Rss Feed

Selamat Tinggal, Zona Nyaman!




Baru saja saya mengganti status okupasi di laman Facebook. Dan tertegun saya cukup lama saat mengetik tanggal terakhir saya bekerja sebagai seorang underground mine engineer di sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas, tempat saya banyak belajar selama hampir 6 tahun terakhir – untuk menjadi seorang Pengajar Muda.

Banyak orang yang heran dan menanyakan keputusan saya ini. Meninggalkan kemapanan. Menampik tawaran dari atasan yang mencoba menahan. Meninggalkan karier menjanjikan. Hey, are you sure about this?

Dan  hey, yes I am. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa. It just felt right. Saya bahkan tidak berpikir panjang saat memutuskannya. Saya bahkan tidak merasa ini adalah pengorbanan sama sekali.

Cerita ini dimulai lama sekali, 4 tahun lalu tepatnya, saat saya pertama kali jatuh cinta pada program Indonesia Mengajar. Tapi saat itu kondisinya simply tidak memungkinkan, saya punya 2 adik yang harus dibiayai kuliah. Jadi saya lanjut bekerja.

Sampai bertahun-tahun berlalu, saya terjebak dalam zona nyaman itu. Zona dimana saya sempat merasa saya sudah cukup mengaktualisasi diri, dengan bayaran yang menjanjikan pula. Dan mimpi itu pun terdampar entah kemana. Mimpi itu berangsur pudar, nyaris tak berbekas. Saya terperangkap dalam rutinitas.

Sampai sebuah campur tangan Tuhan membuat saya menonton film 5cm. Film itu berkata, Biarkan keyakinanmu, 5cm mengambang di depan keningmu, dan sehabis itu yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa. Dan yah, ucapan itu seperti mengorek kembali mimpi yang sempat terkubur. Seperti menegur. 

Pulang dari situ pikiran ini tak kunjung sirna. Hingga suatu pagi saya terbangun dan dengan pikiran jernih yang belum terkontaminasi tetek bengek pekerjaan, saya membuat deal dengan diri sendiri. Mari kejar lagi mimpi itu, sudah terlalu lama ia membeku. 

Dan saya menyusun strategi. Satu tahun lamanya saya menabung, cukup hingga kedua adik bisa lulus kuliah tanpa kesusahan. Saya menahan diri untuk tidak travelling dan bahkan berhenti diving. Saya mencari dua rekan kerja yang saya persiapkan untuk mengganti posisi saya di perusahaan. Intinya, saya siap lahir batin untuk maju ke medan tempur. 

Tapi jangan kira keputusan ini bukannya tanpa aral. Berjam-jam saya habiskan bercucuran air mata untuk meyakinkan orang tua. Bagi mereka, konsep pengabdian adalah hal yang absurd, yang entah ada di dimensi dunia sebelah mana. 

Melepaskan pekerjaan yang sangat saya cintai juga cukup berat. Tapi seperti yang saya bilang, tekad itu sudah bulat. Banyak rekan kerja yang menganggap saya gila, saat saya justru merasa sangat waras. 

Ya, saya memang meninggalkan banyak hal. Tapi saya juga yakin saya akan mendapatkan lebih banyak lagi hal yang jauh lebih berharga. Mendapat kesempatan untuk membangun pondasi hidup sebagian kecil anak bangsa di pelosok negeri, sungguh suatu kehormatan buat saya. 

Farewell kantor, will surely miss ya' all guys :)

Jadi, selamat tinggal zona nyaman! :) 


Gadis Kece Goes to Amrik – episod Selamat dari Imigrasi Maut!



Petualangan kami di negeri paman Sam akhirnya dimulai di Bali. Disini saya bergabung dengan rekan-rekan lain, antara lain si pak Bos Australia yang kekar, muda, tapi udah gak single lagi – teteuuuup yah. Apa lagi kali ini doi membawa serta istri dan dua anaknya yang masih kecil, berarti tertutup sudah peluang buat ngecengin beliau. Haha. Rekan kedua sama-sama wanita manis yang sama-sama terjebak di duniatambang yang keras, jendral! Bedanya, saya masih berwujud wanita, kalau dia ini sudah mulai-mulai berevolusi jadi setengah pria. Hihi. Ampun Wid..


Dari Bali kami bertolak ke Taipei. Perjalanannya sendiri makan waktu 5,5 jam. Yang bikin business trip jadi indah adalah karena kami dapat jatah tiket Business Class untuk long flight dan bahkan First Class untuk short flight. Boook, coba kapan lagi naik pesawat Business Class kalau gak dibayarin begini? – edisi kere.


Coba tebak kami naik pesawat apa? Eva Air, sodara-sodara! Sekali lagi, E-V-A air! Hahaha, emang susah punya nama kece yah, sampai ada maskapai penerbangan yang meniru-niru nama saya. Nikmatnya duduk di Business Class, tentu saja seat nya yang super nyamaaan. Kursinya empuk, dan semua bagiannya bisa diselonjorin maksimal sampai posisi horizontal sempurna buat bobo. Trus kita sampai dikasih make-up bag yang isinya sikat gigi, moisturizer, dan sandal bulu unyu.


