Rss Feed

Bisnis vs Nurani

  
       
Penembakan terjadi lagi. Di tempat kami. Kali ini sadis setengah mati sampai kami bergidik ngeri. Bayangkan. Seorang karyawan ditembak dan mati di tempat. Yang lainnya sempat melarikan diri, lalu tertangkap, digorok, dan dibakar.

Ini mungkin terdengar wajar seperti berita kriminal yang biasa Anda dengar di berita setiap hari. Tapi tidak demikian, bila yang demikian terjadi di tempat Anda, dengan frekuensi yang naik tajam, tendensi sadisme yang makin mengerikan, dan bahwa itu bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja, termasuk Anda.


...

11 January 2012, kami bertemu dengan sang VP, meminta penjelasan tentang situasi keamanan pada beliau.

Beliau menerangkan tentang gamblang, bahwa semua hal ini terjadi diluar kuasa mereka. Bahwa manajemen telah melakukan hal terbaik yang mereka bisa. Saat mereka berasumsi bahwa penembakan yang terjadi ada hubungannya dengan mogok kerja beberapa waktu lalu, maka mereka akhirnya bersedia menerima para pemogok bekerja kembali. Itu belum lagi berbagai upaya lobbi pemerintah, mendatangkan langsung pembesar perusahaan dari Phoenix, serta ribuan aparat yang dikerahkan ke segala penjuru.

Manajemen kehilangan arah. Tak tahu apa yang dimau para pembunuh berdarah dingin tersebut. Tak ada petunjuk, tak ada motif, tak ada yang mengaku bertanggung jawab.

Sebuah wacana muncul sebagai alternatif: LOCKDOWN. Shutdown semua operasi, dan pulangkan semua karyawan karena keamanan tak lagi kondusif. Tapi markas besar bertitah: Lockdown tak mungkin dilakukan, karena kerugian materilnya terlalu besar.

Dan pilihan itu jatuhlah pada Anda, para karyawan, - kata beliau, untuk tetap tinggal atau pergi, stay or leave.



Jujur, saya kecewa. Kecewa pada perusahaan yang masih saja memikirkan kerugian material saat situasi genting begini. Saat satu-persatu asset terbesarnya berguguran secara mengenaskan, dan semakin banyak anak menangisi bapaknya. Saat kami bekerja dengan was-was dan bertanya-tanya kapan akan jadi giliran kami. Saat berita kematian secara ironis sudah terlalu sering terdengar di telinga, dan kami jadi mati rasa, menangis sesaat lalu menjadi terbiasa.

Dan bila dikatakan kita tak punya pilihan lain, harusnya lockdown justru dilihat sebagai pilihan yang paling memungkinkan. Dan harusnya itu dilakukan bukan atas dasar untuk memberi shock therapy kepada pemerintah atau atas embel-embel lain, melainkan karena memang itulah yang harus dilakukan. Because it’s simply the right thing to do. Ini adalah etika bisnis menyangkut kemanusiaan. Alasan moral, harusnya sudah cukup fundamental dalam situasi seperti ini. There shall be no place for moral or ethical arguments. Ini adalah nyawa manusia yang sedang kita bicarakan, bukan asset, bukan materil, bukan mainan, bukan sekedar mesin penghasil uang mereka.

Saya teringat sebuah inspirasi yang tidak akan pernah saya lupa.
Alkisah, dulu terdapat perusahaan Johnson & Johnson (J&J) yang memproduksi Tylenol. Tahun 1982, tujuh orang diketahui meninggal secara misterius setelah mengkonsumsi Tylenol di Chicago. Setelah diselidiki ternyata Tylenol tersebut diindikasikan mengandung racun sianida.
Meski penyelidikan masih dilakukan guna mengetahui pihak yang bertanggung jawab, J&J segera menarik 31juta botol Tylenol di pasaran dan mengumumkan agar konsumen berhenti mengkonsumsi produk itu hingga pengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama dengan polisi, FBI dan FDA menyelidiki kasus itu, dan berhasil membuktikan bahwa keracunan tersebut disebabkan oleh pihak lain yang memasukkan sianida ke botol-botol Tylenol.
Biaya yang dikeluarkan J&J dalam kasus itu lebih dari 100juta dollar AS, namun karena kesigapan dan tanggung jawab yang mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasil membangun reputasi bagus dan masih dipercaya konsumen hingga kini. Begitu kasus itu terselesaikan, Tylenol kembali diluncurkan di pasaran dengan penutup yang lebih aman dan bahkan menjadi market leader di Amerika Serikat.
Secara jangka panjang filosofi J&J yang meletakkan keselamatan konsumen di atas kepentingan perusahaan akhirnya berbuah menjadi keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan.

