun kecil yang menghangatkan suasana, kami jalan mengitari pulau dan memalak gitar yang dibawa sekelompok anak sekolah *ehem, yang ini jangan ditiru yah*, kami boyong bantal dan sarung dari kamar keluar, lalu disanalah, kami berbaring menatap bintang malam, tak banyak bicara dan lebih memilih diam menikmati suasana, buka botol hangatkan perut sedikit, sementara pria-pria bergitar dan menyanyi lagu batak roaming mendayu-dayu yang entah apa artinya. 


Antar aku (lagi) ke Samalona...   (photo by @lampurio)

Malam itu kami tidur diiringi lagu Payung Teduh dari speaker kecil, gaung suara kipas yang mati otomatis pukul 6 pagi ketika genset dimatikan, dan hujan yang turun permai di pagi hari. Esoknya kami hanya jalan-jalan menikmati pulau sebelum kapal datang menjemput, pulang, tentunya siap menjelajah bagian Makassar lain lagi esok hari!


Merantau untuk Pulang



Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air me
njadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan..
(Imam Syafii)

photo from https://recyclearea.wordpress.com/


Ada banyak pikiran dan ide-ide yang berkecamuk di kepala bila tiba waktunya bagi saya untuk mulai memikirkan, hendak kemana kau pergi setelah pulang bertugas di penempatan, hei Eva? Terbersit hasrat untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, terpikir pula hendak kembali ke tempat kerja yang setia menawarkan posisi, juga tak menampik keinginan untuk terus berkiprah di dunia social movement seperti saat ini.

Ya, penempatan selama setahun lamanya memang telah mengubah semuanya. Betul-betul semuanya. Kini aku tak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk negeri. Tujuan hidup bukan lagi untuk memperkaya diri, tapi untuk berbakti dan mengabdi. Aku tak lagi pusing pada hal-hal sepele menyangkut pribadi, tapi mencari sesuatu yang lebih hakiki.

Tapi satu hal mengganggu pikiranku.

Selama setahun kemarin itu pula sebenarnya aku banyak merenung. Dalam rangka mencapai tujuan peningkatan mutu pendidikan – yang menjadi alasan saya ditempatkan beribu mil jauhnya dari rumah, di desa sudah sewajarnya saya berusaha menyentuh sebanyak-banyaknya lapisan masyarakat untuk diberdayakan. Itu berarti, interaksi dengan stakeholder, tidaklah terhitung banyaknya, dan susahnya. Tak sedikit stakeholder yang benar-benar menguji iman, membuat saya menggerutu, menjungkirbalikkan mood seketika, hingga yang membuat saya tak sanggup bersuara dan hanya mengelus dada.

Ya, atas nama sebuah tujuan jangka panjang yang lebih besar, memang pada akhirnya saya lebih banyak mengalah. Menyediakan dua kuping selebar-lebarnya, dibanding hanya bercerita. Mendengar keluh kesah orang tak habis-habisnya, dan menelan sendiri rasa kecewa.

Lalu saya seketika bertanya, kalau pada dinas, pejabat, pemuka agama, pemangku adat, dan tokoh masyarakat saya mampu mengesampingkan ego dan selalu tersenyum, lalu bagaimana pada orangtuaku sendiri? Rasanya saya sejak dulu adalah anak yang selalu mau didengar. Kalau pada stakeholder daerah ini saya mau mencoba menunduk lebih dalam dan menyelami sudut pandang mereka, lalu mengapa tak pernah hal serupa saya lakukan pada orangtua? Kalau pada orang-orang ini saya selalu bisa tabah, maka mengapa pada orangtua sendiri saya seringkali habis kesabaran?

Lalu hal lain mengganggu lagi pikiranku.

Kala itu siang menyengat tepat sehari sebelum lebaran. Aku yang tinggal bersama bapak dan ibu piara sudah bangun sedari pagi untuk menumbuk rempah. Aku membantu ibu piara masak besar sementara bapak piara bertugas untuk memotong ayam dan segala tugas kelaki-lakian. Seharian kami bahu membahu dan banyak bercerita dan tertawa-tawa. Rasanya seperti berada di tengah keluarga sendiri – kecuali fakta bahwa akhir-akhir ini aku justru hampir tak pernah hadir di tengah keluarga sendiri.

Kalau di keluarga angkat, aku selalu siap sedia menyingsingkan lengan, lalu mengapa di rumah sendiri seperti majikan? Kalau aku selalu menemani ibu angkat bercerita, lalu mengapa aku hampir tak pernah punya waktu untuk sekedar mendengar ocehan ibu kandungku sendiri? Kalau aku sangat peduli pada kesehatan bapak angkatku, kenapa aku sering luput pada sakitnya bapak kandungku? Kalau aku selalu siap menemani adik angkatku bermain, lalu kenapa aku sering merasa terusik bila diganggu adik kandungku sendiri?

Ya, rasanya miris.

Maka setelah setahun yang penuh dengan pembelajaran, sekian ribu tapak langkah yang penuh perjuangan, aku memutuskan untuk pulang. Ke rumah.

Pulang dan mencium tangan mamak. Pulang dan mencium kening bapak.
Pulang dan menemani mamak memasak. Pulang dan mendengarkan celoteh bapak.
Pulang dan meresapi.


Merantaulah, agar kamu tau bagaimana rasanya dan kemana kau harus pulang.
Merantaulah, engkau akan mengerti alasan mengapa kau harus kembali.
Merantaulah, akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya,
pada kampung halamanmu, pada mereka yang kau tinggalkan.
- Imam Syafii -



Moilong, 11 Januari 2014
Tiba-tiba disadarkan, berapa banyak waktu yang kupunya untuk membahagiakan orangtua?