Belum lagi koleksi filmnya yang oke-oke dan up to date. Semua film-film baru yang belum sempat saya tonton tersedia semua. Saking excited-nya sampai semua film dicobain. Tapi ternyata, oh ternyata, semua filmnya cuma menyediakan subtitle Chinese dan bahasa kanji. Bayangkan, film bagus tanpa subtitle English itu, bagaikan sayur tanpa garam. Hambar, kawan! Gagal sudah nonton The Hobbit dan Life of Pi. Akhirnya saya malah nonton film-film asing semacam Prancis dan sebagainya yang menyediakan subtitle English L


Dan, mimpi buruk yang saya takutkan pun kejadian juga. Dua kali meal disuguhkan, saya gak bisa makan sama sekali, pemirsa. Akhirnya cuma makan buah dan air putih banyak-banyak. Untung sebelum boarding tadi sudah disempat-sempatin makan nasi campur Bali, jadi paling enggak, masih bisa ngebayangin enaknya makan nasi lah. Huhuhu.


Dan tibalah kami di Taipei! Di sini kami punya waktu untuk transit selama 4 jam. Bandara Taipei itu besar, saudara-saudara! Sayangnya gak terlalu user-friendly. Sign-nya kurang informatif, dan petugasnya pun sebagian besar can barely speak English. Kami sebenarnya dapat jatah transit lounge, tapi kami pikir, kenapa harus stay di lounge kalau bisa jalan-jalan putar-putar bandara! Tul gak tul gak..


Bandara Taipei punya banyak toko-toko barang branded yang sudah tidak asing lagi. Juga banyak toko coklat dan wine. Saya dan Widi menghabiskan waktu paling lama (dan duit paling banyak) di toko souvenir. Ada banyak barang-barang lucu (dan mahal) yang rasanya pengen diborong semuanya. Untungnya bisa dibayar dengan USD. Kami baru ngeh kalau ternyata uang kembaliannya dalam NTD (New Taiwan Dollar, mata uang Taiwan – red) setelah kami di pesawat berikutnya, dan langsung menyumpah-nyumpah si mas-mas kasir dalam hati.


Di luar dugaan, di sepanjang lorong ruang tunggu bandara, ada buanyaaak sekali orang Indonesia. Kenapa saya tahu mereka orang Indonesia? Karena ada yang mukanya mas-mas Jawa banget, ada yang mukanya kotak-kotak kayak opung-opung Batak banget, intinya muka orang Indonesia itu khas. Dan tentu saja saya tahu mereka orang Indonesia karena mereka ngobrol dengan bahasa Indonesia, ehehe.


Saudara-saudara saya ini, tersebar di seluruh pojok bandara, udah semacam ikan asin lagi dijemur. Masalahnya, mereka ini bukannya duduk manis di ruang tunggu, tapi malah jongkok dan ngejogrok di jalan-jalan. Persisss, kaki lima dalam bandara. Kami menganalisa, mereka ini adalah saudara kami penyumbang devisa negara alias para TKI. Takjub juga, ternyata jumlahnya sebanyak itu.


Setelah melihat mereka ini, baru Widi dan saya nyadar, pantesan dari tadi kami sering dicuekin sama penjaga toko-toko bandara, mungkin dikira TKI juga kayak yang lain. Yah mau gimana lagi bro, ini muka pembokat mah sudah bawaan lahir kaleee. Hihi.


Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kali ini dari Taipei ke Los Angeles. Inilah perjalanan yang sebenarnya, medan tempur yang sejatinya, saudara-saudara! Gak tanggung-tanggung, perjalanannya akan makan waktu 14 jam. Doa saya cuma tiga: selamat sampai tujuan, film di pesawat ada subtitle English-nya, dan pantat saya sebagai aset terbesar yang sudah saya asuransikan ini jangan sampai kempes, eaaaaaaa..


Kali ini kami ganti pesawat ke China Airways. Tempat duduknya lebih nyaman, lebih ergonomis kalau menurut saya. Begitu duduk, ternyata tanpa ba-bi-bu saya langsung semaput. Begitu bangun, langsung nonton film marathon. Saya mulai kelaparan, di pesawat hanya makan buah dan kue-kue. Widi memanfaatkan kesempatan dengan memesan wine sesukanya, hihi.


Oia, satu hal yang saya perhatikan baik di Eva dan China Airways adalah pramugari pesawatnya yang buaiiiik banget. Pramugari maskapai Indonesia juga baik sih, tapi mereka ini beneran baik kuadrat deh. Gak ada tuh yang namanya penumpang meletakkan barangnya di kabin sendiri, sang pramugari langsung sigap mengambil alih. Setiap beberapa menit mengecek penumpang, menanyakan you need something? Kalau melihat ada penumpang yang baru bangun langsung dicek, apa lapar, mau dibawakan makanan, blablabla. Pokoknya servisnya top markotop! Saya sampai terharu, emak saya saja kayaknya gak seperhatian ini ke saya – edisi anak kurang kasih sayang.


Selain film-film cihuy (yang teteeeeup gak ada subtitle English-nya), di pesawat ini juga ada layanan-layanan canggih macam layanan sms dari pesawat yang bayarnya pakai kartu kredit, dan belanja-belanji dari katalog yang juga bayarnya pakai kartu kredit. Di sini pramugarinya sampai bawa-bawa alat gesek kartu kredit itu kemana-mana, hihi. Entahlah memang dunia yang sudah sedemikian canggihnya, atau memang sayanya aja yang katrok.


Selama flight panjang ini, window di pesawat tak pernah sekalipun dibuka. Ternyata tujuannya adalah supaya penumpangnya gak menyadari perubahan waktu. Logikanya kan, kalau kami mulai terbang malam hari, dengan perjalanan 14 jam, kami akan tiba siang hari. Ternyata begitu sampai, di LA juga masih malam.