Karena in the end, melakukan hal yang benar, tak pernah merugikan. Kita mungkin jatuh tertatih dan nyaris binasa sebagai konsekuensi yang harus diterima, tapi pada akhirnya melakukan hal yang benar, adalah selalu benar.



Seandainya manajemen kami punya keberanian sebesar manajemen J&J. Keberanian untuk mengindahkan aspek bisnis, demi nyawa yang bisa diselamatkan. Keberanian untuk menjunjung tinggi etika di atas kerincingan dollar. Keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang benar. Untuk jatuh demi menyelamatkan idealisme. Seperti mereka yang bersedia digebukin karena berkata jujur atau yang bersedia dapat nilai jelek karena enggan menyontek. Keberanian dan nyali besar, sangat besar, yang hanya dimiliki oleh para pemimpin sejati yang tidak menghamba pada uang.

Seandainya…






18 comments:

Imade Royn said...

Hi Eva salam kenal,
nice blog - terutama untuk tulisan ini!

eve said...

Hai Imade,
thanks! :)

livia said...

Jd rencana lu apa va???tetep atau resign...
Wish u all the best yak :-)

eve said...

Rencana gw adalah tidak berencana apa-apa, lip,, hehehehe...
All the best for you too hey you! :)

Anonymous said...

Sayangnya anda masih memerlukan penghasilan dari perusahaan ini & bisanya hanya "mengomel". Coba tulisan ini dilakukan saat anda tidak di perusahaan tsb. Akan lebih bernyawa tulisan anda.

eve said...

Saya tidak mengomel, this is exactly what I told the CEO and CFO from Phoenix. Justru saya pikir, kalau pikiran seperti ini disuarakan oleh orang yang berada di luar akan lebih tidak bernyawa. Ive been there, kamilah yang paling tahu apa yang tengah terjadi, dan kami juga yang berhak bersuara kan? Cheers :)

dungdangdung said...

cadas komen lo yg terakhir. mengingat ini elo Va, jadi gw percaya :) pasti keren bgt ya kondisinya pas lo ngomong gitu di depan moncong mereka, hehehehe...

time to go lah kalo kata gw. terlalu besar resiko yg ditanggung. ada banyak perusahaan lain yg aman, nyaman, di kota (hihihi), yg pas buat lo.

Yushie said...

keren kali memang temanku yang satu ini. tiap baca kalimat-kalimatmu tuh va, hampir selalu membatin 'ah, ini dia nih bahasa dan kalimat yang tepat untuk menyuarakan isi hati'.
semoga baik-baik saja ya kondisi di sana.
semangat dan sukses, selalu, epa.

eve said...

@ka Gadang:
Iya ka, puas bener abis ngomong gitu depan mereka. Terlalu naiflah kalau mereka expected us to stay silent.

Eniwei, belum menemukan tempat kerja baru dengan gaji okeh tapi dengan roster cuti yang enak buat traveling. Cariin doooong :p

eve said...

@Inyong;
Temen jadi keren karena punya temen yang keren, ya gak ya gak??

Amiiin, doain juga supaya awak ni naik gaji lah biar bisa jalan2 ke Derawan nanti, hehehe..

Eniwei, see ya di cuti Maret nanti ya, sekalian awak ambil kain di Icha..

Imade Royn said...

