Dari Candi Bima,
perhentian selanjutnya adalah kompleks Telaga Warna. Selagi membayar di gerbang tiket, kami
ditawari guide seharga 30 ribu. Kompleks Telaga Warna memang cukup luas, dan
karena ketika kami sampai sana, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, maka
sepertinya tak apalah sekali-kali menggunakan guide, apalagi guide
ganteng pantang ditolak loh.
Guide kami namanya
pak Tolib. Pak Tolib ini warga asli Dieng, jadi lumayan buat dijadikan sumber
referensi. Sepanjang jalan, pak Tolib banyak bercerita tentang anaknya yang
rupanya salah satu anak gimbal yang tersohor itu.
Jadi, munculnya
anak gimbal di Dieng memang masih misterius, karena setelah umur tertentu
rambut mereka akan mendadak gimbal begitu saja. Rambut ini hanya boleh dipotong
dengan prosesi khusus, salah satunya dengan menuruti permintaan anak tersebut
yang konon, seringkali ajaib. Kalau permintaan itu tidak dituruti, atau
misalnya dalam beberapa kasus memang tidak bisa dituruti, maka seumur hidup
anak itu akan terus berambut gimbal. Kalau rambut mereka dipotong tanpa
menuruti permintaannya, niscaya anaknya akan sakit keras. Menarik yah!
![]() |
photo by klikhotel.com |
Nah pak Tolib ini,
tak diduga tak dinyana, rupanya sangat terobsesi menjadi fotografer. Jadilah
kamera kami dipegangnya sepanjang perjalanan, dan jika beliau mendapati spot
yang oke untuk dipotret, beliau akan langsung dengan sigap menyuruh kami
berpose, dengan arahannya. Yang kegirangan sih si Bayu, doi yang selama ini
fakir foto karena selalu jadi orang di balik kamera, akhirnya dapat kesempatan
buat jadi fotomodel.
Spot pertama
adalah Telaga Warna. Telaga ini unik karena warnanya yang hijau akibat
kandungan belerangnya. Di Telaga ini kami terpaksa harus rela mengikuti arahan
pak Tolib yang menyuruh setengah memaksa kami untuk berpose main air ala
anak-anak ABG. Kami curiga sebenarnya pak Tolib ini terlalu banyak jadi guide
anak-anak alay.
Karena kandungan
belerangnya, di Telaga Warna yang luas ini tak ada kehidupan sama sekali.
Konon, satu-satunya yang bisa hidup di sana hanya burung belibis.
Tepat di sebelah
Telaga Warna ini terdapat Telaga Pengilon. Sebenarnya kedua telaga ini memang
masih berhubungan, tapi anehnya, telaga ini berair tawar dan sudah didiami
aneka ikan dan satwa lainnya. Kira-kira apa penjelasannya ilmiahnya ya?
Oiya, Telaga
Pengilon juga merupakan tempat untuk melakukan prosesi pelarungan rambut anak
gimbal yang sudah dipotong, yang biasanya sekaligus disertai prosesi ruwatan.
Di kompleks Telaga
Warna juga terdapat banyak batu-batu dan gua eksotis. Yang pertama ini namanya
Batu Semar. Katanya sih dinamakan demikian karena bentuknya seperti Semar yang
sedang menunduk. Tapi entah mungkin karena mata saya yang jereng, saya pandangi
seperti apa pun, tak nampaklah itu yang namanya sosok Semar. Mungkin karena di
mata saya, hanya nampak dia seorang. Dududuuu.
Gosip-gosip di
Batu Semar ini adalah, konon orangtua yang berdoa di sini anaknya bisa langsung
membaca. Makanya disebut juga dengan Batu Tulis. Kalau kata pak Tolib, selain
itu filosofi batu ini adalah untuk mengajarkan kita agar tidak pantang
menyerah. Buktinya, pohon-pohon yang hidup di atasnya saja bisa menembus batu,
apalagi … (isi sendiri sajalah).
Turun sedikit dari
Batu Semar, terdapat Gua Semar. Masuk dari pintu yang terkunci itu, terdapat
ruangan seluas 4 m2 yang merupakan tempat bertapanya raja-raja Jawa dan juga
beberapa presiden kita, termasuk Bung Karno dan pak Harto.