Sampai di LA, kami masih harus melalui serangkaian proses imigrasi yang ribet. Intinya, orang Amrik itu sangat hati-hati dalam menyaring orang-orang yang mau masuk ke negaranya. Dan prosesnya kadang-kadang yaahhh, sangat subjektif karena sangat mengandalkan outer look. Apalagi semenjak tragedi 9/11. Yang muka-muka Arab misalnya, atau yang berjanggut, jangan harap lolos dari investigasi panjang mereka. Jadi kalau orang bilang Amrik itu negara demokrat, mungkin gak sepenuhnya benar. Mereka toh terbukti masih sering stereotyping.


Entah kenapa, saya pun jadi gugup. Mungkin karena merasa orang Asia. Mungkin juga karena saya Muslim, jadi takut dipersulit. Di antrian saya ada dua petugas imigrasi, keduanya sudah agak berumur, mungkin sekitar 50-an. Yang satu nampak ramah tapi yang satu kelihatan sangar. Saya komat-kamit berdoa semoga dapat bapak yang ramah, tapi takdir jua yang membawa saya ke si bapak sangar.


Imigrasi : Ifa Bakehciar? (Eva Bachtiar maksutnyeeehh)
Saya : Yes, I am.
Where are you from?
Indonesia, sir.
Where do you get your visa?
Jakarta.
But you wrote Timika, here. (menatap tajam-tajam)
That’s, urmmm where I got my passport, sir. (lutut langsung lemas)
What I asked is, where do you get your visa, not your passport. (sembari mencoret dan merevisi dokumen saya)
Apologies, sir. (mata mulai berair)
So this is your first time coming to US?
Yes, sir.
Ahaha, no wonder. You look so nervous. (mulai senyum)
Do I? (muka bego)
It’s not like I’m going to bite you. Relax.
Haha. Copy that. (senyum takut-takut).
And what are you going to do in here?
I’m coming to a quarterly forecast meeting in Phoenix, sir.
I see. What do you do? (mulai tertarik nih si bapak kayaknya)
I’m a mining engineer, sir.
Really?? You?? Mining engineer?? (nada gak percaya)
What’s wrong with me? (mulai relax gituh ceritanya).
No no no. In what kind of mine?
Chopper and gold.
Imigrasi : Waow. You must be rich! I happened to look for a rich lady! (mata berbinar-binar matre)
… (speechless)
Wanna go out sometime? (mulai usaha)
I don’t date man your age. (jual mahal nihyee ceritanya)
Well, you know, they said age is just a number. (sambil benerin poni dan pasang tampang genit)
… (speechless se-speechless-speechless-nya)
Ahaha. Okay. You enjoy your trip, dear.
I will, thank you sir! J J


Yah demikianlah interview imigrasi yang tidak berjalan seperti yang saya kira. Sebodolah, yang penting lolos dari imigrasi maut, hihi. Tunggu cerita selanjutnyaaa!


PS: You might want to read previous adventure in Gadis Kece Goes to Amrik - episod Mengurus Visa!

Palsu

 
 
 
Saya mungkin bukan orang pertama yang mengalami ini. Diremehkan. Dan bukan karena tidak capable, tapi karena sekedar penampilan. Atau itu bukan hanya “sekedar”?


Saya sendiri termasuk yang tidak terlalu ambil pusing soal penampilan. Yang penting nyaman dan saya bahagia. That simple. Terlihat cantik itu nomor dua puluh tiga. Terlihat seperti orang berkelas apalagi. Bahkan tak pernah terpikir buat saya. 

Sayangnya kita hidup di dunia dimana kesan pertama menentukan segalanya. Dimana penampilan luar mencerminkan nilai diri kita. Dimana baju yang dipakai menunjukkan kelas kita. 

Hal ini saya rasa paling mengganggu khususnya di dunia jasa. Saya kurang paham persisnya kenapa, tapi mungkin para pekerja jasa itu dibiasakan untuk memperlakukan orang sebagaimana penampakan luarnya. 

Akhirnya, saya tak pernah nyaman belanja di mal-mal kelas wahid. Alasannya, karena saya benci sekali diberi pandangan dari-ujung-kaki-hingga-ujung-rambut-mencoba-menaksir-daya-beli-pengunjung oleh pramuniaga di sana.

Beberapa teman kantor cerita, mereka dipandang sebelah mata oleh petugas bank yang menanggapi mereka dengan setengah hati, hanya karena datang ke bank dengan kaos oblong dan sandal jepit. Padahal mereka ini miliuner-miliuner muda. 

Kalau saya boleh bilang, mereka ini sudah menyinggung atau bahkan telah kehilangan calon-calon customer potensial mereka – yang kebetulan hanya tak suka bersolek. Kasihan.

Tapi saya juga punya teman. Wanita muda bersemangat berhati mulia yang punya banyak anak asuh, yang tak pernah ambil pusing soal pakaian yang dikenakannya. Sederhana, kalau tidak bisa dibilang seadanya. Tapi dia inilah pemilik rumah besar tempat kos saya di Bandung. Ohya, dia juga anak menteri.

Belum termasuk teman-teman saya yang selalu mengaku anak kampung, dekil, berlogat Jawa medok. Mereka ini pemenang olimpiade fisika, pemegang beasiswa Nanyang University, dengan masa depan yang cerahnya tak perlu diragukan lagi. 