Hmm.. kamu diver juga yah ternyata? tau gak kira2 orang di site ada berapa orang yang diver? mungkin kita bisa buat semacam diving club TPRA gitu he3
Oiya aku Made kerja untuk RI, di kami ada 3 orang diver lho...

eve said...

Cuman sering diving tapi belum kesampaian ambil license nih.. Di site lumayan banyak kok, banyak yang dive lognya lumayan banyak juga.. Kalau clubnya juga udah ada rencana bikin tuh, yang inisiasi sih dari orang Grasberg. Ntar gw forward emailnya, btw email situ apa ya?

Imade Royn said...

OK forward yah: i_pasek@fmi.com

Imade Royn said...

What, jadi kamu diver ilegal, lol.. cool! well, as soon as aku balik ke site akan join deh.

eve said...

Sudah diforward yah paak!

brianr said...

nice!
*entah kenapa bisa nyasar kesini (lupa wordingnya apa)*

eniwei, pingin ngomentarin dikit...boleh yaa :biggrin:

Perusahaan itu hakikatnya adalah pencari keuntungan, jadi wajar sekali klo kerugian adalah hal yang tidak dapat diterima :)

Kerugian hanya akan dialami oleh perusahaan?, belum tentu...people works for money, if lockdown means employee will not be able to pay the bill (even for a single-short-periode) than I guess it's still far from "win-win solution" and both side will lose. Mungkin sebaliknya, akan banyak yang memilih tetap bekerja dengan resiko yang besar itu..hehe

Perusahaan yang dijadikan contoh itu bergerak dibidang consumer goods, yang mana "hidup-mati" bisnisnya ditentukan dari brand image. Orang2 yang menggunakan produknya secara tidak langsung adalah pengiklan dari mulut-ke-mulut yang sangat efektif, dan mungkin juga karena bayang2 "tuntutan" dari konsumen yang akan tambah memperburuk citra perusahaan, maka mereka rela membuat keputusan seperti itu.

Diluar reputasi "buruk" perusahaan dan lainnya, memberikan jaminan keamanan harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dan saya rasa lockdown tidak akan menyelesaikan masalah secara permanen.

Kenapa gak mengangkat orang asli daerah/dari kalangan serikat pekerja untuk dijadikan pemimpin (utk mengetahui apa yang sebenernya dituntut)?, kenapa gak mengevaluasi kinerja para pimpinan?, knp gak...dll

well, "you don't know what you don't know".. ada banyak solusi untuk menyelesaikan masalah, dan keputusan yang diambil harusnya merepresentasikan berapa banyak mata dan hati yang digunakan untuk melihat secara komprehensif :)

eve said...

Pemaparan yang menarik!

Entahlah, perbedaan tipe antara perusahaan consumer goods dengan mining mungkin memang berpengaruh ke the way they handle the problems. Tapi yang mau saya garisbawahi disini adalah kemauan dan kemampuan perusahaan untuk mengindahkan hal-hal yang erat hubungannya dengan profit, even for awhile, to make sure karyawan2nya berada dalam kondisi yang manusiawi untuk bekerja.

Kalau di mining, penghentian produksi selama beberapa jam saja kerugiannya hitungannya sudah ribuan dollar. Thats why down time ini diminimalisir sekali, sampai kadang2 memaksakan situasi dimana adalah tidak safe, literally, untuk bekerja. Pengupahan karyawan selalu bisa diakali, pada dasarnya kalau memang downtime dititahkan dari manajemen, karyawan tetap bisa mendapat upah kok :)

Anyway, I like the ideas of "you don't know what you don't know". Apalah saya ini, yang hanya seorang kroco, untuk bisa tahu betapa complicatednya proses pengambilan keputusan di top management sana. Manalah pula saya tahu atas dasar asumsi apa keputusan itu diambil. Bisa jadi, bisa jadi, ada hal-hal yang luput saya lihat, atau bisa jadi they look even few steps ahead. We'll never know :)

MasDidik said...

Kadang dalam dunia bisnis orang menyalah artikan,bersikap profesional dengan bersikap berdarah dingin. Dalam bisnis pun perlu nurani.