Di bagian bawah
gua Semar terdapat gua lain yang katanya dulu merupakan saluran udara untuk gua
Semar. Tapi gua tersebut lalu dijadikan tempat kawin larinya Panji Asmoro
Bangun dan Galuh Candra Kirana di jaman dulu, kala cinta masih suka semena-mena
(eh, sampai sekarang juga masih sih). Semenjak itu guanya menjadi Gua Pengantin
alias Couple Cave. Jadi buat yang jomblo-jomblo yang mau minta jodoh, segeralah
ke gua ini lalu carilah pacar.
Bergeser sedikit
dari Goa Pengantin, ada Goa Sumur. Di dalamnya katanya terdapat mata air jernih
bernama Tirta Prawitasari yang merupakan salah satu dari tujuh mata air
suci umat Hindu. Sayang goanya dikunci dan hanya dibuka saat digunakan
orang Bali untuk upacara Muspe atau Mabakti.
Goa yang terakhir
berada di kompleks ini namanya Goa Jaran, yang legendanya tak kalah absurd.
Konon dulu seekor jaran (kuda) masuk ke gua ini dan keluar sudah dalam keadaan
bunting. Akhirnya dijadikanlah gua ini tempat untuk bersemedi meminta
keturunan.
Hutan-hutan di
sekitar kompleks gua-gua dan telaga-telaga ini juga cakep dan asri loh
(meskipun tetap aneh rasanya mendapati badut-badut Teletubbies sedang salto di
tengah hutan, hehehe).
Jam sudah
menunjukkan pukul 4 sore dan pak Tolib menawarkan spot terakhir, Batu Ratapan
Angin. Terdengar merana sekali nampaknya nama tempat ini. Oleh beliau, kami
diajak melewati jalan tembus melewati hutan-hutan dan setelah sekitar 30 menit
berjalan, sampailah kami di area terbuka di atas perbukitan. Hebatnya, di
puncak yang jauh dari peradaban ini pun kami bertemu warung loh. Maka pisang
raja sebesar telapak tangan pun ludes masuk perut. Tak lupa tempe kemul khas
Dieng yang dimakan dengan cabe raksasa Dieng yang dipetik langsung
dari semak-semak di pinggir jalan. Enak!
Tepat di lokasi
Batu Ratapan Angin ini kami pun speechless dibuatnya. Oh em ji, masih ada
tempat secantik ini rupanya di dunia. Pak Tolib pun langsung beraksi dengan
kameranya sementara kami cuma bisa terpana dan menghela nafas dalam-dalam.
Karena sungguh, salah satu kearifan dari bepergian adalah sensasi merasa kecil
di alam semesta.
Jikalau saja waktu mengizinkan, dan kami tak
harus rela berbagi dengan pengunjung lain yang sama terpesonanya, ingin rasanya
kami duduk di sana sepanjang hari tanpa berkata-kata. Ya, cukup diam dan
meresapi semuanya. Dan aduh, kenapa saya mendadak melankolis begini rupa?
Menjelang maghrib mau tak mau kami harus
pulang juga. Kami masih harus jalan kaki sekitar setengah jam ke penginapan,
dan kebetulan pak Tolib juga pulang ke arah yang sama. Terima kasih pak Tolib
atas pengalaman dan hiburan hari ini. Definitely will recommend him to any of
you who need a pleasant guide in Dieng!
NB: *photos by Eva
Bachtiar dan Sebastian Bayu
- Cerita rute menuju Dieng, penginapan murah meriah, dan dinginnya Dieng yang merasuk jiwa, ada di sini.
- Cerita tentang jalan kaki ke Candi Arjuna, Candi Bima, serta trekking di Kawah Sikidang, boleh ditengok di sini.
- Cerita perjalanan ke kompleks Telaga Warna, Telaga Pengilon, situs-situs unik, Batu Ratapan Angin yang bikin speechless, serta kisah anak rambut gimbal ada di sini.
- Cerita lengkap tentang Gunung Prau mulai dari rute, trek, lika-liku pendakian, sampai kisah camping di suhu -1 derajat, bisa dibaca di sini.
- Cerita tentang sosok inspiratif yang 4 tahun napak tilas Bung Karno keliling Indonesia, jalan-jalan ke Petak Sembilan yang ciamik, Tuk Bimalukar, dan akhirnya harus pulang, ada di sini.
0 comments:
Post a Comment