Nah, kalau ke Bandung, Jakarta, atau kota besar lainnya pasti pernah juga bertemu orang semacam ini. Pakai jas dasi rambut klimis, tapi sebenarnya pelayan restoran. Gagah perkasa dengan CRV model terbaru, yang sebenarnya punya majikannya. 

We live in such artificial world. What makes it even worse, artificial people..

Kita hidup di dunia yang serba palsu, bung!

Jadi, jangan percaya pada apa yang Anda lihat. Mata bisa membuat kita tersesat. Pandangan mata tak bisa melihat apa yang ada di balik sekedar kulit. Baju hanyalah kain, make-up hanyalah riasan, aksesoris hanyalah alat, parfum hanyalah pemanis. Jangan membuat kita masuk ke golongan orang-orang yang bisa ditipu oleh barang kecil tersebut. 

Karena saya yakin, seperti kata Julie Baker di Flipped, people can be greater than the sum of their parts, or can be less.

You choose. 



PS: You  might want to read Judgement & Prejudice

Gadis Kece Goes to Amrik – episod Mengurus Visa!



Cerita di bawah ini bukanlah drama, bukan pula episode sinetron. Kejadian berikut, adalah kisah nyata yang ditulis oleh anak alay yang hobinya nonton Dashyat sambil joget-joget lalala-yeyeye-lalala-yeyeye.

Pada suatu hari, seorang gadis manis nan imut dan kece yang bekerja di perusahaan tambang, dikejutkan oleh kedatangan bosnya si bule Australi yang ganteng, masih muda, berbadan kekar, tapi sayang sudah gak single lagi – eitss salah fokus.
 
Si bos lalu bertanya: “Kamu sudah punya visa Amrik?”. Saya jawab “Gak punya bos.” Si bos lalu bertanya lagi: “Tapi kamu punya paspor?”. Saya jawab lagi, “Gak punya juga bos.” Si bos pun dengan pantang menyerah bertanya lagi: “Tapi kalau nomor telpon, punya kaaaan?”. Saya langsung pingsan.
 
Singkat kata singkat cerita, si bos ini menunjuk saya untuk ikut proses quarterly forecast di headquarter kami di Phoenix, Arizona, US. Business tripnya sendiri akan makan waktu sekitar 1,5 minggu. Waktu pertama diberitahu, bukannya semangat, saya malah lemas.
 
Pertama, karena sejak dulu saya bercita-cita pengen keliling seluruh Indonesia dulu, sebelum nanti ke luar negeri.
 
Alasan kedua, jangan bilang siapa-siapa yah. Ini sungguh alasan ajaib bin katrok bin udik bin kampungan. Saya sebenarnya takut di Amrik sono nanti gak bisa makan apa-apa. Bukaaan, bukan eating disorder ala model-model kerempeng itu. Ini eating disorder yang lebih parah lagi: saya gak bisa makan makanan bule.
 
Boro-boro makan steak dan kawan-kawannya – keju, sosis, mash potato, cream soup saja saya gak bisa makan. Perut saya cuma familiar sama ayam goreng, sayur lodeh, kerupuk, ikan asin, sambal terasi, dan sejenisnya. Lagipula, perut didikan enyak saya ini harus disupply nasi terus, tiga kali sehari.
 
Tapi gak mungkin kan, saya bilang ke beliau kalau saya menolak business trip ke US karena saya takut kurus? Mau ditaruh dimana dong muka saya yang kece ini kalau saya terus terang – saya butuh nasi buat tetap hidup? Belum lagi pesona si bos yang bikin saya kejang-kejang gak sanggup bilang apa-apa. Akhirnya, here I am, mengantri aplikasi visa bersama ratusan orang lainnya di depan Gedung Kedutaan Amrik di Tugu Tani, Jakarta.
 
Mengurus visa itu, jujur saja, frustating. Buat saya yang gak biasa mengurus dokumen dan tetek bengeknya (bahkan KTP dan SIM saya saja diurusin bokap gara-gara keseringan berantem sama petugas), saya jadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya, seperti pungguk yang merindukan bulan, bagai menebar garam ke laut, – maaf, keterusan.
 
Satu-satunya hiburan ya, mau gak mau, cari pemandangan segar. Kali-kali saja bisa ketemu mas-mas kece berjambang yang paspornya jatuh, trus saya ambilin, trus kita kenalan, trus trus truuus – imajinasi terlalu liar.
 
Tapi sepertinya semua cowok ganteng sedang gak ada yang ditakdirkan Tuhan untuk mengurus visa hari itu. Jadi akhirnya saya cuma bisa duduk manis dan menunggu sambil manyun. Dalam hati masih berharap, kalaupun gak ada pemohon visa yang ganteng, semoga petugasnya banyak yang ganteng – teteuuuup.
 
Satu kejadian lucu waktu lagi mengantri dengan bosannya. Di sebelah saya ada mbak-mbak manis yang sepertinya mau memperpanjang visa. Di tangannya ada segepok buku paspor. Mata saya seketika tertuju pada sebuah paspor berwarna pink. Apakah ini paspor jenis baru? Atau mungkin memang sayanya saja yang kurang gaul. Maklum, baru pertama kali ke luar negeri.
 
Akhirnya karena penasaran teramat sangat dan dengan sok-sokan membuka obrolan biar gak bosan, saya pun bertanya nyerocos dengan semangat 45, “Mbak, saya baru tahu loh ada paspor pink. Saya kira paspor itu cuma ada warna hijau sama merah. Paspor pink itu paspor buat apa ya?”. Si mbak itu termenung sejenak, menatap wajah saya, lalu melihat saya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan takjub – memang begitu reaksi normal kalau melihat orang kece. Lalu dengan suara tertahan si mbaknya bilang, “Ini cuma cover paspornya kok yang warna pink.”
 
Guhbraaakkk! Dasar anak katroook, saya baru tahu kalau paspor juga punya cover-cover edisi warna-warni gitu yah. Rasanya kayak mau langsung gali kuburan di taman dekat situ dan gak muncul-muncul lagi. Setelah itu, saya memilih untuk mengantri tanpa buka suara sama sekali. Hihi.
 
Akhirnya setelah menunggu hingga tengah hari, tiba juga waktunya untuk interview visa, bagian yang paling menentukan. Dan jauh dari bayangan saya akan interview one-on-one yang ideal, di ruangan tertutup sambil duduk di sofa, ternyata interview visa cuma dilakukan di depan counter. Pakai mic dan pengeras suara pula, jadi kita bisa mendengar dengan jelas interview orang yang antriannya di depan kita.
 
Tadinya saya gak gugup sama sekali. Boro-boro gugup, yang ada malah ngantuk dan lapar. Tapi sebuah fragmen interview tepat di depan mata saya langsung bikin saya nervous bukan kepalang.
 
Alkisah, ada seorang ibu dan anak gadisnya kira-kira umur SMA. Waktu ditanya, mau ngapain ke Amrik? Mereka bilang mau jalan-jalan. Tujuannya? Shopping. Mau kemana? New York. Dalam rangka apa? Si anak gadis baru lulus SMA. Lalu dengan ramahnya si mas-mas itu bilang, have fun yah di New York nanti, jangan habiskan uang kalian, katanya. Si ibu dan si anak cuma senyum-senyum girang.
 
Eh, setengah menit kemudian, si mas-mas mengumumkan. Dia bilang: Ladies, dengan sangat menyesal, permohonan visa kalian saya TOLAK. Silakan dicoba lagi nanti. Kontan senyum si ibu dan si anak gadis langsung sirna dan mereka langsung pulang dengan misah-misuh.
 
Ini trik psikologis mas-mas-nya hebat juga yah. Habis diangkat-angkat ke surga, eh tiba-tiba langsung ngebanting ke neraka. Itu padahal si ibu dan si anak gadis cantik dan seksoy loh, nah gimana kabar saya?
 
Akhirnya, tiba giliran saya. Sambil komat-kamit baca surat Yasin, saya maju ke depan dan akhirnya bisa melihat bentuk dan wujud si mas-mas. Ternyata bule India, umur sekitar 28-an, agak judes, muka gahar.
 
Saya coba-coba mengeluarkan jurus cewek kece pertama, yaitu dengan senyum malu-malu sambil blushing-blushing jijay. Eh si mas India malah buang muka.


Saya coba keluarkan jurus kedua, main mata sambil kibas poni. Eh si mas India langsung kejang-kejang gelisah, dan tanpa pikir panjang langsung mengabulkan visa saya. Ah, pesona saya ternyata masih belum lekang dimakan rayap.
…
 
Dan demikianlah. Setelah penantian beberapa hari yang saya habiskan di Bandung, begitu visa oke, saya langsung bertolak ke Bali. Tunggu ceritanya di postingan selanjutnya! :)

 

Pelengkap Kisah



Kamu tahu? Dalam setiap kisah cinta epik yang berakhir indah, selalu ada mereka. Pelengkap kisah, pencinta dengan hati dan pengertian seluas samudera.

Mereka, tempat berlabuh sementara, yang sempat yakin mereka telah bertemu cinta, hingga pada saatnya, begitu hidup menampar mereka dengan realita, mereka mengangkat kepala, dan melepas dengan sukarela.

Tanpa mereka, sang pelengkap kisah, maka ceritera tak lagi sama indahnya, tak lagi manis akhirnya. Mereka bukan tokoh utama, tapi kehadirannya mutlak adanya. Atau kisah itu tak lagi melibatkan petualangan indera, tak lagi luar biasa, tak lagi penuh romansa.

Tapi kamu tahu? Mungkin hanya sedikit sekali dari kita yang bisa melakoninya, secara utuh di dunia nyata. Karena yakinlah, perih rasanya. Perih itu, mungkin juga tak terkira.

Tapi toh mereka harus mengalah. Karena di buku ini mereka bukan sentra cerita. Mereka pelengkap kisah. Ini bukan tentang mereka.

Dan mungkin suatu saat kelak, jika beruntung, sang pelengkap kisah akan menemukan buku lain untuk mereka, dimana mereka bukan lagi pelengkap kisah. Mereka jadi tokoh utama. Percaya, hari itu akan ada.

Karena saya tak bisa. Tak kuasa. Saya menolak menjadi realita. Yang dipilih karena dekat, nyata, dan mencinta. Saya ingin, menjadi absurd, dalam mimpi yang fana, yang didamba.

Dan saya yakin kita akan bersua. Sesama pendongeng tak nyata. Yang mencinta dalam jiwa. Menjadi sepasang pemimpi yang mengarungi dunia. Mungkin bukan di buku ini, mungkin di buku milik kita. Bersama. 



NB: Tengah mempersiapkan hati, bila ternyata kita bukan Kugy. Bila ternyata kita hanya Joshua, Wanda, Luhde, atau Remi. Pun bila nanti demikianlah adanya, maka semoga bisa melepas dengan lapang dada, seperti mereka, sang pelengkap kisah.

Island Hopping di Belitung - Day 5




Selamat pagi Belitung! Pagi ini kami bangun dengan semangat dan bergegas sarapan gak pakai acara tunjuk-tunjukan siapa yang mandi duluan. Kenapa? Karena kami sudah janjian dengan seorang pemilik kapal di Tanjung Kelayang yang akan mengantarkan kami untuuuuuk,,, wait for it,,, island hopping! Jadi kalau dilihat di peta, di bagian utara pulau utama Belitung terdapat banyak pulau-pulau kecil yang kata orang tak kalah indahnya, tak kalah eksotisnya.
 
Si bapak yang jadi guide kami ini ternyata juga buka usaha warung di Tanjung Kelayang yang dikelola oleh istrinya. Jadi pagi-pagi kami sudah berangkat, dan duduk manis di warung beliau. Setelah si bapak melakukan final check di kapalnya, kami yang sekarang sudah jadi berlima dengan formasi Power Rangers segera berubah dan lompat ke kapal!


Kapal si bapak ini adalah kapal jenis klotok sederhana dengan 1 motor yang dicat dominasi warna biru dan diberi nama Laskar Pelangi. Seperti biasa, kalau duduk di kapal, lokasi favorit saya adalah di ujung kapal. Pagi ini langit super cerah dan angin super sejuk berhembus malu-malu menerpa wajah. Laut nampak biru tak bercela seperti mengundang kami untuk nyebur.


Sepanjang perjalanan si bapak banyak bercerita, dan ternyata beliau ini orang yang sangat menyenangkan loh. Beliau adalah orang menakjubkan kedua yang kami temui di Belitung setelah mas Kumbang, orang-orang cerdas di balik kulit mereka yang lusuh, yang bikin kami sadar bahwa orang-orang sungguh tak bisa dinilai hanya dari kulit luarnya. Cateeeeet.
 
Pengetahuannya luas, karena tiap topik yang kita omongin mulai dari fotografi sampai gosip seleb, si bapak ini suka ikutan nimbrung. Selain up-to-date sama hal-hal yang lagi in, si bapak juga lumayan mengerti bahasa Inggris. Nilai plusnya lagi, si bapak nampak sangat berusaha menyenangkan tamunya, sepertinya si bapak ini paham betul konsep customer success. Angkat dua puluh jempol anggota Power Rangers deh buat beliau!

 
Obyek pertama yang menarik mata kami adalah batu burung Garuda yang tersohor itu. Disebut demikian karena sebenarnya hanya berupa batuan yang menumpuk sedemikian rupa hingga dari jauh membentuk figur kepala burung Garuda.

 
Puas memoto sang burung Garuda, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini ke sebuah gosong di tengah laut. Tau gosong kan, semacam gundukan dari pasir di tengah laut yang hanya nampak ke permukaan bila air tidak sedang pasang. Di gosong ini kami menemukan banyak sekali bintang laut unyu yang berserakan di sepanjang pasir.


Kapal melaju kembali dan akhirnya setelah beberapa lama, merapat di pulau Lengkuas. Dari kejauhan sudah nampak bangunan putih menjulang yang tadinya kami kira adalah lengkuas raksasa (kebanyakan nonton pelem monster dubbingan indosiar) yang ternyata merupakan sebuah mercusuar.
 
Di sekeliling pulau Lengkuas juga terdapat batu-batu keren yang sayangnya kalah pamor oleh sang mercusuar. Tepat di depannya terdapat penangkaran penyu, dan kami juga sempat melihat tukik atau anak penyu yang ditangkarkan dalam perahu kecil.
 


Akhirnya, dengan rasa tak sabar kami pun masuk ke dalam mercusuar. Dari papan namanya yang berbahasa Belanda itu sih, konon bangunan ini dibangun tahun 1882. Jadi, kebayang kan suasananya agak horor-horor gimana gitu. Dan benar saja, aroma mistis langsung tercium begitu kami masuk ke lantai dasarnya.
 
Ada sejenis shaft yang berada tepat di tengah bangunan dan tangga melingkar yang melekat di sepanjang dinding mercusuar. Total ada 18 lantai dengan tangga spiral non stop yang harus didaki supaya bisa mencapai level yang paling atas. Dan ternyata kami adalah Power Rangers cupu yang sudah loyo karena baru dilantai 4 kami sudah ngos-ngosan, kaki gemetar, lutut kopong, dan nyaris semaput.


Tapi dengan tekad membara, akhirnya sampai juga kami di lantai puncak. Dan you know what, semua jerih payah melelahkan yang capeknya melebihi pendakian gunung Carstenz itu, segera terbayar dan terlupakan begitu saja begitu kami berada di atas. Di sini ada semacam platform tempat kita bisa duduk dan menyaksikan semua pemandangan di bawah.
 
Batu-batu nampak seperti kelereng yang terserak, perahu nampak seperti mainan kertas, dan laut bagai kain biru mahaluas yang terbentang tanpa batas. Dan dari atas sini, segala hal nampak begitu kecil, begitu jauh, begitu juga semua masalah dan problematika hidup, ceileeehhh. I swear I could sit over there all day long, kalau saja naga kepala sembilan di perut gak menggedor-gedor perut.


Puas menjelajahi pulau Lengkuas, kami melanjutkan kembali perjalanan ke area tak jauh dari pulau Babi. Kapal dijangkarkan disini karena kami akan nyebur dan snorkeling! Overall, underwater view-nya sebenarnya tidak jelek-jelek amat, tapi juga gak wow-wow banget.
 
Setelah snorkel, saya tiba-tiba merasa bersyukur tidak memplanningkan untuk dive di Belitung ini. Jujur, buat saya Belitung is not about the underwater, it is about the beach, gigantic rocks, and Laskar Pelangi. Tapi, lumayanlah buat nyebur, mendinginkan badan, say hi ke ikan-ikan kecil lucu dan bulu babi, serta tak lupa tentunya menyelam sambil pipis, hehehe.

Puas snorkeling, perahu hanya tinggal dijalankan beberapa menit dan sampailah kami di pulau Babi. Pulau dengan pasir putih yang halus, dengan beberapa rumah apung dengan tempat budidaya ikan tepat di seberangnya. Di pulau ini kami singgah sebentar untuk makan siang dan istirahat sejenak. Si bapak mempersilakan kami turun dan menunggu sementara beliau menurunkan bekal makan siang yang sudah dipersiapkan istrinya dari rumah.
 
Rupanya selagi kami snorkeling, si bapak sudah mulai membakar ikan supaya makanan siap tepat ketika kami sampai di pulau. Manajemen waktu yang luar biasa, saudara-saudara sekalian. Kami langsung terkagum-kagum dibuatnya dan langsung sepakat si bapak ini aset berharga kalau kita hire di perusahaan, hehe.

Nah, makan siang sudah siap, ikan bakar fresh from the grill, cah kangkung dengan aroma yang meneteskan air liur, nasi putih, sambal merah dan sambal kecap, cumi goreng tepung, dan sate udang. Disajikan di kala perut keroncongan, di atas pasir putih, bersama kawan-kawan, ditemani angin laut dan pemandangan hamparan laut tenang. Kombinasi dashyat yang bikin semua makanan ludes segera dalam hitungan beberapa menit saja, hehe.

Tak lupa tentunya setelah itu, selonjoran di bawah pohon, meluruskan kaki, merokok, dan tidur siang. Seketika pasir putih adalah kasur terempuk di dunia, semilir angin adalah ninabobo paling merdu yang pernah ada. Aaarrrghhh, surga dunia!

 
Akhirnya meski enggan beranjak, kami melanjutkan kembali perjalanan ke pulau berikutnya. Pulaunya tidak besar, dengan daya tarik utamanya berupa rangkaian batu-batu besar lebar dan pipih, yang dinamai pulau Batu Berlayar. Disini kami singgah tak lain dan tak bukan untuk foto-foto (teteuuup) sampai puas kemudian lanjut lagi ke destinasi berikutnya. 
 
 
Pulau terakhir kami adalah Pulau Burung, yang letaknya di seberang batu burung Garuda. Kalau tadi di awal perjalanan kami melewati burung Garuda dari samping, maka pulau Burung ini tepat di seberang moncong sang burung. Pesonanya, masih massive rocks spread all over the island.

 
Akhirnya, petualangan menyisiri garis pantai utara pulau Belitong berakhirlah sudah. Setelah menghaturkan beribu-ribu terima kasih atas pelayanan si bapak yang beyond expectation dan menyelesaikan urusan hitung-hitungan, kami pamit dan pulang. Sebelum kembali ke hotel kami singgah lagi di pantai Tanjung Tinggi untuk makan malam. Malamnya, kedua pria melewatkan Euro karena langsung semaput begitu menyentuh kasur. 

...

Dan dengan demikian, berakhirlah pula liburan di Belitung kali ini. Esok paginya kami menyempatkan diri membeli souvenir di toko pusat kerajinan KUKM di Pasar Kota Tanjungpandan sebelum terbang siang harinya. Tempatnya luas dan menyediakan semua hal khas Belitung, seperti t-shirt, batu satam, akar bahar, belacan, dll. Saya sendiri beli beberapa kaos, madu putih, dan gelang akar bahar untuk dibawa pulang.

Yang belum ke Belitung, cobalah kesana kapan-kapan kawan. Dijamin tak akan menyesal :)



Note:
1. All pictures copyright Hadi Firdausi, Maidy Putra, dan Eva Bachtiar.

2. Baca juga petualangan hari pertama di Halo Belitung - Day 1, hari kedua di Belitung, Negeri Laskar Pelangi - Day 2, hari ketiga di Belitung, Surga Warung Kopi - Day 3m dan di hari keempat di Belitung, Pesona Batu Raksasa - Day 4.


Belitung, Pesona Batu Raksasa - Day 4



Tak terasa sudah memasuki hari keempat kami di Belitung. Ritme liburan yang santai benar-benar membuai kami si anak hutan yang jarang bertemu pantai ini. Masih terbayang-bayang kenikmatan kopi hitam yang kami minum kemarin di Warung Kopi Ake, akhirnya pagi ini kami kembali lagi kesana dengan menu yang sama. Yup, tentu saja termasuk telor setengah matang yang katanya bisa menambah stamina lelaki itu, hmmm..
 
Yang agak beda kali ini adalah sarapannya. Tersebutlah sebuah warung di Belitung yang namanya sudah tersohor ke penjuru negeri. Namanya Mie Atep Belitung, lokasinya di tepi jalan protokol. Bentuknya mie rebus dengan kuah berbumbu dasar udang, dilengkapi potongan kentang, tahu, daging ayam, dan emping.
 
Konon sudah banyak artis yang kesini, terbukti dari foto-foto seleb yang dipajang di sepanjang dinding warung. Makanya waktu kami makan disini, saya sebenarnya agak-agak bingung, kok pemilik warung gak nawarin saya buat foto bareng yah? *minta digorok

 
Baiklah, perut kenyang, hati senang, mari kita berangkaat!
 
Agenda hari ini adalah ke pantai Tanjung Tinggi, lokasinya tidak jauh dari Tanjung Kelayang, pantai yang masih menawarkan pesona batu-batu raksasa sebagai daya tarik utamanya. Kalau ingat adegan di film Laskar Pelangi, tempat bocah-bocah tersebut berlarian dengan dramatisnya di antara batu-batu keren (dan saya ingat waktu nonton adegan itu, saya bersumpah suatu hari harus melihat sendiri batu-batu itu), disinilah pantai tempat adegan tersebut di-shoot, dan karena itu juga pantai ini di-klaim sebagai pantai Laskar Pelangi.


Tadinya kami sih tidak expect sesuatu yang berbeda dengan pantai-pantai lain, tapi begitu kami sampai disini, it’s just magnificent brader.. Pantai yang keren, pasir putih dan halus, dengan batu-batu menjulang disana-sini, memagari air laut warna biru zamrud yang menenangkan. Batu-batu disini tak terhitung jumlahnya, berserakan dengan pose yang eksotis.
 
Pantai ini juga sepertinya merupakan pantai paling ramai yang kami temui sejauh ini, entah karena reputasinya sebagai pantai Laskar Pelangi, entah karena ini hari Minggu, entah karena pantainya memang pewe buat liburan keluarga, atau karena mereka tahu bakal ada artis yang datang jauh-jauh dari Papua hari ini *ehem ehem *kibas poni.
 
 
Sayangnya oh sayangnya, di batu-batu langka yang tak akan ditemukan di belahan dunia lain inilah, tercoret beraneka tulisan-tulisan norak yang sungguuh tidak sedap dipandang. Masih mending kalau dicoret ala grafiti yang keren gitu yah, ini mah beneran coret-coret gak jelas khas anak baru puber gitu. Sediiiiih rasanya melihat betapa anak-anak muda kita kadang-kadang gak tahu betapa beruntungnya mereka dikaruniai Yang Kuasa surga landscape sebegitu indahnya, dan justru malah merusaknya dengan tangan mereka sendiri *mellow mode ON.

 
Nah, jadi apa acara paling pas buat tiga turis keren di pantai yang cihuii ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah membuka sesi curhat saudara-saudara (ngooook)! Setelah dehidrasi karena terlalu nafsu berfoto-foto, duduklah kami bersantai di bale-bale kayu, di bawah jejeran pohon, dan memesan es kelapa muda segar (yang gak tanggung-tanggung, disajikan si ibu bukan pakai mangkok, bukan pakai gelas, tapi pakai baskom, bujubuneeeng!).
 
Ditemani angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi, mengalirlah curhatan melankolis yang sebaiknya tidak dibocorkan disini karena bakal bikin yang empunya curhatan bunuh diri kalau sampai diungkit-ungkit lagi, haha. Tapi pelajaran pertama yang kami pelajari hari ini adalah cara paling ampuh buat mengorek-ngorek cerita adalah dengan kombinasi pantai yang romantis, es kelapa muda, dan angin laut. Cateeeet.
 
Menjelang senja, saat matahari mulai menggeliat malu-malu dan semua curhatan sudah habis dikorek, kami lalu beranjak ke bagian pantai yang agak ke barat, menjauhi keramaian. Langit dan awan yang sedang bersahabat bikin sunset sore itu super kereen. Semburat merah ungu yang melatarbelakangi pantai dengan perahu-perahu yang ditambatkan. Juara.

  
Malamnya kami pulang ke hotel lalu menjemput dua kawan yang akan bergabung esok, lanjut makan malam sate ayam di warung terdekat. Berhubung kami libur di saat Euro 2012 sedang berlangsung (yang biasanya saya sebodo teuing), dan saya liburan bersama dua penggila bola, dan TV di kamar ternyata hanya menangkap stasiun TV lokal (yang pas acara Euro pakai diacak segala), - maka malam itu kami keliling Tanjung Pendam berburu café yang bikin acara nonton bareng.
 
Akhirnya kami ketemu Café Bunda yang sudah memasang screen besar di tengah café. Beruntung kami datang sejam lebih awal, karena ternyata ketika acara tempatnya benar-benar jadi penuh sesak. Selagi dua pria ini heboh nonton bola, yang saya pikirin sepanjang pertandingan cuma dua hal. Satu, pemain Portugal ganteng-ganteng. Dua, saya bingung kenapa café ini dikasih nama Café Bunda. 
Nah nah nah, segitu dulu catatan si boi hari ini. Besok kita sambung lagi dengan petualangan yang lebih cihuyyy! :)

...


Note:
1. All pictures copyright Hadi Firdausi, Maidy Putra, dan Eva Bachtiar.

2. Baca juga petualangan hari pertama di Halo Belitung - Day 1, hari kedua di Belitung, Negeri Laskar Pelangi - Day 2, dan hari ketiga di Belitung, Surga Warung Kopi - Day 3.